2 Nasihat Tentang Sifat Manusia Ala Cak Nun

2 Nasihat Tentang Sifat Manusia Ala Cak Nun

Sudah dijelaskan sebelumnya yaitu 3 hal membuka pikiran ala Cak Nun. Sebenarnya hal tersebut berkaitan atau saling sambung menyambung dengan nasihat yang diberikan oleh Cak Nun. Karena nasihat itu muncul dari sesuatu yang difikirkan.

Adapun nasihat-nasihat yang diberikan oleh Cak Nun antara lain:

  1. Jangan mendidik kejahatan, kelicikan, kebodohan, kelalaian

Kejahatan adalah nafsu yang terdidik. Kepandaian, sering, adalah kelicikan yang menyamar. Adapun kebodohan, sering kali adalah kebaikan yang bernasib buruk. Kelalaian adalah iktikad baik yang terlalu polos. Dan kelemahan adalah kemuliaan hati yang berlebihan.

Sesuatu yang paling merugikan orang adalah kejahatan. Sebab, kejahatan bisa menghacurkan kehidupan. Maka dari itu kita harus membuang kejahatan, jangan malah mendidiknya. Artinya kejahatan jangan sampai tertanam dalam diri kita.”

Lantas, kenapa Cak Nun bilang kepandaian, seringnya adalah kelicikan yang menyamar? Sebab, ia mengerti bahwa kepandaian sering digunakan untuk melakukan kejahatan. Contohnya sangat banyak.

Salah satunya adalaha anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Mereka adalah kumpulan orang-orang hebat, pandai, dan terdidik. Tapi, karena di dalam dirinya terdidik kejahatan, yang terjadi adalah korupsi.

Yang diibodohi adalah rakyat. Padalah sebenarnya mereka dihidupi oleh rakyat. Mungkin inilah yang dimaksud dengan kebaikan yang bernasib buruk pada rakyat.

Karena adanya kejahatan yang terdidik, akhirnya mereka lalai dengan menjaga amanahnya. Sehingga yang terkana dampak atau imbasnya adalah orang-orang yang lemah, yaitu rakyat biasa yang tidak biasa yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Baca Juga:

Sepertilah itulah kehidupan jika kejahatan, kelicikan, kebodohan, dan kelalaian tidak disingkirkan.

  1. Minta maaf jika salah dan maafkanlah orang yang bersalah

Dimaafkan adalah kelegaan memperoleh rezeki. Tetapi, memaafkan adalah perjuangan yang tidak ringan dan membuat kita penasaran kepada diri sendiri.

Sedangkan tidak memafkan adalah situasi psikologis dimana hati kita menggunmpal alias menjadi gumpalan, atau terdapat gumpalan di wilayah ruhaninya.

Dengan penjelasan seperti itu, apakah kita termasuk orang yang sulit memaafkan? Lalu, kalau kita yang salah, sudihkah kita meminta maaf? Pertanyaan ini sesuai dengan apa yang dikatakan Cak Nun “mana yang harus kita lakukan lebih banyak? Minta maaf sebanyak-banyaknya, ataukah menyipkan per maafan seluas-luasnya?

Minta maaf dan memberi maaf sebenarnya sama-sama sulit. Karena minta atau memberi maaf sama-sama membutuhkan kesungguhan dalam hati.

Antara memberi maaf dan meminta maaf, lebih berat memberi maaf karena ketika meminta maaf, kitalah yang bersalah, dan itu tidak terlalu membebani hati jika mengutarakan permintaan maaf.

Sedangkan memberi maaf, kitalah yang disalahi dan hati kita yang tersakiti. Akan terasa berat, sangat berat, untuk kita memberikan maaf. Walaupun begitu, ada satu hal yang harus kita tanam dalam hati, yaitu jika ada kesalahan, segeralah diikuti dengan maaf.

Karena jika maaf itu tidak ada, maka sebuah masalah atau kesalahan, akan terus menjadi beban dalam hidup serta akan mengahancurkan suatu hubungan untuk selama-lamanya. Bahkan sampai turun temurun.

Cara mudah untuk meminta maaf dan memberi maaf antara lain: pertama, kita harus bertafakur. Kita harus mau merenung, menghayati, dan memikirkan. Karena, dengan bertafakur kita akan berfikir bahwa tidak meminta maaf atau tidak memberi maaf itu akan berbuah negatif;

Kedua, lupakanlah kesalahan orang lain kepada kita, lupkanlah juga keburukannya dan ingatlah kebaikan-kebaikannya; ketiga sering-seringlah menyapa, jangan cuek dan judes. Karena, kalua cuek dan judes malah akan semakin memperkeruh keadaan, dan peluang untuk meminta maaf atau memberi maaf akan semakin sulit.

Dengan penjelasa tersebut, berharap kita agar dapat menyiapkan maaf seluas-luasnya. Karena kita bukanlah orang yang sempurna. Kita pasti mempunyai banyak kesalahan, baik disengaja ataupun tidak.

Baca Juga:

Dan masih banyak lagi nasihat-nasihat Cak Nun yang lain, tentunya yang membantu membuka pikiran yang lebih baik lagi. (novia_khil/kuliahislam)

 

SUMBER:

Waid, Ahfa. 2017. Nasihat-Nasihat Keseharian Gus Dur, Gus Mus, dan Cak Nun. Yogyakarta: DIVA Press.