Berjabat Tangan Setelah Shalat

Berjabat Tangan Setelah Shalat

Hukum Tradisi Berjabat Tangan Setelah Sholat

Masyarakat Muslim Nusantara dikenal dengan kesantunan, kesopanan, dan kelembutannya dimata dunia. Mereka identik dengan masyarakat yang pandai bersosial dan bukan tipikal individual. Kekompakan masyarakat Nusantara ini juga tercermin dalam tradisi agama yang mereka jalankan.

Faktanya hampir sebagian besar tradisi keagamaan mereka dilakukan secara kolektif (berjamaah) dan memiliki fungsi sosial yang cukup kuat. Misalnya tradisi salaman setelah sholat.

Tradisi jabat tangan atau salaman setelah sholat pastilah jama’ahnya orang NU. Adakah dalil yang menganjurkan berjabat tangan setelah mengerjakan sholat ?

Pada dasarnya dalil secara khusus tidak ada. Namun dalil yang menjelaskan tentang sunnahnya berjabat tangan ada, yaitu;

و عن البرّاء رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ما من مُسْلِمَيْنِ يلتقيان فيتصافحان إلا غُفِرَ لهما قبل ان يفترقا ( رواه أبو داود )

Artinya : “Tidak dua orang muslim yang bertemu lalu berjabat tangan, kacuali dosanya diampuni sebelum mereka berpisah”. (HR. Abu Dawud)

Namun sebagian ulama’ mengatakan bahwa keadaan orang sholat adalah seperti orang berpergian dan ketika seusai salam seakan-akan ia telah kembali dan bertemu dengan saudaranya. Berpijak pada pendapat ini, maka terdapat kesunahan berjabat tangan seusai salam layaknya orang yang baru bertemu.

Sebenarnya kesunahan berjabat tangan bisa dilakukan di mana saja, semisal bertemu di sawah atau pasar, juga dapat di lakukan dengan orang yang sudah kita kenal atau belum. Namun hal ini sulit di wujudkan. Oleh karenanya, Ulama’ NU memanfaatkan sholat berjama’ah sebagai media untuk berjabat tangan sekaligus untuk mempererat hubungan tali silaturrahim antar sesama.

Referensi :

المجموع الجزء ٣ صحيفة ٤٧٠ مكتبة مطبعة المنيرية –

فرع) واما هذه المصافحة المعتادة بعد صلاتي الصبح والعصر فقد ذكر الشيخ الإمام ابو محمد بن عبد السلام رحمه الله انها من البدع المباحة ولا توصف بكراهة ولا استحباب و هذا الذى قاله حسن والمختار ان يقال ان صافح من كان معه قبل الصلاة فمباحة كما ذكرنا وإن صافح من لم يكن معه قبلها فمستحبة لأن المصاحفة عند اللقاء سنة بالإجماع للأحاديث الصحيحة في ذلك .

بغية المسترشدين صحيفة ٥٠ مكتبة مطبعة الحرمين –

فائدة)  المصافحة المعتادة بعد صلاتي الصبح والعصر لا أصل لها  و ذكر ابن عبد السلام أنها من البدع المباحة واستحسنه النووي و ينبغي التفصيل بين من كان معه قبل الصلاة فمباحة  ومن لم يكن معه فمستحبة إذ هي سنة عند اللقاء اجماعا  وقال بعضهم إن المصليَ كالغائب فعليه تستحب عقيب الخمس مطلقا اهـــــ شرح التنبيه للريمي  ويسن تقبيل يد نفسه بعد المصافحة قاله ابن حجر

Tradisi seperti ini lumrah ditemukan di masyarakat. Usai sholat berjamaah mereka saling sapa satu sama lainnya dengan jabat tangan. Ada juga yang berdzikir dan berdo’a terlebih dahulu, kemudian baru berjabat tangan. Hal ini menunjukkan betapa akurnya masyarakat Nusantara dan tradisi ini sekaligus dapat memupuk persaudaraan dan memperkuat keakraban.

Dikalangan sebagian orang, terutama mereka yang sudah lupa dengan tradisi nusantara dan terlalu lama di negeri orang, tradisi salaman setelah sholat di anggap bid’ah dan tidak boleh dilakukan. Tapi menurut Imam Nawawi, jabat tangan setelah sholat termasuk bid’ah yang diperbolehkan (bid’ah al-mubahah), bahkan disunnahkan bila bertujuan untuk silaturrahim. Dalam kumpulan fatwanya, Imam Nawawi mengatakan ;

المصافحة سنة عند التلاقي و أما تحصيص الناس لها بعد هاتين الصلاتين فمعدود في البدع المباحة (و المختار) أنه إن كان هذا الشخص قد إجتمع هو قبل الصلاة فهو بدعة مباحة كما قيل و ان كانا لم يجتمعا فهو مستحب لأنه ابتداء اللقاء

Artinya : “Jabat tangan disunnahkan ketika bertemu. Adapun kebiasaan masyarakat yang menghususkan berjabat tangan setelah dua sholat yakni shubuh dan ashar tergolong bid’ah yang diperbolehkan. Dikatakan bid’ah mubah jika orang berjabat tangan sudah bertemu sebelum sholat. Namun jika belum bertemu, maka berjabat tangan disunnahkan karena termasuk bagian dari silaturrahim”.

Kesimpulan masalah yang terjadi diatas, tradisi salaman yang sudah berlangsung lama dan menjadi adat di masyarakat Nusantara bukanlah bid’ah yang tercela, namun dapat digolongkan bid’ah hasanah. Bahkan menurut Imam Nawawi, tradisi ini dapat dikatakan sebagai kesunnahan terutama jika orang yang dijabat tangannya belum pernah bertemu sebelumnya.(kuliahislam)