3 Nasihat Gus Mus untuk Keseharian

3 Nasihat Gus Mus untuk Keseharian

Sudah dijelaskan pada artikel sebelumnya Gus Mus merupakan seorang kiai, ia juga dikenal sebagai penyair, pelukis, budayawan, dan cendekiawan muslim.

Selain itu Gus Mus juga sering memberi nasihat-nasihat yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari yang tentunya menyejukkan hati, adapun nasihat-nasihat tersebut antara lain:

  1. Tingkah lakumu menentukan baik buruknya agamamu

Yang menghina agamamu tidak bisa merusak  agamamu, yang bisa merusak agamamu justru perilakumu yang bertentangan dengan ajaran agamamu” (Gus Mus).

Agama merupakan petunjuk menuju jalan kebenaran yang hakiki. Sebagian besar orang mengetahui bahwa Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, tapi mengapa rahmat untuk semesta alam itu dijungkirbalikkan dengan perbuatan-perbuatan yang tidak pantas dilakukan.

Hinaan terhadap agama kita tidak ada pengaruhnya untuk agama kita sama sekali. Kita tidak perlu memikirkan hinaan. Akan tetapi, kalau sesama pemeluk agama justru saling bertentangan tentang agamanya sendiri, berbuat kerusakan, atau melanggar aturan agama, hal tersebut baru bisa dikatakan merusak. Bahkan jauh lebih merusak daripada sekadar hinaan.

Alangkan luar biasanya, kalau kita menyingkirkan pertentangan dalam beragama. Maka, berhentilah berbuat kerusakan dan kenistaan.

Berlakulah yang baik karena tingkah laku kita sangat menentukan baik buruknya agama. Kalau tidak mampu berbuat baik, setidaknya janganlah berbuat buruk. Biarkan agama kita tetap indah, dan jadikanlah keindahan itu sebagai petunjuk pada jalan keselamatan.

Baca Juga:

  1. Bersihkanlah hati dari penyakit!

Kita perlu terus waspada, jangan sampai kesombongan, kedengkian dan kebencian terhadap manusia yang dicontohkan iblis, justru memasuki hati kita.” (Gus Mus).

Dalam kehidupan ini, penyakit hati seperti sombong, dengki, benci, riya’, dan sebagainya, bisa hadir secara tiba-tiba. Itulah sebabnya mengapa kita wajib mengontrol hati kita lalu mengobatinnya jika ternyata berpenyakit.

Dalam buku obat penyakit hati, Abdul Qosim dalam buku nasihat-nasihat keseharian oleh Ahfa menyebutkan bahwa penyakit merupakan kelainan kepribadian yang ditandai dengan gangguan mental dan ganngguan emosional yang mengakibatkan ia tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Akibatnya, kekacauan terjadi karena tindakan yang tidak benar.

Hasan Muhammad as-Syarqawi dalam kitabnya Nahw ‘Ilmiah Nafsi, membagi penyakit hati dalam Sembilan bagian antara lain: pamer (riya’), marah (al ghadhab), lalai dan lupa (al ghaflah wan nisyah), was-was (al was wasah), frustasi (al ya’s), rakus (tama’), terpedaya (al ghurur), sombong (al ujub), dengki dan iri hati (al hasd wal hiqd).

Jangan sampai satu dari salah satu Sembilan yang disebutkan diatas ada pada diri kita. Karena ketika kita memiliki salah satunya saja sudah tidak boleh karena berbahaya bagi hati.

  1. Cintailah Allah dan RosulNya dengan ketaatan dan akhlak baik!

Cinta Allah? Ikuti jejak RasulNya. Cinta Rsullah? Tirulan akhlaknya” (Gus Mus). Ada satu firman Allah swt dam al qur’an surat al ahzab ayat 21.

al ahzab ayat 21

 

 

 

Artinya: “sungguh pada diri Rosulullah telah ada teladan yang baik (uswatun hasanah) bagi kalian (orang yang beriman), yang mengharap (beriman dengan) rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan banyak mengingat (menyebut Allah)” (QS. Al Ahzab: 21).

Dari ayat tersebut, dapat kita lihat bahwa sebagai umat Rosulullah saw, sudah semestinya kita meneladani semua sifat dan perilaku rosulullah, seperti jujur, kerja keras, berakhlak mulia, tidak gegabah, menghargai yang tua dan yang muda, menolong, memaafkan, tidak sombong, sabar, ikhlas, dan beragam perilaku baik lainnya.

Semua sifat baik tersebut, harusnya sudah kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari selain sebagai wujud cinta kita kepada rasulullah saw, juga sebagai wujud cinta kepada Allah swt.

Baca Juga:

Akhlak atau budi pekerti merupakan juru bicara hati yang bersih. Maka dari itu teladanilah akhlak rasulullah saw yaitu uswatun hasanah, supaya kita diakui sebagai umatnya yang beliau banggakan.

Dengan semikian Allah swt akan mencintai kita, karena mencintai kekasihNya dan meneladani akhlaknya yang mulia. (novia_khil/kuliahislam).

SUMBER:

Waid, Ahfa. 2017. Nasihat-Nasihat Keseharian Gus Dur, Gus Mus, dan Cak Nun. Yogyakarta: DIVA Press.

Hafidhdiya.