Ini Tentang Istihadloh

Ini Tentang Istihadloh

Istihadloh secara Bahasa yaitu mengalir, sedangkan secara istilah adalah darah penyakit yang keluar dari farji wanita yang tidak sesuai dengan ketentuan haidl dan nifas.

Kuat dan lemahnya darah, dipengaruhi oleh warna dan sifat darah. Adapun warna darah antara lain hitam, merah, merah kekuning-kuningan, kuning, dan keruh; sedangkan sifat-sifat darah yaitu kental, cair, berbau busuk atau anyir, dan tidak berbau.

Warna hitam lebih kuat dari pada warna merah, darah warna merah lebih kuat dari pada warna darah merah kekuning-kuningan, begitu seterusnya.

Jika kedua darah sama-sama memiliki sifat atau warna yang mendorong ke arah kuat, maka yang dihukumi darah kuat adalah yang lebih banyak ciri-ciri yang mendorong darah kuat.

Contoh:

  1. Darah hitam, kental, berbau anyir, lebih kuat disbanding darah hitam, kental, tidak berbau.
  2. Darah hitam, kental, berbau anyir, lebih kuat disbanding darah hitam, kental, berbau anyir, lebih kuat.
  3. Darah hitam, kental, berbau anyir, lebih kuat disbanding darah merah, kental, berbau busuk.

Darah hitam, kental, berbau anyir (contoh no. 1) dihukumi lebih kuat, sebab memiliki 3 hal yang mendorong ke arah kuat, yaitu satu warna dan dua sifat. Berbeda dengan lawannya yang hanya satu warna dan satu sifat. Begitu pula selanjutnya.

Selanjutnya wanita yang mengalami istihadloh haidl, terbagi menjadi tujuh macam, antara lain:

  1. Mubtadiah Mumayyizah

Yaitu wanita yang baru pertama kali mengalami haidl. pada saat itu darah yang keluar melebihi batas maksimal haidl (15 hari 15 malam). Serta darah itu dapat dibedakan antara yang kuat dan lemah. Bagi mustahadloh ini, ketentuan hukum darahnya sebagai berikut:

Darah kuat dihukumi             : haidl

Darah lemah dihukumi          : istihadloh

Wanita yang seperti ini disebut mumayyizah jika memenuhi 3 syarat:

  1. Darah kuat tidak kurang dari sehari semalam (24 jam)
  2. Darah kuat tidak melebihi 15 hari 15 malam
  3. Darah lemah tidak kurang dari 15 hari 15 malam dan keluar secara terus menerus

Baca Juga:

Syarat yang ketiga ini diberlakukan jika ada darah kuat yang sama dengan darah pertama keluar lagi, karena syarat ini hanya untuk menentukan darah kuat yang kedua dihukumi darah haidl (bukan untuk menentukan haidl terhadap darah kuat pertama) dan masa keluar darah lemah dihukumi sebagai pemisah diantara dua haidl.

Sedangkan jika tidak ada darah kuat kedua maka syarat ketiga ini tidak di berlakukan (wanita seperti ini masih dihukumi mumayyizah dengan hanya membutuhkan syarat ke 1-2).

Contoh: seorang wanita yang belum pernah haidl mengeluarkan darah yaitu darah kuat selama 5 hari, darah lemah selama 25 hari. Maka 5 hari dihukumi darah haidl, dan 25 hari istihadloh.

Bagi Mubtadi’ah Mumayyizah, dalam melaksanakan mandi pada bulan pertama ia harus menanti selama 15 hari. Sedangan pada bulan kedua dan selanjutnya, jika darah masih keluar, wajib mandi di saat ia telah melihat perpindahan darah kuat ke darah lemah.

Semua permasalahan diatas, tanpa memandang darah kuat keluar lebih dahulu atau di akhir.

  1. Mubtadi’ah Ghoiru Mumayyizah

Yaitu wanita yang baru pertama kali mengalami haidl. Pada saat itu darah yang keluar melebihi batas maksimal haidl (15 hari 15 malam) dalam satu warna atau lebih dari satu warna namun tidak memenuhi 3 syarat yang terdapat mubtadi’ah mumayyizah.

Sedangkan penentuan hukum darahnya, sehari semalam awal dihukumi haidl, dan 29 hari selebihnya dihukumi istihadloh untuk tiap bulannya. Hal ini kalau memang dia ingat betul kapan ia mulai keluar darah. 

Contoh 1: mengeluarkan darah selama 1 bulan. Semua sifatnya (lemah dan kuatnya) sama, maka yang dihukumi haidl hanya sehari semalam yang pertama. Dan sebaiknya dihukumi istihadloh.

Contoh 2: mengeluarkan darah silih berganti. Sehari darah kuat, sehari darah lemah. Begitu seterusnya hingga 30 hari. Maka yang dihukumi haidl hanya 1 hari 1 malam pertama. Karena darah lemah tidak keluar selama 15 hari 15 malam secara terus menerus. Dan selebihnya dihukumi istihadloh.

Untuk perempuan tersebut (contoh 2), pada bulan pertama mandinya harus menanti 15 hari 15 malam. Dan ia harus mengqodlo’i sholat yang ditinggalkan selama 14 hari (yaitu mulai hari kedua sampai 15).

Dan untuk bulan selanjutnya (bila darah keluar berbulan-bulan) mandinya tidak usah menunggu 15 hari, namun pada saat keluarnya darah sudah genap sehari semalam, sehingga ia tidak punya hutang sholat pada bulan-bulan itu.

Baca Juga:

  1. Mu’tadah Mumayyizah

Yaitu wanita yang sudah pernah haidl dan suci. Kemudian ia mengeluarkan darah melebihi batas maksimal haidl (15 hari 15 malam). Serta darah yang keluar dapat dibedakan antara yang kuat kuat dan lemah dan memenuhi syarat-syarat mubtadi’in mumayyizah.

Mengenai hukumnya adalah sebagaimana Mubtadi’ah mumayyizah, yaitu darah kuat dihukumi haidl dan darah lemah dihukumi istihadloh, begitu pula masalah mandinya.

Contoh: mengeluarkan darah selama 27 hari, dengan perincian darah kuat selama 12 hari, darah lemah selama 15 hari. Maka haidlnya adalah 12 hari dan 15 hari dihukumi istihadloh.

Baca Juga:

Namun jika antara darah kuat dan adat atau kebiasaan, terpisah oleh masa 15 hari (aqolluttuhri), maka darah lemah yang jumlahnya sala dengan kebiasaan haidlnya, serta darah kuat yang keluar setelahnya dihukumi haidl. dan darah lemah ditengahnya dihukumi istihadloh.

  1. Mu’tadah ghoiru mumayyizah dzakiroh li’adatiha qodron wa waqtan

Yaitu wanita yang sudah pernah haidl dan suci. Kemudian ia mengeluarkan darah melebihi batas maksimal haidl (15 hari 15 malam) dalam satu warna atau lebih dari satu warna akan tetapi tidak memenuhi 3 syarat mubatdi’ah mumayyizah. Dan ia ingat kebiasaan lama dan mulai haidl yang penah ia alami.

Sedangkan ketentuan haidl dan sucinya, disesuaikan dengan adatnya. Dan adat yang dijadikan pedoman atau acuan, cukup satu kali haidl, tidak disyaratkan berulang-ulang jika adat atau kebiasaan haidnya tidak berubah-ubah.

  1. Mu’tadah ghoiru mumayyizah nasiyah li’adatiha qodron wa waktan

Yaitu wanita yang sudah pernah haidl dan suci. Kemudian ia mengeluarkan darah melebihi batas maksimal haidl (15 hari 15 malam). Serta antara darah lemah dan kuat tidak bisa dibedakan (satu warna), atau bisa dibedakan (lebih dari satu warna) akan tetapi tidak memenuhi 3 syarat mumayyizah, dan dia lupa kebiasaan mulai dan lama haidl yang pernah dialaminya.

Mustahadloh ini juga dikenal dengan mutahayyiroh/muhayyaroh/muhayyiroh. Maksudnya ia dalam keadaan kebingungan. Karena hari-hari yang ia lalui mungkin haidl dan mungkin suci. Sehingga ia dihukumi sebagaimana orang haidl dalam masalah-masalah seperti hal yang diharamkan untuk wanita haidl.

  1. Mu’tadah ghoiru mumayyizah dzakiroh li’adatiha qodron la waktan

Yaitu wanita yang sudah pernah haidl dan suci. Kemudian ia mengeluarkan darah melebihi batas maksimal haidl (15 hari 15 malam).

Darah yang keluar tidak bisa dipilih antara darah kuat dan lemah (satu warna), atau bisa dipilah (lebih satu warna) akan tetapi darah tersebut tidak memenuhi 3 syarat yang ada pada mubtadi’ah mumayyizah, dan ia hanya ingat kebiasaan lama masa haidl, akan tetapi dia lupa kapan mulainnya.

Hukum penentuan darah wanita seperti ini adalah: hari yang ia yakini biasa haidl, dihukumi haidl. yang ia yakini biasa suci, dihukumi istihadloh. Dan hari-hari yang dimungkinkan suci dan mungkin haidl, ia harus berhati-hati seperti mustahadloh mutahayyiroh.

Contoh:

Seorang wanita mengalami istihadloh (keluar darah lebih 15 hari). Sebelum mengalaminya, ia ingat masa haidl selama 5 hari dalam 10 hari pertama (awal bulan). Namun ia lupa kapan tanggal mulai haidlnya, yang ia ingat hanyalah pada tanggal 1 ia suci. Maka, tanggal 1 dihukumi yakin suci.

Tanggal 2 sampai 5 mungkin haidl mungkin suci, tanggal 6 yakin haidl. tanggal 7 sampai 10, mungkin haidl mungkin suci dan mungkin mulai putusnya haidl. tanggal 11 sampai akhir bulan yakin suci.

Sedangkan hukumnya, waktu yang yakin haidl, ia dihukumi seperti layaknya orang haidl (haram sholat, membaca al qur’an dll).

Waktu yang yakin suci, dihukumi seperti layaknya orang suci (wajib sholat, halal bersetubuh dll).

Sedangkan waktu yang mungkin haidl dan suci, dihukumi sebagaimana mutahayyiroh (wajib berhati-hati seperti keterangan yang lalu). Kecuali masalah mandi, ia hanya wajib mandi pada waktu yang mungkin mulai putusnya haidl (hari ke 7 sampai dengan ke 10).

  1. Mu’tadah ghoiru mumayyizah dzakiroh li’adatiha waktan la qodron

Yaitu wanita yang sudah pernah haidl dan suci. Kemudian ia mengeluarkan darah melebihi batas maksimal haidl (15 hari 15 malam). Serta antara darah lemah dan kuat tidak bisa dibedakan (satu warna), atau bisa dibedakan (lebih satu warna) akan tetapi tidak memenuhi 3 syarat mumayyizah.

Dan ia hanya ingat kebiasaan waktu mulainya haidl, serta lupa kebiasaan lamanya haidl, sebelum istihadloh.

Baca Juga:

Contoh: seorang wanita mengalami istihadloh, (keluar darah lebih 15 hari). Sebelum mengalaminya, dia ingat tanggal 1 mulai haidl, akan tetapi dia tidak ingat sampai kapan haidl tersebut berhenti.

Maka tanggal 1 yakin haidl, tanggal 2 sampai 15, mungkin haidl mungkin suci, juga mungkin mulai putusnya haidl. tanggal 16 sampai akhir bulan, yakin suci.

Sedangkan hukumnya, masa yang yakin haidl, dihukumi seperti layaknya orang yang haidl. masa yang yakin suci, dihukumi seperti layaknya orang suci.

Dan masa yang mungkin haidl mungkin suci dan mungkin putusnya haidl, ia dihukumi seperti wanita muthayyiroh, seperti keterangan yang lalu.

Selanjutnya membahas tentang pembagian mustahadloh nifas serta puasa dan sholat yang harus di qodloi pada artikel selanjutnya. (novia_khil/kuliahislam)

Baca Juga:

SUMBER:

LBM-PPL. 2015. Uyunul Masa-il Linnisa’. Kediri: Lajnah Bahtsul Masa-il Madrasah Hidyatul Mubtadi-ien Pondok Pesantren Lirboyo.