Biografi KH. Arsyad al-Banjari

Biografi KH. Arsyad al-Banjari

Sang Penunjuk Jalan agar Urusan Agama Mudah

Arsyad al-Banjari untuk waktu yang masih akan lama akan termasuk ulama yang namanya kerap disebut umat Islam. hal itu disebabkan karya tulisnya banyak dan diantaranya ada yang sangat masyhur yaitu Sabilal Muhtadin.

Syaikh Muhammad Arsyad bin Abdullah adalah ulama termuka dari Martapura, Kalimantan Selatan. Nama “pendek”-nya adalah Arsyad al-Banjari.

Dia lahir pada 1703 di Martapura dan berasal dari keluarga yang taat beragama.

Pada umur 8 tahun dia “dititipkan” kepada Sultan Hidayatullah untuk dibesarkan dan dididik. Itu terjadi karena Sang Sultan memang “meminta” kepada si orang tua lantaran Arsyad al-Banjari dinilai berakhlak baik, cerdas, dan memiliki bakat seni menulis indah.

Baca Juga : 

Tinggal bersama Sultan, dalam hal pendidikan agama, Arsyad al-Banjari mendapatkannya secara baik melalui beberapa guru agama terkemuka. Setelah dewasa dia ke Mekkah mencapai 30 tahun.

Selama belajar di Mekkah dan Madinah, Arsyad al-Banjari belajar bersama tiga orang Indonesia lainnya yaitu Syaikh Abdush-Shamad al-Palembani (Palembang), Syaikh Abdul Wahab Bugis, dan Syaikh Abdur-rahman Mesri (Betawi). Mereka berempat dikenal sebagai “Empat Serangkai dari Tanah Jawi” yang sama-sama menuntut ilmu di al-Haramain asy-Syarifain. Belakangan, Syaikh Abdul Wahab Bugis menjadi menantu Arsyad al-Banjari karena menikah dengan putrinya.

Setelah selesai belajar di Mekkah, Arsyad al-Banjari ingin meneruskan belajar ke Mesir. Tapi hal itu tak didukung oleh para gurunya di Mekkah. Mereka malah menganjurkan agar dia kembali ke Tanah Air guna menyebarluaskan ilmu yang telah diperolehnya. Nasihat tersebut diterimanya.

Di Tanah Air dia disambut oleh masyarakat. Dia langsung mensyi’arkan ilmu yang didapatnya. Tak hanya di Banjarmasin, tapi juga di daerah lainnya. tak hanya lewat pengajian, tapi juga melalui pendidikan formal yaitu pesantren.

Arsyad al-Banjari adalah pelopor pengajaran Hukum Islam di Kalimantan Selatan. Kala itu, sekembalinya ke kampung dari Mekkah, hal pertama yang dikerjakannya adalah membuka tempat pengajian (semacam pesantren) di Desa Dalam Pagar. Mulanya, lokasi ini berupa sebidang tanah kosong yang masih berupa hutan belukar pemberian Sultan di Kesultanan Banjar saat itu. Arsyad al-Banjari pun “menyulap” tanah tersebut menjadi sebuah perkampungan yang di dalamnya terdapat rumah, tempat pengajian, perpustakaan, dan asrama para santri.

Sejak itu, desa yang baru dibuka tersebut didatangi oleh para santri dari berbagai pelosok daerah. Di situlah diselenggarakan sebuah model pendidikan yang mengintegrasikan sarana dan prasarana belajar dalam satu tempat yang mirip dengan model pesantren. Gagasan Arsyad al-Banjari ini merupakan model baru yang belum ada sebelumnya dalam sejarah Islam di Kalimantan di masa itu.

Pesantren yang dibangun di luar Kota Martapura ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi proses belajar-mengajar para santri. Selain berfungsi sebagai pusat keagamaan, di tempat itu juga dijadikan pusat pertanian. Arsyad al-Banjari bersama beberapa guru dan muridnya mengolah tanah di lingkungan mereka menjadi sawah yang produktif,  serta membangun sistem irigasi untuk mengairi lahan pertanian.

Baca Juga : 

Tak sebatas membangun sistem pendidikan model pesantren, Arsyad al-Banjari juga aktif berdakwah kepada masyarakat umum. Kegiatan itu pada akhirnya membentuk perilaku religius masyarakat, termasuk meningkatnya kesadaran untuk terus menambah pengetahuan agama.

Dalam menyampaikan ilmunya, Arsyad al-Banjari minimal punya tiga metode. Ketiga metode itu satu sama lain saling menunjang. Pertama, dengan cara bil-hal, yakni lewat keteladanan yang direfleksikan dalam tingkah laku dan tutur kata sehari-hari. Kesemua sikap itu disaksikan langsung oleh murid-muridnya. Kedua, dengan cara bil-lisan. Metode bil-lisan adalah dengan mengadakan pengajaran atau pengajian yang bisa diikuti oleh siapa saja. Ketiga, dengan metode bil-kithabah. Model ini bersandar kepada kecakapan Arsyad al-Banjari dalam menulis.

Karya-karya Arsyad al-Banjari banyak antara lain Sabilal Muhtadin, Tuhfatur Raghibin, dan Al-Qaulul-Mukhtashar. Kitab-kitabnya mengkaji banyak bidang seperti ushuluddin, tasawuf, nikah, dan faraid. Karya Arsyad al-Banjari yang paling monumental adalah kitab Sabilal Muhtadin. Yang kemasyhurannya tidak sebatas di Kalimantan dan Indonesia saja, tapi juga sampai ke Malaysia, Brunei, dan Pattani (Thailand Selatan).

Adapun alasan utama penulisan kitab Sabilul Muhtadin karena adanya kesulitan umat Islam di Banjar dalam memahami kitab-kitab fikih yang ditulis dalam bahasa Arab. Lalu, ditulislah kitab Sabilul Muhtadin dalam bahasa Arab-Melayu dan merupakan salah satu karya utama dalam bidang fikih bagi masyarakat Melayu. Kitab ini ditulis setelah Arsyad al-Banjuri mempelajari berbagai kitab-kitab fikih yang ditulis para ulama terdahulu, antara lain, seperti kitab Syarh Minhaj oleh Syaikhul-Islam Zakaria al-Anshari, Tuhfah Al-Muhtaj Karya Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami, Mir’atu Al-Thullab Oleh Syakh Abdurrauf as-Sinkili, dan Shirat al-Mustaqim Karya Nurruddin ar-Raniri.

Di bidang ilmu Qiraat, Arsyad al-Banjari mengarang kitab Qiraat 14 yang bersumber dari Imam Syatibi. Uniknya, setiap juz kitab tersebut dilengkapi dengan kaligrafi khas Banjar.

Arsyad al-banjari memang meninggalkan banyak jejak dalam bentuk karya tulis di bidang keagamaan. Karya-karyanya menginspirasi hingga kini. Maka, tak mengherankan jika seorang pengkaji naskah ulama Melayu berkebangsaan Malaysia menjulukinya sebagai “Matahari Islam Nusantara”.

Baca Juga : 

Pada 1808 Arsyad al-Banjari wafat. Meski telah lama tiada, namanya akan tetap dihidup-hidupkan oleh orang banyak. Itu sangat bisa terjadi karena  kitab-kitabnya akan terus dikaji. Alhamdulillah, dia telah memberi jalan agar kita mudah dalam mendalami agama. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : 50 Pendakwah Pengubah Sejarah, M. Anwar Djaelani. Pro-U Media Jl. Jogokarian 41 Yogyakarta.