Ini Tentang Najis

Ini Tentang Najis

Ketika kalian melihat kotoran dari anak adam atau manusia, dari hewan baik hidup didarat maupun di air yang mengenai pakaian kalian, maka hukum pakaian tersebut adalah najis.

Dalam kitab Fathul qarib Najis secara etimologi ialah perkara yang menjijikkan. Sedangkan secara terminologi syara’ ialah setiap benda yang haram dikonsumsi secara mutlak dalam keadaan bebas serta mudah membedakannya, bukan karena dimuliakan, menjijikkan, dan berbahaya untuk badan atau pikiran

Dikitab Fathul Mu’in dijelaskan bahwa najis secara syara’ adalah sesuatu yang menjijikkan yang dapat mencegah absahan shalat.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa najis merupakan sesuatu yang menjijikkan baik dari susuatu yang halal dikonsumsi maupun tidak, baik keluar dari hewan yang ketika luka darahnya mengalir atau tidak.

Contoh dari barang-barang najis antara lain arak, air seni, feses baik dari manusia maupun hewan, cairan dari muntahan, darah baik darah dari hewan atau manusia, madzi, nanah, anjing, babi, dan lain sebagainya.

Baca Juga:

Hewan-hewan yang habitat atau hidupnya didarat hukumnya haram untuk dikonsumsi ketika masih dalam keadaan hidup, apabila bulu atau rambut atau kuku lepas, maka hukumnya najis. Seperti rambut kucing ketika lepas maka hukumnya najis.

Sebaliknya hewan-hewan yang habitat atau hidupnya didarat dan hukumnya halal untuk dikonsumsi dan masih dalam keadaan hidup, ketika bulu atau rambut atau kuku lepas, maka hukumnya suci atau tidak najis. Akan tetapi apabila bagian tubuh hewan tersebut lepas seperti telinga atau ekor, maka hukumnya haram.

Semua susu hewan yang haram dikonsumsi hukumnya najis, akan tetapi sperma atau mani atau telurnya hukumnya suci apabila disentuh.

Apabila ada hewan yang tidak mengalir darahnya ketika di sobek atau luka seperti semut kecoa dan hewan lainnya, apabila jatuh kedalam air sedikit seperti air yang berada di dalam gelas, maka hukum air tersebut najis tapi tidak apa-apa atau ma’fu.

Sama halnya ketika ada air sedikit kepercikan najis dan tidak terlihat jelas oleh mata, maka hukumnya najis tapi tidak apa-apa atau ma’fu.

Selanjutnya kalau seandainya ada hewan yang mengeluarkan kotoran dan memuntahkan sebuah biji dan biji tersebut masih keras sekiranya bila ditanam masih dapat tumbuh, maka hukumnya mutanajis yang dapat menjadi suci dengan dibasuh dan dapat dimakan, jika tidak seperti itu maka hukumnya najis.

Barang lain yang hukumnya najis termasuk madzi, merupakan air berwarna putih atau kuning yang bersifat cair. Secara umum keluar ketika syahwat naik, namun tidak terlalu kuat. Begitu pula wadi, yakni air berwarna putih, keruh, dan kental secara umum biasanya keluar setelah selesai buang air kecil atau saat membawa barang-barang yang berat.

Dan juga darah yang tersisa pada semacam tulang, namun hukumnya najis tapi tidak apa-apa atau di maafkan. Para ulama’ mengecualikan dari darah adalah hati, limpa, misik walaupun misik tersebut dari kijang yang mati bila misik tersebut mengental, darah dan daging kempal, air susu yang keluar dengan warna darah, dan darah yang belum rusak.

Sesuatu yang kembali sebelum sampai pada lambung secara yakin atau kemungkinan hukumnya tidaklah najis dan juga tidak mutanajis.

Kemudian ketika seorang anak kecil diuji dengan selalu muntah, maka putting susu ibunya yang masuk kedalam mulut anak tersebut di ma’fu atau tidak apa-apa (tidak najis). Dan juga seperti empedu, susu hewan yang tidak halal dimakan dagingnya.

Sedangkan mani hukumnya adalah suci. Begitu pula suci air lendir yang keluar selain dari lambung yakni dari kepala atau dada dan air liur dari orang yang tidur walaupun sangat busuk atau berwarna kuning selama tidak jelas bahwa air liur tersebut tidak berasal dari lambung. (novia/kuliahislam)

Baca Juga:

SUMBER:

Risalatul Fiqih oleh K. Ahsan Sholih. Jepara (Ponpes Al Ishlah Al Ishom).

Syaikh Abi Syuja’. Fath al Qarib.diterjemahkan oleh Fauzi Hamzah Ayams & Tohari Muslim. 2018. Jawa Timur: Anfa’ Press.

Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari. Fathul Mu’in. diterjemahkan oleh Hakim, Fikril & Abu Sholahuddin. 2014. Jawa Timur: Lirboyo Press