4 Syarat dan 3 Kesunnahan Adzan Iqomah

4 Syarat dan 3 Kesunnahan Adzan Iqomah

Dijelaskan sebelumnya tentang adzan dan iqomah. Dalam adzan dan iqomah tentunya mempunyai syarat yang dilakukan dan kesunnahan-kesunnahan yang dianjurkan untuk dilakukan.

Adapun syarat adzan dan iqomah ada 4 antara laian:

  1. Tartib

Dengan tartib yang telah diketahui sebab mengikuti nabi saw. Jikalau seseorang membaliknya walaupun lupa, maka hukumnya tidak sah dan baginya diperbolehkan untuk meneruskan dengan urutan dari keduanya.

Jikalau sebagian dari keduanya ditinggalkan, maka lafadz yang ditinggalkan tersebut dikerjakan lagi besertaan dengan mengulangi lafadz setelahnya.

  1. Terus menerus

Diantara kalimat-kalimat adzan dan iqomah. Harus terus menerus, namun tidak masalah sedikit bicara dan diam, walaupun dengan sengaja.

Disunnahkan untuk memuji Allah dengan pelat saat bersin, sunnah untuk mengakhirkan menjawab salam dan mendo’akan orang yang bersin sampai selesainya adzan.

  1. Suara keras

Jika ber-adzan atau iqomah untuk jama’ah, maka wajib untuk mendengarkan satu orang dari jama’ah tersebut terhadap seluruh kalimat adzan dan iqomah.

Sedangkan bagi orang yang adzan dan iqomah untuk diri sendiri, maka cukup dengan terdengar oleh dirinya sendiri.

  1. Masuknya waktu bagi selain adzan shubuh

Sebab adzan berfungsi untuk memberi informasi masuknya waktu, maka tidak diperbolehkan dan tidak sah sebelum masuknya waktu shalat. Sedangkan adzan shubuh hukumnya sah dimulai dari pertengahan malam.

Disunnahkan untuk membaca tatswib bagi orang yang melaksanakan dua adzan shubuh. Tastwib adalah mengucapkan Assholatu khoirun mina nnauum dua kali setelah lafadz alhay’altayni.

Sunah pula mengucapkan tatswib bagi orang yang adzan shalat shubuh qodla’ dan makruh selain shalat shubuh. Sunnah untuk membaca tarji’ dengan cara mengulangi dua kalimat syahadat dua kali secara pelan, sekira terdengar orang yang ada didekatnya (secara umumnya).

Sebelum mebaca keras dua kalimat syahadat tersebut, sebab mengikuti nabi saw dan sah adzan tanpa tarji’. Sunnah untuk meletakkan dua jari penunjuknya di dua lubang telinga di waktu adzan, bukan iqomah sebab hal tersebut lebih mengumpulkan terhadap suara.

Kesunnahan tersebut jika seseorang menginginkan mengeraskan suara, jikalau salah satu tangan sulit digunakan, maka menggunakan tangan yang lain atau sulit menggunakan jari penunjuknya, maka menggunakan jari yang lainnya dan jari-jari tangan.

Baca Juga:

Kemudian tentang kesunnahan-kesunnahan di dalam adzan dan iqomah yang dilakukan diantaranya adalah:

  1. Beerdiri

Berdiri dan melakukan adzan dan iqomah ditempat yang tinggi. Jikalau masjid tidak memiliki menara, maka disunnahkan adzan di atas lotengnya, lantas di pintu masuknya.

  1. Menghadap kiblat

Sunnah menghadap kiblat dan sunnah meninggalkannya.

  1. Menolehkan wajahnya

Menolehkan wajahnya bukan dadanya ke arah kanan sekali di saat membaca lafadz hayya ‘ala sholaati dua kali lantas mengembalikan wajahnya ke arah kiblat (dan ke arah kiri) sekali  saat membaca hayya ‘alal falaah dua kali, lantas mengembalikan wajahnya kea rah kiblat, walaupun untuk adzan khutbah, atau bagi seorang yang adzan untuk dirinya sendiri.

Tidak sunah menoleh di waktu membaca tastwib besertaan perbedaan pendapat di dalam masalah ini.

Disunnahkan mengeraskan suara dengan adzan bagi seorang yang sholat sendiri melebihi terdengar diri sendiri, dan bagi adzan untuk jama’ah melebihi mendengarnya satu orang dari jama’ah tersebut.

Disunnahkan bagi setiap orang yang adzan untuk sangat mengeraskan adzan sebab perintah dari nabi saw, melirihkan suara adzan di tempat shalat yang telah dilaksanakan jama’ah dan telah bubar, adzan dengan tartil, mempercepat iqomah.

Membaca sukun ra’ takbir yang pertama. Jika tidak dilakukan maka pendapat yang ashah membaca dlamah. Sunnah membaca idghom daal dari lafadh muhammadin dalam ra’ lafadz rasuulillaahi sebab meninggalkannya merupakan lahn (kekeliruan) yang samar dalam membaca. Sebaiknya mengucapkan ha pada lafdz asholaatin.

Makruh hukumnya adzan dan iqomah bagi seorang yang hadats, anak kecil, dan orang fasik. Dan tidak sah mengangkat mereka menjadi petugas adzan.

Adzan dan iqomah sekaligus lebih utama disbanding dengan menjadi imam sebab firman Allah yang artinya: Tiada seorang yang lebih bagus disbanding dengan orang yang mengajak kepada Allah.

Dewi Asiyah berkata: Mereka adalah orang-orang yang adzan. Sebagaian pendapat mengatakan: menjadi imam lebih baik. Sedangkan menjadi imam lebih dari pada salah satu adzan dan iqomah tanpa perselisihan ulama’. (novia/kuliahislam)

Baca Juga:

Sumber:

Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari. Fathul Mu’in. diterjemahkan oleh Hakim, Fikril & Abu Sholahuddin. 2014. Jawa Timur: Lirboyo Press.