Ini Tentang Nadzar – Bagian 1

Ini Tentang Nadzar – Bagian 1

Sebagian para ulama’ berpendapat bahwa nadzar adalah ibadah. Bahkan sebagian para ulama’ memperkuat dan berkata: nadzar hukumnya sunah, sesuai dengan petunjuk al Qur’an, Hadits, Ijma’ dan qiyas.

Ada pula yang mengatakan hukumnya makruh, karena terdapat dalil yang melarangnya. Kebanyakan para ulama’ menghubungkan pelarangan tersebut dengan nadzar lajaj karena nadzat tersebut merupakan penggantungan pelaksanaan ibadah kepada dilakukannya suatu perbuatan atau ditinggalnya.

Misalkan “apabila saya masuk rumah atau tidak keluar darinya, maka akan ku kerjakan puasa atau shadaqah karena Allah”. Dalam hal ini kemudian nadzir (penadzar) setelah masuk rumah atau tidak keluar dari padanya, diperbolehkan memilih antara menunaikan apa yang ditetapkannya tadi atau membayar kaffarah sumpah. Tidak diharuskan melakukan apa yang ia tetapkan, sekalipun berupa haji.

Dari penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa nadzar merupakan kesanggupan melakukan ibadah yang bukan fardhu ‘ain baik sunah atau fardhu kifayah oleh orang muslim mukallaf yang rasyid (pandai berbuat).

Misalnya kesanggupan selalu mengerjakan shalat witir, menjenguk orang sakit, ziarah kubur bagi orang laki-laki atau nikah bila sampai hukum sunah pada dirinya, lain halnya menurut pendapat segolongan ulama’, berpuasa hari Baidl, hari senin.

Bila hari Senin bertepatan dengan hari tasyriq atau haidl, nifas atau sakit, maka tidak wajib qodlo’. Dan seperti sholat jenazah dan juga merawat mayat.

Baca Juga:

Apabila orang yang bernadzar melakukan puasa pada suatu hari yang telah ia tentukan, maka tidak boleh dilakukan pada hari sebelumnya dan kalau dilakukan juga maka terkena dosa, sebagaimana sebelum datang waktu pelaksanaanya.

Tidak boleh pula dilakukan pada hari sesudahnya tanpa ada udzur, sebagaimana menunda sholat dan kalau dilakukan maka sah sebagai qodho’.

Apabila nadzar melakukan puasa pada hari Kamis dan tidak ditentukan hari Kamis mana yang seharusnya melaksanakan puasa, maka dari itu bisa dilakukan kapan saja hari Kamis.

Kalau sholat dan tidak ditentukan raka’atnya, maka wajib dua raka’at dengan berdiri bagi yang kuasa. Kalau puasa, maka puasa satu hari. Dan apabila puasanya beberapa hari, maka yang dilakukan selama tiga hari.

Ketika sedekah, maka sebesar yang ada harganya dan diberikan kepada orang miskin merdeka atau penduduk daerah setempat bila tidak menentukan, maka diberikan kepada yang sesuai dengan penentuannya.

Nadzar melakukan shalat dengan menentukan tempatnya, tidak wajib pelaksanaannya harus di tempat tersebut. Dan nadzar bershodaqoh dengan menentukan waktu memberikannya, tidak wajib pelaksanaanya harus disesuaikan dengan waktu itu.

Tidak masuk arti “orang muslim mukallaf”, yaitu orang kafir atau anak kecil dan orang gila. Maka nadzar mereka tidak sah, sebagaimana halnya nadzar orang bodoh. Sebagian pendapat mengatakan nadzar orang kafir itu sah.

Tidak termasuk perbuatan ibadah atau dihitung sebagai ibadah, misalnya berpuasa pada hari tasyriq atau sholat tanpa ada sebab pada waktu-waktu makruh. Maka nadzar melakukan dua perbuatan ini tidak masalah.

Baca Juga:

Termasuk arti tindak maksiat yaitu perbuatan makruh, misalnya sholat diatas makam atau nadzar (pemberian) khusus kepada salah satu ayah ibu atau anak-anaknya.

Adapun dengan perbuatan boleh-boleh saja, misalnya “saya nadzar makan dan minum karena Allah”, sekalipun dimaksudkan agar kuat atau semangat melakukan ibadah.

Menurut pendapat yang lebih shohih, menadzarkan perbuatan boleh tidak termasuk “ibadah bukan fardhu ‘ain”, yaitu ibadah yang fardu ‘ain, misalnya perbuatan wajib ain seperti sholat 5 waktu. Membayarkan zakat 2,5% harta dagangan atau menyingkirkan hal-hal haram.

Sesungguhnya nadzar bisa sah dari orang mukallaf itu bila dengan lafadz yang langsung yaitu menetapkan pelaksanaan ibadah tanpa dengan menggantungkan suatu kejadian. Hal tersebut disebut dengan nadzar Tabrrur. (novia/kuliahislam)

Baca Juga:

Sumber:

Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari. Fathul Mu’in. diterjemahkan oleh Hakim, Fikril & Abu Sholahuddin. 2014. Jawa Timur: Lirboyo Press