3 Nasihat Gus Mus Tentang Sosial (Part 2)

3 Nasihat Gus Mus Tentang Sosial (Part 2)

Kali ini kita akan membahas lanjutan dari nasihat Gus Mus tentang sosial. Sudah dijelaskan bahwa sosial merupakan adanya interaksi antar masyarakat, adapun contoh dari kesoislan seperti saling membantu sesama, dermawan, menyenangkan, ramah, santun, bahkan supel (KBBI).

Adapun nasihat Gus Mus tentang sosial antara lain:

  1. Masalahmu jangan menjadi masalah lingkunganmu!

Jangan biarkan masalah pribadamu menjadi masalah dalam lingkunganmu” (Gus Mus).

Masalah itu bukan hal yang mustahil terjadi, masalah bisa datang kapan saja dan dimana saja. Masalah, bisa dikatakan merupakan separuh dari kehidupan. Karena tidak ada hidup yang tanpa masalah.

Masalah dalam hidup tidak hanya soal bertengkar, atau adu mulut, tapi juga gangguan pada diri. Misalnya aku ini adalah pemabuk dan penjudi, tentu ini merupakan masalah bagiku, masalah pribadiku.

Maka, bijaklah dalam membawa diri. Janganlah masalah yang kita punya, menjadi masalah juga untuk orang lain. Mengajak teman atau orang yang ada di lingkungan kita untuk melakukan keburukan, hanya akan menjadikan masalah baru.

Masalah tersebut akan menyebar menjadi, masalah lingkungan, bukan lagi sekedar masalah kita sendiri. Maka dari itu jangan merugikan orang lain dengan masalah pribadi. Intinya selesaikan masalah tanpa membuat masalah.

  1. Allah sedang menguji kesabaranmu

Bila apa yang engkau harap-harapkan lambat datangnya, yakinlah bahwa Allah sedang menguji kesabaranmu” (Gus Mus)

Dalam hal ini, Gus Mus mengingatkan kita agar dapat mengenali bahwa Allah swt sedang menguji kesabaran kita. Yakini saja bahwa Dia pasti menguji sesuai kadar kemampuan kita. Ketika kita diuji, tentunya kita tidak boleh protes karena Allah menguji sesuai kemampuan hambaNya dan juga rencanaNya jauh lebih baik dari apa yang kita bayangkan.

Baca Juga:

  1. Saat Bersalaman, Tersenyumlah

Bila bersalaman, lalu kau pandang wajah orang yang kau salami itu sambal tersenyum, maka kau telah menanam sesuatu yang indah di hatinya” (Gus Mus).

Jika kita mampu menanam sesuatu yang indah di hati seseorang dengan cara tersenyum, maka kita akan lebih dihargai. Seperti kita bersalaman dengan seseorang yang baru dikenal, maka kesan pertama yang didapat adalah keramahan dan berujung dengan pertemanan.

Namun sebaliknya apabila kita berslaman dengan orang hususnya yang baru dikenal dengan wajah yang seram, datar, dan ditambah tidak mau tersenyum, nanti yang ada ketakutan seseorang tersebut pada diri kita, karena yang nampak bukan keramahan tapi kemarahan.

Selain bersalam, juga ketika berbicara atau bertutur kata dengan seseorang alangkah lebih baiknya dengan tersenyum atau ramah, agar seseorang tersebut merasakan ketentraman, kedamaian dan berakhir bahagia.

Kalau diri kita telah membuat orang lain bahagia, tentram maka secara otomatis kita telah mewujudkan kedamaian dan silaturahmi yang baik.

Baca Juga:

  1. Perhatikan juga hatinnya, jangan hanya fisiknya

“Jika engkau suka memperhatikan orang lain, belajarlah juga untuk memperhatikan perasaannya” (Gus Mus).

Semisal apabila ada orang yang bilang “Kerudungmu itu tidak sesuai dengan syariat. Hti-hati masuk neraka!”; “Eh, kalau mau masuk, biasakan salam dulu, dasar nggak punya aturan!” dan kata-kata lainnya yang tidak sepatutnya dilontarkan.

Apabila kita ingin menegur, maka tegurlah yang baik (tidak menyakiti),kalau kita menegur dengan tidak memperhatikan hatinya maka sama saja kita dengan orang yang kita tegur, yaitu sama-sama buruk.

Dengan hal tersebut, dalam Islam sudah mengajarkan bagaimna cara untuk menegur seseorang dengan baik dan tidak menyakiti:

Pertama, kita harus punya niat yang benar. Artinya saat kita memberi nasihat, itu hanya karena Allah swt. Bukan karena siapa-siapa. Sehingga ketika kita menasihatinya, tidak dengan marah-marah tapir amah-ramah.

Kedua, perhatikan cara terbaik saat memberi nasihat. Sebab, seseorang tidak akan menerima nasihat jika dilakukan dengan cara menjelek-jelekannya. Ketiga, hindari memberikan nasihat ditempat umum atau di tempat keramaian. (novia/kuliahislam)

Baca Juga:

SUMBER:

Waid, Ahfa. 2017. Nasihat-Nasihat Keseharian Gus Dur, Gus Mus, dan Cak Nun. Yogyakarta: DIVA Press.