Inilah 3 Tips Taubat Untuk Mantan Koruptor

Inilah 3 Tips Taubat Untuk Mantan Koruptor

3 Tips Sufi Untuk Mantan Koruptor Menurut Imam Ghazali

Rasulullah Saw bersabda:

وَكُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ اَوْلَى بِهِ

Setiap daging yang tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih berhak terhadapnya”. (HR. Thabarani)

مَنْ اَكَلَ الْحَرَامَ عَصَتْ جَوَارِحُهُ شَاءَ اَمْ اَبَى عَلِمَ اَوْ لَمْ يَعْلَمْ

Orang yang memakan barang haram, maka tubuhnya akan bermaksiat, dia mau atau tidak mau, dia tahu atau tidak tahu”. (Imam Sahl at-Tsauri)

Hadis dan nasehat di atas menunjukkan betapa beratnya konsekuensi makanan haram. Sebab, daging, darah atau tenaga yang berasal dari makanan haram secara otomatis memiliki kecenderungan kuat untuk digunakan melakukan perbuatan haram.

Lalu, apakah pintu surga sudah terkunci untuk orang yang pernah memakan barang haram? Tidak demikian. Tidak ada dosa apapun yang menyebabkan pintu harapan tertutup rapat. Sebesar apapun dosa yang dilakukan oleh seseorang, pintu harapan masih terhampar luas, selagi dia masih memiliki kesempatan untuk bertobat.

Baca Juga:

Justru, putus harapan merupakan suatu yang dikutuk oleh Allah. Manusia harus memiliki harapan untuk mendapatkan pengampunan, karena jika dia sudah hilang harapan, maka dia tidak akan berusaha untuk menghilangkan dosa tersebut dengan cara bertobat.

Sebagaimana yang telah diketahui, taubat hampir pasti diterima jika memenuhi seluruh syaratnya; begitu pula pasti hampir ditolak jika tidak memenuhi syarat-syaratnya. Ulama merumuskan syarat taubat ke dalam tiga hal, yaitu: Berhenti dari perbuatan dosanya, menyesal, dan berkomitmen kuat untuk tidak mengulangi. Jika dosanya terkait dengan hak sesama manusia, maka ada tambahan syarat keempat, yaitu istihlal, yakni mendapatkan maaf dan kerelaan dari pemiliknya, dengan cara meminta maaf dan mengganti jika berupa harta benda.

Terkait dengan hal itu, Imam Ghazali dan Imam Qurthubi memberikan penjelasan sebagai berikut:

Pertama, orang yang seluruh hartanya berasal dari barang haram, maka untuk bertobat dia harus melepaskan diri dari seluruh harta tersebut, kecuali pakaian minimal untuk sekadar menutup aurat saat shalat dan makanan yang ia butuhkan pada hari itu. Imam Qurthubi menyatakan, kadar inilah yang boleh diambil dari hak milik orang lain, saat kondisi darurat.

Kedua, jika sebagian hartanya berasal dari barang haram, dan sebagian yang lain adalah barang halal, sementara keduanya sudah bercampur baur sampai tidak dapat dibedakan, maka dia harus melepas kadar dari harta haram sampai dia yakin bahwa yang tersisa benar-benar halal. Kadar yang dia ragukan kahalalan juga harus dilepas. Jika misalnya yang dia yakini halal hanya sepertiga, maka dua pertiga hartanya harus dilepas.

Baca Juga:

Ketiga, cara melepaskan diri dari harta haram adalah harus mengembalikannya kepada pemilik atau ahli warisnya jika masih bisa diidentifikasi. Jika tidak bisa diidentifikasi atau pemiliknya sangat banyak sehingga tidak mungkin mengembalikannya satu persatu, maka solusinya disedekahkan kepada fakir miskin, dengan niat sebagai sedekah dari pemilik aslinya. Menurut Imam Qurthubi, bisa pula ditasarufkan untuk kemaslahatan umat Islam.

Imam Ghazali menyatakan bahwa menyedekahkan kepada fakir miskin jauh lebih baik daripada meninggalkannya begitu saja. Memang ada tokoh-tokoh sufi yang memilih untuk meninggalkan harta haram yang jatuh ke tangan mereka dengan begitu saja, seperti  yang dilakukan oleh al-Fudhail bin Iyadh. Beliau pernah mendapatkan uang dua dirham. Sejurus kemudian beliau tahu bahwa uang tersebut tidak jelas asal susulnya. Maka beliau membuangnya dan berkata, “Aku tidak akan menyedekahkan sesuatu yang tidak baik”.

Langkah al-Fudhail ini, menurut Imam Ghazali sangat bisa dipahami. Namun, menurut beliau ada banyak dalil hadis dan atsar yang menyatakan bahwa sebaiknya harta tersebut diberikan kepada fakir miskin. Mengenai tidak bolehnya bersedekah dengan memakai uang haram, hal itu jika bersedekah atas nama diri sendiri. Jika bersedekah tersebut diniati sebagai sedekah dari pemilik aslinya, maka persoalannya menjadi berbeda.

Baca Juga:

Nalarnya seperti ini, jika uang itu kita lemparkan ke laut, maka uang itu sia-sia, tidak ada manfaat yang kembali kepada diri kita, kepada pemilik, dan juga kepada fakir miskin. Namun jika uang itu kita lemparkan ke tangan fakir miskin, maka pemiliknya akan mendapatkan pahala dan barokah doa dari si penerima, sementara si penerima bisa mendapatkan manfaat dari harta tersebut.

Apakah pemilik aslinya bisa mendapatkan pahala, padahal dia tidak berniat sedekah? Bisa saja, karena dalam beberapa hadis diterangkan bahwa orang yang menanam pohon, dia mendapatkan pahala ketika buah pohon itu dimakan oleh manusia atau hewan. Padahal, nyaris tidak ada petani yang menanam padi dengan niat bersedekah kepada burung pipit. Iya kan???. Wallahu A’lam. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Menjadi Sufi Berduit, Pon-Pes Sidogiri Jawa Timur