Ini Tentang Air

Ini Tentang Air

Air merupakan cairan jernih tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau yang diperlukan di kehidupan manusia, hewan, tumbuhan yang secara kimiawi mengandung hidrogen dan oksigen.

Dalam tubuh manusia sendiri sekitar 70% mengandung air. Jadi bisa dibayangkan ketika tubuh kita kekurangan cairan, yang terjadi tubuh akan dehidrasi, organ-organ yang ada didalam tubuh bekerja tidak maksimal.

Selain itu manusia juga butuh air untuk kehidupan sehari-hari seperti cuci piring, mandi, bersuci dan lain sebagainya. Dalam menggunakan air tentunya tidak sembarangan karena ada air-air tertentu yang boleh digunakan dan tidak boleh digunakan.

Baca Juga:

Air yang boleh digunakan seperti air yang suci dan mensucikan. Sedangkan air yang tidak boleh digunakan diantaranya air haram, air najis, dan air musta’mal.

  1. Air haram

Air haram merupakan air yang seharusnya tidak boleh digunakan untuk wudlu maupun mandi wajib. Air tersebut haram untuk hal tersebut karena air yang digunakan merupakan air yang tidak dizinkan untuk digunakan.

  1. Air najis

Air najis mempunyai dua macam, diantaranya yang pertama air banyak yang kecampuran najis dan berubah wujudnya atau rasanya, walaupun berubahnya hanya sedikit hal tersebut hukumnya tetat air najis; kedua air sedikit kecampuran najis, walaupun tidak berubah wujudnya atau rasanya, hukumnya tetap najis.

Air yang banyak kecampuran najis tapi tidak berubah karena najis tersebut seperti air yang dari segi wujudnya, rasanya, baunnya sudah dipastikan berubah tidaknya. Maka apabila irnya berubah maka hukumnya najis, dan sebaliknya apabila tidak berubah maka air tersebut hukumnya suci.

Selanjutnya apabila ada air yang banyak terkena najis dan berubah maka hukumnya najis, akan tetapi apabila air tersebut lama kelamaan hilang berubahnya dan kembali ke air semula, maka hukumnya suci. Hilangnya karena ditambahkan air atau dikurangi airnya, akan tetapi air masih banyak atau sekitar ukuran dua kulah.

Kemudian apabila ada air banyak yang terkena najis, maka hukum najisnya terdapat pada air yang ditempatin najis dan sekitarnya. Adapun air yang lainnya hukumnya tetap suci.

semisal ada air yang terkena BAB cicak, maka air yang dihukumi najis adalah air yang ditempatin BAB cicak tersebut dan sekitar BAB tersebut.

Barang atau tubuh yang basah dan terkena najis maka hukumnya najis, baik najis tersebut dalam keadaan kering maupun dalam keadaan basah. Dan apabila barang atau tubuh yang kering dan terkena najis maka hukumnya tidak najis.

  1. Air musta’mal

Air musta’mal merupakan air yang sudah di gunakan membasuh hadats kecil atau hadats besar atau air yang sudah pisah dengan badan atau air yang sudah digunakan menghilangkan najis dan air tersebut tidak berubah.

Air musta’mal bisa menjadi air suci mensucikan (thohir muthohir), ketika air musta’mal tersebut dikumpulkan atau dituangkan kedalam air banyak (dengan ukuran sepuluh black).

Perlu diketahui air thohir ghoiru muthohir (air suci tidak bisa mensucikan) dan air musta’mal, tersebut tidak bisa digunakan untuk mensucikan hadats dan mencuci najis, akan tetapi boleh digunakan untuk mencuci kotoran yang tidak najis.

Apabila ada air yang mengalir sealiran tapi air tersebut tidak ada dua kulah, apabila terkena najis yang berhenti atau tidak ikut mengalir, maka air yang mengalirnya sebelum najis hukumnya suci, sedangkan air yang mengalirnya setelahnya najis, hukumnya najis. Walaupun air tersebut mengalir panjangnya beberapa kilometer. (novia/kuliahislam).

Baca Juga:

SUMBER:

Rasjid, Sulaiman. 2018. Fiqh Islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Risalatul Fiqih oleh K. Ahsan Sholih. Jepara (Ponpes Al Ishlah Al Ishom).