Ini Tentang Nadzar – Bagian 2

Ini Tentang Nadzar – Bagian 2

Artikel kali ini masih membahas tentang seputar nadzar. Sebelumnya sempat menyinggung tentang nadzar Tabarrur. Nadzar Tabarrur misalnya “Kami wajib menunaikan ini karena Allah”, baik berupa sholat, nusuk, shodaqoh, membaca al qur’an atau I’tikaf.

Atau nadzar tabarrur dengan mengucapkan “Kami wajib melakukan ini” tanpa “Karena Allah”, atau “Kami nadzar begini” sekalipun tanpa menyebut “Karena Allah”, menurut pendapat yang mu’tamad dengan terjadi banyak perselisihan, sebagaimana dijelaskan al-Baghwi dan lain-lain.

Atau juga bisa sah dengan memakai lafdz mu’allaq (tergantung pelaksanaannya pada suatu kejadian) yaitu menetapkan ibadah sebagai imbalan terjadinya suatu kenikmatan yang digemari atau tersingkirnya suatu bencana.

Selanjutnya yaitu nadzar mujazah. Misalnya “Jika Allah menyembuhkan penyakit kami ini atau menyelamatkan diri kami, maka kami wajib begini” atau “…maka kami menetapkan diri kami melakukan begini atau “…maka kewajiban kami melakukan begini”.

Baca Juga:

Tidak termasuk “lafadz” yaitu niat, maka hanya dengan niat di dalam hati tanpa di lafadzkan dengan lisan, nadzar belum sah, sebagaimana pula pada aqad-aqad selainnya. Ada yang mengatakan nadzar telah sah hanya dengan niat di dalam hati saja.

Nadzir (penadzar) wajib melakukan apa yang ditetapkan oleh nadzarnya (melakukan iltizamnya) dengan seketika dalam nadzar Tabarrur dan setelah terjadinya mu’allaq alaih dalam nadzar mujazah.

Menurut dhahir dari pembicaraan para ulama’, nadzir pada nadzar Mujazah wajib melakukan iltizamnya dengan seketika setelah terjadi mu’allaq alaih, lain halnya menurut pendapat yang sesuai dengan pembicaraannya Ibnu Abdi Salam.

Baca Juga:

Untuk sahnya dua macam nadzar di atas, tidak disyaratkan adanya qobul (pernyataan setuju) dari Mandzur Lah (orang yang diberi nadzar semacam shodaqoh) juga penerimaan oleh Mandzur Lah, tapi disyaratkan Mandzur Lah tidak menolaknya.

Sah nadzar (membebaskan) tanggungan hutang atas Madin (penghutang), sekalipun tidak diketahui, maka hutang menjadi bebas seketika itu sekalipun tiada qobul dari madin.

Lain halnya menurut pendapat Jalal al-Bulqini. Apabila satu hari sebelum sakit pengantar kematiannya bernadzar memberikan hartanya kepada selain salah seorang ayah, ibu, anak cucunya, maka Mandzur Lah memiliki seluruh harta yang dinadzarkan tanpa disekutui (oleh ahli waris) dalam memilikinya, karena telah hilang hak miliknya sang nadzir.

Bagi orang tua tidak boleh menarik kembali nadzar tersebut. Nadzar sah selaku nadzar Mujazah, dalam semisal “Bilamana saya sakit, maka harta itu saya nadzarkan kepada dia sejak satu hari sebelum saya jatuh sakit”.

Nadzir diperbolehkan menasarufkan harta yang ia nadzarkan sebelum terjadinya Mu’allaq Alaih, (sesuatu dimana terjadinya nadzar tergantung kepadanya).

Apabila ada perkataan seperti “Bila dapat ku capai sesuatu itu, maka saya akan memberikan ini”. Kalimat tersebut tidak bisa dihukumi sebagai nadzar, selama tidak dibarengi kata “penetapan kewajiban berbuat” atau kata “nadzar”.

Segolongan ulama’ mengeluarkan fatwa mengenai dua orang yang hendak jual beli lalu sepakat untuk saling mendazarkan dan kemudian melakukan kesepakatannya itu adalah sah sekalipun nadzar pertama menyambung persyaratan nadzarnya dengan “Jika denganmu engkau nadzarkan untukku”.

Dan hal itu banyak sekali terjadi dalam kasus barang yang tidak sah diperjualbelikan tetapi sah dinadzarkan.

Pembebasan tanggungan atas nadzir oleh Mandzur Lah adalah dihukumi sah. Al Qadli dalam fathul mu’in berkata tidak ada dipersyaratkan nadzir harus mengetahui Mandzur Bih (Barang yag dinadzarkan), seperti misalnya yang berupa 20% hasil panen biji-bijian Mu’asy-syar (biji-bijian yang wajib dikeluarkan zakatnya 20% atau 10%), seluruh anak yang akan lahir dari budakku ini, atau sekuruh buah-buahan hasil pohonku ini.

Al Qodli menyatakan juga bahwa 20% biji-bijian yang dinadzarkan tersebut adalah tidak wajib dizakati. Ulama’ lain berkata “Ketidakwajibannya adalah jika dinadzarkan sejak sebelum biji mengeras.

Baca Juga:

Sah nadzar, demikian pula wahiat kepada anak yang masih berada didalam kandungan, bahkan hal ini lebih utama. Tidak sah nadzar kepada orang mati, kecuali kepada makmum sang guru dan penadzar bermaksud, ibadah dengan nadzarnya.

Misalnya menyalakan lampu yang dapat dimanfaatkan, atau yang telah berlaku kebiasaan nadzar kepada orang mati maka diarahkan pada kebiasaan tersebut. (novia/kuliahislam)

 

Sumber:

Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari. Fathul Mu’in. diterjemahkan oleh Hakim, Fikril & Abu Sholahuddin. 2014. Jawa Timur: Lirboyo Press