Gus Dur Dipuji Dan Dimusuhi

Gus Dur Dipuji Dan Dimusuhi

Berhati-Hati Terhadap Sabotase

Sebagai tokoh yang sudah mulai mengancam kemapanan popularitas pemerintah, Gus Dur yang kala itu menjabat Ketua Umum PBNU, tentu tidak lepas dari berbagai cobaan dan ujian. Mulai dari larangan berpidato, pencemaran nama baik hingga sabotase yang mengancam keselamatan jiwa.

Cerita berikut ini dikisahkan oleh Hasyim Wahid (Gus Iim) adik Gus Dur, kepada penulis beberapa waktu silam. Pada tahun 1990-an, Gus Dur harus menghadapi berbagai ujian -baik menyangkut kelangsungan organisasi NU maupun pribadinya selaku Ketua Umum PBNU kala itu.

Kisah ini terjadi setelah Gus Dur menghadiri sebuah pertemuan dalam kunjungannya selaku Ketua Umum PBNU ke daerah Jawa Barat. Usai dari Bandung, Gus Dur sedang berada di dalam sebuah mobil bersama Gus Iim untuk kembali ke Jakarta.

Memasuki jalan antarkota, Bandung menuju Purwakarta, mobil yang ditumpangi Gus Dur berjalan cukup santai karena cuaca agak mendung. Karena jalannya santai, mobil yang ditumpangi Gus Dur itu disalip tiga buah truk yang memuat semacam gulungan kertas besar.

Baca Juga:

“Saat truk itu tidak berjalan beriringan. Truk-truk itu masing-masing terpaut sekitar 500 meter, namun kesemuanya seperti sedang terburu-buru, ngebut”, cerita Gus Iim.

Menyaksikan gelagat kurang baik ini, Gus Iim kemudian meminta pertimbangan sang kakak, “Pernahkah sampean melihat truk dengan gulungan kertas besar berjalan beriringan dijalanan ini?”

Gus Dur pun lekas menjawab, “Tidak. Truk-truk ini sepertinya agak aneh”.

Menyadari bahwa kakaknya mengerti yang dimaksudkan, Gus Iim segera meminggirkan mobilnya di sebuah rumah makan yang memiliki area parkir cukup representatif. Mereka pun beristirahat, makan dan berbincang-bincang.

“Tak lama kemudian, terdengar kabar bahwa ada kecelakaan di depan jalan yang akan kami lewati. Sebuah truk pengangkut kertas terlibat kecelakaan dengan kendaraan lainnya. Gulungan-gulungan kertas besar berjatuhan di jalanan”, lanjut Gus Iim.

Baca Juga:

Setelah beberapa waktu, keduanya pun melanjutkan perjalanan dengan berganti mobil. Sementara mobil yang tadi ditumpanginya dititipkan kepada pemilik rumah makan. “Kita memang tidak pernah membuktikan apa pun terkait niat jahat orang lain yang belum kesampaian. Namun kehati-hatian sangatlah penting untuk menjaga keselamatan diri”, tandasnya.

Perjuangan Penuh Risiko

Gus Dur dikenal sebagai pembela minoritas. Sepak terjangnya dituangkan dalam banyak bentuk. Medan perjuangannya mencakup ranah ekonomi, politik, budaya, dan khazanah intelektual.

“semuanya telah dilakukan sejak jauh-jauh hari sebelum ia menjabat sebagai Ketua Umum PBNU. Sebagai orang NU yang jumlahnya mayoritas di Indonesia, Gus Dur selalu mengimbau pemerintah dan masyarakat umum melindungi dan menjamin hak-hak minoritas”, tutur putri Gus Dur, Alissa Qothrunnada yang akrab disapa Alissa Wahid.

Baca Juga:

Mbak Lissa mengatakan, di tengah perjuangannya yang penuh tantangan dan resiko, Gus Dur mendapat sambutan, dukungan, dan peran aktif dari beragam kalangan. “Gerakannya berhasil menarik simpati masyarakat luas karena mengarah pada tujuan yang menjadi kepentingan orang banyak”, jelasnya.

Setelah Gus Dur wafat, mereka yang mencintai Gus Dur menggabungkan diri dalam komunitas Sahabat Gusdurian. “Teman-teman yang bergabung dalam komunitas ini berjuang mengawal jalannya dinamika sosial yang tengah berkembang. Mereka terlibat aktif dalam menegoisasi nilai-nilai kemanusiaan di ruang publik”, jelasnya. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Achmad Mukafi Niam dan Syaifullah Amin, Bukti-Bukti Gus Dur itu Wali, Renebook 2014