3 Nasihat Tentang Kehidupan Ala Cak Nun

3 Nasihat Tentang Kehidupan Ala Cak Nun

Artikel ini akan membahas tentang lanjutan dari nasihat-nasihat Cak Nun yang sebelumnya pernah dibahas.

Adapun nasihat-nasihat tersebut antara lain:

  1. Berjamaahlah!

Berjamaah adalah hakikat hidup karena manusia tidak mungkin hidup tanpa orang lain. Semisal diumpamakan cabai kalau tidak mau dicampur dengan terasi, garam, dan bawang, maka cabai tersebut tidak akan laku karena tidak enak kalua hanya dimakan cabainya saja.

Barang siapa yang tidak mau berjamaah, maka akan terlempar, tidak laku, dan menderita.

Adakah seseorang yang bisa hidup sendiri? Tentu tidak ada! Karena sejatinya manusia memang harus saling merangkul, membantu, gotong royong, memaafkan, menasihati, berbuat baik, dan lain sebagainya.

Maka, kalau ada orang yang tidak mau saling bekerja sama dan juga hal lainnya, ia pasti akan terbuang dari kehidupannya.

Coba kita bayangkan seandainya ada seseorang yang hidupnya kaya raya, semua keperluannya ada, tapi hidupnya diatas gunung dan sendirian. Apakah hal itu akan membuatnya bahagia? Tentu akan sulit kan? Bahagian menjadi jauh baginya.

Untuk itu kita perlu membaur, bergaul, berkomunitas agar kita menjadi manusia yang bermanfa’at.”

  1. Giat bekerja bukan hanya untuk makan

Bukanlah hidup kalau hanya sekadar mencari makan. Bukanlah sambal bekerja, seseorang bisa merenungkan suatu hal? Bisa berdzikir dengan ucapan yang sesuai dengan tahap penghayatan atau kebutuhan hidupnya.

Mengamati macam-macam manusia, belajar kepada begitu banyak peristiwa, menemukan hikmah-hikmah, serta pelajaran dan kearifan yang membuat hidupnya semakin maju dan baik.

Apabila hidup manusia hanya sekedar untuk mencari makan. Maka dari itu apa bedanya manusia dengan ayam yang bahkan rela bangun lebih pagi daripada kita untuk mencari makan.

Cobalah kita renungkan kata bijak atau nasihat lama: “makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan”. Nasihat tersebut memberi kita pelajaran bahwa hidup di dunia ini bukanlah sekedar mengisi perut lalu tidur, kemudian bangun, kemudian mengisi perut lagi.

Kalau hanya begitu, apa bedanya manusia dengan binatang? Bahkan binatang sendiri saja giat bekerja dan berdzikir.

Sebenararnya Allah Swt, dalam hal ini sudah diterangkan dalam al qur’an surat al mu’minun ayat 115.

Artinya: “maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptkana kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?” (QS. Al Mu’minuun: 115).

Dari penjelasan tersebut dapat kita ketahui bahwa Allah Swt menciptakan kita untuk sebuah misi. Ada tugas yang harus diselesaikan, yang nantinya bernilai pahala yang akan menyelamatkan kita dari kobaran api neraka.

Baca Juga:

Cak Nun memberikan nasihat seperti ini, tentunya agar kita tidak mencari kebahagian dunia saja. Tapi kita juga harus mengabdi dan menyembah kepada Sang Pencipta dengan cara mentaati segala perintahNya, serta berbuat baik agar kita semakin dicintai olehNya.

  1. Kematian sebagai kritik kehidupan

Kematian terkadang merupakan kritik terhadap kehidupan. Tuhan mengambil nyawa seseorang tidak semata dalam rangka menyanyangi orang tersebut, tetapi sekaligus memberi peringatan kepada semua yang ditinggalkan almarhum.

Kematian adalah sebuah misteri, karena kita tidak pernah tahu kapan dan di mana ia akan datang. Tetapi yang pasti adalah, kita bakal mati. Kita tidak mungkin hidup selamanya. Semakin hari, usia dan tubuh kita semakin mengkerut dan menua.

Setelah kematian itu datang, kita akan meninggalkan semuanya yang kita miliki. Hanya tersisa kain kafan yang dijadikan alat pembungkus.

Hadits tersebut berbunyi yang artinya “Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat, “siapa orang yang beruntung?” Maka Rasulullah menjawab “Orang yang paling banyak ingat mati, paling baik dalam persiapan kematian. Merekalah adalah orang-orang yang beruntung, dimana, mereka pergi (meninggal) dengan membawa kemuliaan di dunia dan akhirat.” (HR. Ibnu Majah).

Dari hadits tersebut, maka jangan sampai meninggal dalam keadaan lalai terhadap Tuhan Na’udzubillah. Semoga kita semua khusnul khotimah, yaitu mati dalam keadaan membawa islam, iman, dana mal shalih.

Maka dari itu, kita harus banyak belajar dari orang-orang yang telah mendahului kita, baik itu teman, sahabat, keluarga, atau pun orang lain.

Jadikan kematian orang-orang tersebut sebagai kritik terhadap diri kita masing-masing bahwa kita juga akan segera menyusulnya. Kita pun harus mempersiapkan diri agar kita menjadi orang yang beruntung baik di dunia atau akhirat. (novia_khil/kuliahislam)

Baca Juga:

SUMBER:

Waid, Ahfa. 2017. Nasihat-Nasihat Keseharian Gus Dur, Gus Mus, dan Cak Nun. Yogyakarta: DIVA Press.