Ini Tentang Hukum Najis Ma’fu (Diampuni)

Ini Tentang Hukum Najis Ma’fu (Diampuni)

Dalam kitab Fathul qarib Najis secara etimologi ialah perkara yang menjijikkan. Sedangkan secara terminologi syara’ ialah setiap benda yang haram dikonsumsi secara mutlak dalam keadaan bebas serta mudah membedakannya, bukan karena dimuliakan, menjijikkan, dan berbahaya untuk badan atau pikiran,

Dalam najis ada yang ma’fu atau diampuni, adapun contoh najis yang di ma’fu atau diampuni, antara lain:

  1. Apabila ada hewan yang disobek atau di potong, tidak mengeluarkan darah yang mengalir dan hidup, seperti semut dan kecoa. Kemudian hewan tersebut jatuh dengan sendirinya atau karena ada angin kedalam air sedikit, maka hukum airnya najis tapi ma’fu, selama air tersebut tidak berubah. Apabila hewan tersebut (semut dan kecoa) jatuh kedalam air dengan keadaan sudah mati, baik jatuh sendiri atau ada yang menjatuhkan maka hukumnya najis, tapi tidak ma’fu.
  1. Air sedikit yang kepercikan najis, akan tetapi percikannya tidak terlihat, maka hukum air tersebut najis tapi ma’fu. Percikan yang terlihat atau tidak terlihat, dilihat dari dekat dan jauhnya najis; tinggi dan pendeknya najis; besar dan kecilnya najis; kecilnya najis dan keras empuknya benda yang kejatuhan najis.

Baca Juga:

  1. Najis yang keras seperti kotoran biasa, percikan benda tersebut tidak najis, akan tetapi aapabila jatuh kedalam air yang sedikit, maka percikannya najis. Berbeda dengan benda najis tersebut encer atau tidak keras, maka percikannya baik didalam air banyak atau sedikit hukumnya tetap najis.
  2. Apabila ada hewan yang mulutnya najis, kemudian minum air sedikit, akan tetapi sebelumnya hewan tersebut sudah minum air banyak atau sedikit yang mengalir, maka air tersebut hukumnya najis tapi ma’fu.
  3. Apabila ada orang yang memegang atau kepegang anjing didalam air banyak, maka hukumnya tidak najis, karena tubuh anjing terhalangi oleh air.
  4. Apabila ada anak kecil sering muntah-muntah, maka apabil mulutnya menghisap suatu benda, maka benda tersebut hukumnya najis tapi ma’fu.
  5. Apabila ada badan yang kepercikan najis yang tidak kasat mata atau tidak terlihat oleh mata, maka hukumnya najis tapi ma’fu.
  6. Kotoran atau air kencingnya hewan kelelawar, lebah, kutu, tinggi, lalat, hukumnya najis tapi ma’fu, walaupun menempel ditempat sholat atau badan atau pakaian walaupun dengan jumlah yang banyak, dengan keadaan kering atau basah.
  7. Kotoran burung apapun jenis burungnya, dan kotoran tersebut kering, maka hukumnya najis tapi ma’fu ditempat-tempat ibadah seperti masjid, walaupun dengan jumlah yang banyak. Hukum ma’fu terhadap kotoran burung tentunya dengan syarat tidak adanya unsur kesengajaan ketika terkena kotoran burung tersebut.
  1. Apabila ada benda yang aslinya suci, tapi di ragukan kesuciannya, maka hokum benda tersebut adalah tetap suci. Seperti pakaiannya anak kecil, air liurnya anak kecil, atau pakaiannya perempuan yang haidl.
  2. Rambut atau bulu yang najis (bukan najis mugholadhoh) ketika menempel sedikit ke pakaian, maka hukumnya najis tapi ma’fu.
  3. Tanah yang ada najisnya encer, apabila sudah kering dan tidak terlihat lagi bekasnya najis, maka tanah tersebut hukumnya suci dan bisa digunakan untuk sholat.
  4. Apabila ada hewan yang jatuh kedalam air sedikit, walaupun qubul dan duburnya masih dalam keadaan najis, maka airnya hukumnya najis tapi ma’fu. Asalkan badan yang selain qubul dan duburnya tidak najis.
  5. Jalanan yang yakin kalau jalanan tersebut najis tapi tidak terlihat najisnya, maka hukumnya najis tapi ma’fu, apabila kaki atau pakaian bawahnya mengenai jalan tersebut.

(novia/kuliahislam)

Baca Juga:

SUMBER:

Risalatul Fiqih oleh K. Ahsan Sholih. Jepara (Ponpes Al Ishlah Al Ishom).