4 Keutamaan Birrul Walidain

4 Keutamaan Birrul Walidain

Kewajiban Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Salah Satu Sebab Diampuninya Dosa

Allah Swt berfirman:

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ إِحۡسَٰنًاۖ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ كُرۡهٗا وَوَضَعَتۡهُ كُرۡهٗاۖ وَحَمۡلُهُۥ وَفِصَٰلُهُۥ ثَلَٰثُونَ شَهۡرًاۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرۡبَعِينَ سَنَةٗ قَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ إِنِّي تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَإِنِّي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ١٥

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنۡهُمۡ أَحۡسَنَ مَا عَمِلُواْ وَنَتَجَاوَزُ عَن سَيِّ‍َٔاتِهِمۡ فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلۡجَنَّةِۖ وَعۡدَ ٱلصِّدۡقِ ٱلَّذِي كَانُواْ يُوعَدُونَ ١٦

Artinya: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Baca Juga :

Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka”. (QS. Al-Ahqaf: 15-16).

Diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra, bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw kemudian dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya telah menimpa kepadaku dosa yang besar, apakah masih ada pintu taubat bagi saya?” Maka Beliau bersabda, “Apakah ibumu masih hidup?” Dia menjaawab, “Tidak”. Beliau bersabda, “Apakah bibimu masih ada?” Dia berkata, “Ya, masih”. Beliau bersabda, “Berbuat baiklah padanya”. (HR. Tirmidzi)

Menjadi Sebab Masuknya Seseorang Ke Dalam Surga

Dari Muawiyah bin Jahimah ra, bahwasanya Jahimah mendatangi Rasulullah Saw kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, saya ingin berangkat untuk berperang, dan saya datang kemari untuk meminta nasihat darimu”. Maka Beliau bersabda, “Apakah engkau masih memiliki ibu?” dia menjawab, “Ya”. Selanjutnya Rasulullah Saw bersabda, “Tetaplah dengannya karena sesungguhnya surga itu di bawah telapak kakinya”. (HR. Nasai)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sungguh merugi, sungguh merugi dan sungguh merugi orang yang mendapatkan kedua orang tuanya yang sudah renta, atau mendapatkan salah seorang dari mereka, namun tidak dapat memasukkannya ke dalam surga”. (HR. Muslim)

Menjadi Sebab Diberikannya Ridha Allah Swt

Rasulullah Saw bersabda, “Keridhaan Allah ada pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah itu ada pada kemurkaan orang tua”. (HR. Tirmidzi)

Baca Juga :

Termasuk Amalan Yang Paling Utama

Dari Abdullah bin Mas’ud ra, dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah Saw tentang amalan yang paling dicintai oleh Allah Swt, Beliau bersabda, “Shalat tepat pada waktunya”. Saya bertanya, “Kemudian apa lagi?” Beliau bersabda, “Berbuat baik kepada kedua orang tua”. (saya bertanya lagi), “Lalu apa lagi?” Beliau bersabda, “Berjihad di jalan Allah”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Berbakti kepada kedua orang tua adalah kewajiban yang harus kita berikan pada keduanya, terlebih ibu. Dengan susah payah dia mengandung, melahirkan, menyusui, dan mendidik kita. Kasih sayangnya tak pernah lapuk dimakan usia. Pengorbanannya tak pernah kenal lelah. Semua tertuju pada satu, yaitu demi kebahagiaan buah hati yang dikasihinya. Hal yang wajar dan tak berlebihan bila Allah Swt mewajibkan pada setiap anak untuk berbakti padanya.

Begitu tinggi nilai dari kewajiban itu sehingga durhaka padanya termasuk dosa yang sangat besar dan paling di benci oleh Allah Swt.

Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengharamkan atas kalian mendurhakai para ibu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Nawawi menjelaskan maksud dari hadis ini dengan mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa durhaka kepada ibu itu hukumnya haram, begitu pula terhadap ayah. Dikhususkannya ibu dalam hadis ini untuk menunjukkan keutamaannya. Maksudnya, jika berbuat durhaka kepada ayah saja haram hukumnya, apalagi durhaka kepada ibu.

Kedudukan ibu di mata anak tiga tingkat di atas kedudukan ayahnya. Karena ibulah yang telah mengandung, melahirkan, menyusui, dan mengasuh anak-anaknya. Mereka tulus melakukannya meski nama mereka tidak pernah bersanding dengan nama anak-anaknya.”

Menurut Imam adz-Dhahabi dalam kitab al-Kaba’ir disebutkan, Barang siapa bersyukur kepada Allah, akan tetapi tidak bersyukur kepada kedua bapak ibunya, maka tidak akan diterima rasa syukurnya disebabkan karena kedurhakaan itu.

Baca Juga :

Abdullah bin Amru, dia berkata, “Telah datang kepada Nabi Saw seorang Arab Badui, dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan al-Kabair itu? “Rasulullah Saw menjawab, “Berbuat syirik kepada Allah”. Kemudian dia bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Berbuat durhaka kepada kedua orangtua”.

Rasulullah Saw bersabda, yang artinya sebagai berikut,

Ada tiga golongan manusia yang tidak akan dilihat oleh Allah Ta’ala pada hari kiamat nanti, di antaranya adalah seseorang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, seorang wanita yang bergaya menyerupai lelaki, dan dayyuts (seorang suami yang tidak cemburu istrinya berbuat serong)”. (HR. Nasai). (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Dosa-Dosa Yang Digemari Wanita Indonesia, Siswati Ummu Ahmad, 2014