Ini Tentang Sholat dan Puasa yang Harus di Qodho Sebab Haidl dan Nifas

Ini Tentang Sholat dan Puasa yang Harus di Qodho Sebab Haidl dan Nifas

Dalam artikel sebelumnya sudah membahas apa itu haidl dan nifas. Haidl atau biasa disebut menstruasi, secara bahasa mempunyai arti mengalir. Sedangkan menurut istilah atau syar’I adalah darah yang keluar melalui alat kelamin wanita yang sudah mencapai usia minimal 9 tahun kurang dari 16 hari kurang sedikit (usia 8 tahun 11 bulan 14 hari lebih sedikit).

Sedangkan nifas yaitu darah yang keluar melalui farji perempuan setelah melahirkan atau belum melebihi 15 hari setelahnya, bila darah tidak langsung keluar.

Dari pengertian diatas dapat dipahami bahwa darah haidl dan nifas apabila dilihat dari waktu keluarnya berbeda, darah haidl keluar minimal satu bulan sekali, sedangkan darah nifas keluar pada waktu setelah melahirkan.

Adapun persamaan dari darah haidl dan nifas yaitu ketentuan dalam mengqodlo sholat maupun puasa. Untuk lebih jelasnya mari simak penjelas berikut.

Bagi wanita yang mengalami haidl atau nifas. Ada hal-hal yang harus diperhatikannya, diantaranya yaitu:

  1. Qodlo sholat.

Dalam istilah fiqih, haidl dan nifas ini termasuk mawani’ussholah (sesuatu yang mencegah dilakukannya sholat).

Dan sholat yang ditinggalkan selama masa haidl atau nifas, hukumnya haram untuk di qodlo. Namun demikian bukan berarti ia bebas total dari beban qodlo sholat.

Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa, datangnya mani’ussholah (sesuatu yang mencegah dilakukannya sholat) akan mengakibatkan hutang sholat yang saat mani’nya hilang harus qodlo.

Ketentuannya adalah bilamana datangnya mani’ itu berada di dalam ruang waktu sholat dan telah melewati jarak waktu yang sekiranya cukup digunakan untuk melakukan sholat tersebut, sementara ia belum melaksanakannya.

Baca Juga:

Hal ini apabila ia tidak mengalami dawamul hadats (orang yang selalu mengeluarkan hadats). Kalua ia dawamul hadats, maka kewajiban qodlo itu disyaratkan satangnya mani’ tersebut telah melewati jarak waktu yang cukup digunakan sholat dan bersuci.

Dan yang harus diqodloi adalah sholat yang belum sempat dikerjakan saat datangnya mani’ saja, tidak dengan sholat sebelum atau sesudahnya, meskipun kedua sholat tersebut bisa dijama’.

Kemudian masalah hilangnya mani’, juga tidak lepas dari kemungkinan adanya sholat yang harus di qodho. Yaitu jika hilangnya mani’ ini masih berada dalam waktu sholat yang minimal masih cukup digunakan untuk takbirotul ihram (mengucapkan lafadz Allahu Akbar).

Namun sholat tersebut tidak mungkin dilaksanakan di dalam waktunya. Bila masih mungkin, maka harus dilakukan pada waktu itu (ada’).

Khusus masalah hilangnya mani’, sholat yang harus diqodlo tidak hanya sholat di saat mani’ itu hilang, namun juga sholat sebelumnya ketika masih dalam keadaan haidl, bila kedua sholat tersebut bisa di jama’.

Sedangkan sholat yang bisa dijama’ adalah dzuhur dengan ashar, maghrib dengan isya’. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa sholat sebelum hilangnya mani’ ikut diqodloi bersama sholat saat hilangnya mani’, apabila mani’ tersebut hilang diwaktu ashar dan isya’ saja.

Contoh 1:

Keluar haidl pada pukul 14.00 siang, sementara ia belum sholat dzuhur. Dua hari kemudian, haidl berhenti saat waktu ashar tinggal setengan menit menjelang maghrib.

Maka, sholat yang harus di qodlo’ adalah sholat dzuhur saat datangnya haidl (sebab datangnya haidl telah melewati waktu yang cukup untuk melakukan sholat).

Dan juga sholat ashar saat berhentinya darah serta dzuhur sebelumnya (karena kedua sholat tersebut bisa dijama’ dan saat berhentinya haidl masih ada waktu yang cukup untuk digunakan takbirotul ihram).

Contoh 2:

Keluar haidl pada pukul 21.00 malam, sementara ia belum sholat isya’. Lima hari kemudian, haidl berhenti saat waktu shubuh.

Maka, sholat yang harus di qodlo’ adalah sholat isya’ saat datangnya haidl saja. Sedangkan sholat shubuh saat darah berhenti dilakukan secara ada’, bila waktunya cukup digunakan bersuci (mandi, wudlu) serta sholat pada waktunya.

Contoh 3:

Keluar haidl satu menit setelah masuk waktu ashar. Sepekan kemudian haidlnya berhenti pukul 09.00 pagi.

Maka, sholat yang diqodho tidak ada, sebab saat datangnya haidl meskipun telah masuk waktu ashar, namun belum melewati waktu yang cukup digunakan sholat. Sementara saat berhentinya haidl terjadi diluar waktu sholat.

Baca Juga:

  1. Qodlo puasa

Bila haidl dan nifas terjadi pada bulan Ramadhan, maka semua puasa yang wajib ditinggalkan harus di qodlo. Termasuk puasa yang wajib dilakukan saat darah berhenti, dan masih dihukumi haidl atau nifas. Hal ini biasanya terjadi pada wanita yang haidl atau nifasnya terputus-putus.

Contoh 1:

Awal Ramadhan mulai keluar haidl sampai 2 hari. Kemudian berhenti selama selama 3 hari. Dan di saat itu ia melakukan puasa. Akan tetapi ternyata darah keluar lagi selama 5 hari. Setelah itu suci sampai habisnya bulan Ramadhan.

Maka, puasa yang harus di qodlo adalah 10 hari dari awal Ramadhan. Dikarenakan semua dihukumi hari haidl (termasuk 3 hari yang tidak keluar darah, sehingga puasa yang dilakukan dihukumi tidak sah).

Contoh 2:

Awal Ramadhan mulai keluar nifas sampai 12 hari. Kemudian berhenti selama selama 10 hari. Dan saat berhenti keluar darah ia melakukan puasa, akan tetapi darah nifas keluar lagi selama 5 hari.

Maka, keseluruhan hari (27 hari) puasanya harus di qodlo, termasuk 10 hari saat ia melakukan puasa. Karena puasa tersebut dihukumi tidak sah, mengingat sebetulnya ia masih dalam masa nifas. (novia_khil/kuliahislam)

Baca Juga:

SUMBER:

LBM-PPL. 2015. Uyunul Masa-il Linnisa’. Kediri: Lajnah Bahtsul Masa-il Madrasah Hidyatul Mubtadi-ien Pondok Pesantren Lirboyo.