Filosofi Sesaji Bunga

Filosofi Sesaji Bunga

Makna Sesaji

Sesaji atau sajen seringkali dianggap sebagai biang kemusyrikan. Maksud sesaji sebenarnya merupakan suatu upaya harmonisasi, melalui jalan spiritual yang kreatif untuk menyelaraskan dan menghubungkan antara daya aura magis manusia, dengan seluruh ciptaan Tuhan yang saling berdampingan di dunia ini, khususnya kekuatan alam maupun makhluk ciptaan Tuhan.

Sesaji bisa diartikan sebagai wujud harmonisasi manusia dalam dimensi horisontal terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan. Sekalipun manusia dianggap sebagai makhluk paling mulia diantara makhluk ciptaan Tuhan lainnya tapi tidak ada alasan merasa diri paling mulia kemudian berlaku seenaknya sendiri karena kemuliaan manusia tergantung dari cara memanfaatkan akal budi dalam dirinya. Bila akal budi digunakan untuk kejahatan, maka kemuliaan manusia akan hilang dan menjadikan manusia menjadi hina bahkan lebih hina dari binatang yang paling hina.

Baca Juga :

Sesaji Bunga

Bunga melambangkan keharuman. Harum sendiri bermakna bahwa segala tujuan hidup kita mendapat berkah dari para leluhur. Ada banyak bunga yang digunakan dalam setiap ritual Kejawen. Hal tersebut bagi mereka bukan sesuatu yang musyrik atau syirik karena bunga tersebut menyimbolkan agar kita selalu ingat apa yang disimbolkan melalui media sesaji tersebut. Antara lain :

Bunga Kantil

Kantil dimaknai pepeling atau pengingat bahwa meraih ngelmu iku kalakone kanthi laku. Artinya, untuk menggapai sesuatu tidak cukup dengan berdoa saja, melainkan harus dengan tindakan nyata.

Bunga Melati

Bunga ini berwarna putih, melambangkan kebersihan. Maknanya adalah orang hidup harus mengedepankan kebersihan hati atau kejujuran, bukan menjadi orang yang munafik.

Baca Juga :

Bunga Mawar

Bunga ini bermakna kiasan awar-awar ben tawar yang artinya kurang lebih, menetralkan hati agar menjalani segala sesuatu dengan ikhlas atau tanpa pamrih.

Bunga Kenanga

Bunga ini bermakna agar kita mengenang kebaikan para pendahulu agar kita selamat di dunia dan akhirat.

Di atas merupakan bunga yang dipakai sebagai sesaji. Bukan hanya itu saja, penggunaan bunga-bunga tersebut juga merupakan pengingat agar makna yang terkandung dalam bunga tersebut diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Sesuai dengan konsep “eling lan waspodo”, ingat kepada tuhan dan para leluhur, serta waspada atau lebih berhati-hati akan segala tindak-tanduk agar tidak menyakiti makhluk Tuhan.

Kita paham bahwa dunia terbagi dua sisi yang berlawanan, sisi baik dan sisi buruk. Ibarat mata pisau jika digunakan seorang tukang masak akan menghasilkan masakan yang lezat. Namun, jika jatuh ke tangan orang yang jahat, pisau tersebut bisa membuat orang lain celaka. Begitu juga dengan sesaji, akan berbeda makna jika dikaitkan dengan sebuah persembahan pada sosok sesembahan, seperti sudah dijelaskan pada keterangan diatas.

Baca Juga :

Sesaji pada sisi buruk bisa diibaratkan sebagai wujud upah untuk sosok “prewangan” atau sebagai wujud media untuk suatu tujuan. Seperti bunga kantil misalnya. Kantil dalam penyelewengan kejawen atau lebih mudahnya kita sebut “klenik”, adalah media sebagai pengikat jiwa yang digunakan untuk media lawan jenis menjadi cinta. Wallahu A’lam. 

 

Sumber : Kisah Tanah Jawa Penerbit Gagas Media Ciganjur-Jagakarsa