3 Nasihat Gus Mus Tentang Sosial (Part 1)

3 Nasihat Gus Mus Tentang Sosial (Part 1)

Artikel sebelumnya sudah pernah kita bahas tentang Gus Mus beserta nasihat-nasihat belaiu yang diberikan. Selanjutnya membahas nasihat Gus Mus tentang sosial.

Sosial menurut KBBI merupakan adanya interaksi antar masyarakat, adapun contoh dari kesoislan seperti saling membantu sesama, dermawan, menyenangkan, ramah, santun, bahkan supel.

Dari pengertian sosial diatas secara tidak langsung menunjukkan bahwa dalam bersosial harus sebaik mungkin karena agar tercipta kerukunan, kasih sayang antar sesama. Dengan begitu akan tercipta keharmonisan dalam bermasyarakat.

Adapun nasihat Gus Mus tentang sosial antara lain:

  1. Gunakanlah sosial media untuk kebaikan

Di dunia sosial media, kita pun perlu selalu ingat firman-Nya: Wata’awanu ‘alal birri wattaqwa wala ta’awanu ‘alal itsmi wal ‘udwan.” (Gus Mus).

Sosial media atau sering disebut dengan sosmed tidaklah berbahaya, asalkan kita mampu mengontrolnya. Artinya kita harus tahu waktunya untuk bermain dan berhenti.

Jika kita menggunakannya dengan bijak, seperti digunakan untuk menebar kebaikan, maka hal itu akan membuahkan hasil yang baik juga.

Sebaliknya, jika sosisal media kita jadikan untuk pelarian dari dunia nyata seperti curhat yang tidak penting, menjelek-jelekan sesorang atau untuk hal-hal yang menimbulkan dosa. Tentunya sudah pasti akan berdampak buruk untuk di dunia nyatanya sendiri.

Dengan demikian, gunakanlah sosial media sebaik-baiknya. Mislanya untuk saling mengingatkan, saling berbagi ilmu, dan saling menyebarkan informasi yang baik.

Dan sebisa mungkin menghindari penyebaran informasi-informasi yang berbau kebencian maupun keburukan, karena secara tidak langsung juga telah menyebarkan dosa.

Mengingat nasihat Gus Mus yaitu kita harus tetap dalam keadaan takwa, saling menolong, dan tidak berbuat pelanggaran atau dosa, meskipun itu di sosial media.

Baca Juga:

  1. Bicaralah yang baik atau diam

“Salah satu ciri orang mukmin yaitu berbicara baik atau diam” (Gus Mus).

Orang-orang yang celaka memiliki tanda-tanda yang hamper sama, antara lain ucapannya tidak diatur, sering berbohong, memfitnah atau mencomooh orang lain. Maka dari itu mulut sering diumpamakan lebih tajam daripada pedang.

Maka dari itu, agar kita tidak celaka, tugas kita adalah menjaga mulut dengan baik. Terlebih kita seorang muslim yang diwajibkan menjaga lisan dari bicara bathil, dusta, menggunjing, mengadu domba, dan keburukan lainnya.

Jadi berhati-hatilah dan pikirkanlah baik-baik sebelum berbicara. Apabila perkatakan kita yang diucapkan mendatangkan manfaat, maka katakanlah, dan sebalikanya apabila perkataan kita membuat sakit hati karena tidak pantas untuk diucapkan, maka tahanlah, dan lebih baik diam.

Karena diam lebih baik daripada berbicara yang tidak pantas yang akhirnya menimbulkan pertikaian bahkan perpecahan.

Gus Mus sendiri dalam akun twitternya pernah menulis, “Pengalaman pribadi: aku lebih banyak memperoleh manfaat dari mendengar dan menyimak daripada berbicara dan menulis.”

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa ternyata sedikit berbicara itu lebih baik. Mungkin inilah sebabnya mengapa Allah swt memberikan satu mulut dan dua telinga.

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan dari al Mughirah bin Syu’bah, Rasulullah saw bersabda:

Sesungguhnya Allah telah mengaharamkan atas kalian durhaka terhadap ibu bapak, mengubur hidup-hidup anak perempuan, menahan harta sendiri dan terus meminta kepada orang lain. Dan, Allah membenci atas kamu tiga perkara: qilla wa qaala, banyak bertanya, dan membuang harta.”

  1. Kritik yang membangun dan membangkitkan, lebih baik daripada pujian yang merusak dan melalaikan

Kritik yang membangun dan membangkitkan, lebih baik daripada pujian yang merusak dan melalaikan.” (Gus Mus).

Sebagian besar orang pasti senang dan bahagia mendapat pujian. Hal tersebut wajar saja dan manusiawi. Sebaliknya jika seseorang menerima kritikan, biasanya rentan sakit hati, marah, ataupun jengkel.

Kecuali apabila kritikannya itu membangun, yaitu kritikan yang disertai dengan saran yang menjadikan seseorang lebih bersemangat dalam melakukan hal apapun.

Memberi kritikan yang membangkitkan atau pujian yang tidak melalaikan, cukup mudah, yaitu dengan cara antara lain: pertama, hindari kritik yang tanpa saran. Karena hal tersebut membuat orang yang dikritik terbebani dengan kritikan yang dikatakan.

Baca Juga:

Kedua, jangan berlebihan saat memberikan pujian. Buatlah pujian sederhana dan spesifik. Pujian yang berlebihan, menyebabkan orang yang dipuji merasa prestasinya sudah sangat baik, tinggal menikmatinya saja.

Maka, selain memuji, selipkan pula sedikit kritik atau berilah semangat agar hasilnya lebih maksimal. Misalnya, ketika ada teman yang sukses dalam bidang bisnis, kita pun memberikan pujian dan ucapan selamat disertai dengan nasihat agar ia tidak sombong dan tetap baik hati.

Namun, tidak sedikit orang yang ketika dipuji, justru merasa terbebani dengan pujian yang didapat. Orang seperti itu biasanya takut karena tidak bisa mempertahankan presatasi atau pencapaian yang sudah didapatnya. Bahkan, dia beranggapan lebih baik dikritik daripada dipuji. (novia/kuliahislam).

Baca Juga:

SUMBER:

Waid, Ahfa. 2017. Nasihat-Nasihat Keseharian Gus Dur, Gus Mus, dan Cak Nun. Yogyakarta: DIVA Press.