3 Hal Pembuka Pikiran Ala Cak Nun

3 Hal Pembuka Pikiran Ala Cak Nun

Diartikel sebelumnya sudah dijelaskan bahwa Cak Nun merupakan seorang kiai (meski enggan disebut sebagai kiai), Cak Nun juga merupakan seorang penulis, penyair, dan pemain teater.

Adapun tulisannya mulai dari tentang kehidupan sampai dalam masalah hal ke romantisan, untuk lebih jelasnya mari simak penjelasan berikut ini:

  1. Jangan tertipu oleh pikiran kita sendiri

Seringkali kita merasa bisa memahami sesuatu. Padahal, sesungguhnya kita hanya memahami pemahaman kita sendiri.

Kita melihat, dan merasa telah berhasil melihat. Padahal, yang kita capai hanyalah sebatas penglihatan saja.

Kita harus berhati-hati dalam menyimpulkan sesuatu. Karena tidak sedikit orang yang berlangsung menyimpulkan sesuatu hanya dari kulitnya atau luarnya saja.

Padahal, seluk beluknya atau asal muasalnya belum ia ketahui atau malah, justru kita sendiri yang sering menyimpulkan sesuatu hanya dari kulitnya? Jangan sampai.

Makannya, dalam melihat sesuatu, kita jangan langsung pada kesimpulan. Tetapi kita lihat dulu, pahami dulu, perhatikan sedetail mungkin. Kita gunakan banyak mata untuk melihat. Kita jangan hanya focus dengan satu pandangan.

Kita lihat kanan kirinya dan atas bawahnya. Sebab, kalua kita ngotot atau memaksa melihat dari satu arah saja, kesimpulan yang dihasilkan akan salah. Padahal jangan-jangan yang kita simpulkan, malah justru jauh sekali dari yang sebenarnya terjadi.”

Kita semua sadar bahwa pikiran, penglihatan, atau apapun yang kita punya ini terbatas. Selalu ada hal yang diluar batas kemampuan kita. Maka dari itu kitapun harus menyadari bahwa boleh jadi sesuatu yang kita lihat dan pikirkan tidak benar-benar seperti yang kita lihat dan pikirkan.

Baca Juga:

Jadi, pahami sampai ke akar-akarnya. Pahami terlebih dahulu sebelum berkomentar agar apa yang kita simpulkan benar-benar sesuai dengan kebenarannya.

  1. Kalau kamu baik, jodohmu pasti baik

Tuhan menciptakan jodoh. Jadi, kalau anda berbuat baik, jodohnya adalah berkah. Kalau anda berbuat zalim, jodohnya adalah azab. Jangan mudah melakukan keburukan karena nanti akan bertemu jodohnya.

Sejatinya kita akan mendapatkan balasan, pasangan, atau apa pun sesuai dengan apa yang telah kita berikan. Ya setara, begitu lah.

Kalaupun kita dapat lebih, itu hanya bonus. Nah dalam konsep jodoh, kita yang orangnya tidak baik, suka mabuk, berjudi, taruhan, atau keburukan lainnya, tentu akan sangat tidak mungkin berjodoh dengan orang shalih atau shalihah.

Sebab jodoh itu pasti setara, sesuai, selevel. Allah maha adil.”

Lalu kalau kita logikakan sambungan dari nasihat Cak Nun tersebut, mungkin jadi seperti ini: kalau kita malas belajar, jodohnya adalah menjadi bodoh; kalau kita tidak bekerja, jodohnya adalah menjadi miskin; kalau kita taat sama perintah-Nya, jodohnya adalah mendapatkan surga;

Kalau kita melanggar perintah-Nya, jodohnya adalah dimasukkan ke neraka. Itulah konsekuensi yang bakalan kita terima. Apapun yang kita perbuat, tentu hasil atau jodohnya akan kita terima.

Maka dari itu tanamlah yang baik-baik, agar kelak kita bisa menuai hal-hal baik juga. Menjadilah baik agar berjodoh dengan yang baik pula.

  1. Jangan buang waktumu sia-sia, kreatiflah!

Kalau seseorang bersikap kreatif untuk menemukan apa pun hal baik yang bisa dikerjakan dalam hidup ini, jam-jamnya tidak akan sempat ia gunakan untuk sedih dan meratapi. Sebab, waktunya sudah habis untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik.

Jadi, sudah jelas kalau orang yang hari-harinya hanya diisi dengan tangisan dan ratapan, galau, baper atau bawa perasaan adalah orang-orang yang tidak kreatif. Orang yang seperti itu, pasti jarang berkelahi dengan waktu.

Bahkan, mungkin malah akan membiarkan dirinya dibunuh oleh waktu karena tidak pernah melawan. Akhirnya terjadi adalah hidupnya sia-sia dan keadaannya pun kacau.

Maka dari itu agar kita tidak termasuk orang yang terbunuh waktu, dan agar kita tidak hidup sengsara, kita harus kreatif dan produktif.

Sebab, kalau produktif, kreatif, cerdas, maka bisa dipercaya oleh orang lain, terpaksa anda akan dihargai oleh orang.

Sudah bisa dipastikan bahwa orang yang kreatif pasti mempunyai kehidupan yang mapan. Kita tidak perlu heran soal semacam itu. Selain kreatif, orang seperti itu pasti juga memiliki karya berharga yang dapat dibanggakan.

Bandingkan orang yang galauan dan baperan, bagaimana hasilnya? Ya, pasti sudah jauh berbeda. Orang yang setiap hari kerjanya harus mengurus sosmed (sosial media), makan, tidur, tidak ada manfaat bagi orang lain, tentu akan sulit untuk bisa dihargai oleh orang lain.”

Sebab itulah, kita jangan pernah menyia-nyiakan waktu. Kita mesti melakukan hal-hal yang berguna. Bukankah dengan kita melakukan sesuatu, lebih baik daripada Cuma diam menunggu?

Baca Juga:

Maka, kita harus kreatif dan terus melangkah melakukan hal yang bermanfaat. Rencanakanlah sesuatu yang baik, lalu kita laksanakan rencana tersebut. Sebab, dengan begitu, kita tidak akan punya waktu untuk bersedih atau pun meratapi. (novia_khil/kuliahislam)

SUMBER:

Waid, Ahfa. 2017. Nasihat-Nasihat Keseharian Gus Dur, Gus Mus, dan Cak Nun. Yogyakarta: DIVA Press.