HUMOR. FATWA ABU NAWAS KEPADA AHLI FIQIH

HUMOR. FATWA ABU NAWAS KEPADA AHLI FIQIH

Alkisah, salah seorang ahli fiqih gundah akan perkara hukum yang dimilikinya. Hingga akhirnya keresahan sang ahli fiqih tadi memutuskan untuk menemui Abu Nawas.

Singkat cerita bertemulah sang ahli fiqih dengan Abu Nawas. Tanpa basa-basi sang fakih pun mengutarakan kegundahannya.

“Wahai Abu Nawas, aku membutuhkan pertolonganmu. Aku ingin engkau memberikan fatwa kepadaku perihal kegundahanku selama ini, dan semoga engkau mendapatkan balasan dari Allah atas kebaikanmu,” sang ahli faqih berbasa-basi.

“Kegundahan apa yang kau hadapi. Katakan saja!” kata Abu Nawas.

“Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih utama, berjalan di depan iring-iringan jenazah atau di belakangnya?” tanya si ahli fiqih.

“Wahai ahli fiqih, jangan terlalu serius dan resah perihal urusan remeh temeh seperti ini,” jawab Abu Nawas.

“Lantas fatwa apa yang bisa kau beri padaku perihal perkara ini?” sergah sang ahli fiqih penasaran.

Abu Nawas pun menjawab, “Berjalan lah sesukamu, depan-belakang, kanan-kiri itu sama saja, asal jangan kau naiki keranda jenazahnya.”

Keseriusan ahli fiqih yang tadinya menyimak uraian Abu Nawas, berubah menjadi tawa. Sang ahli fiqih itu pun pergi dengan rasa puas dan tertawa sepanjang perjalanan.

(Diterjemahkan dari kitab Abu Nuwas fi nawadirihi wa ba’di qasaidihi karya Salim Samsuddin)

Ini contoh jawaban yang suka nanya fiqih remeh, yang tak butuh jawaban. (hak/kuliahislam)

 

Sumber : https://alif.id/read/mukhammad-lutfi/fatwa-abu-nawas-kepada-ahli-fikih-b218849p/