Inilah 6 Perbedaan Dalam Persamaan Fikih Dan Tasawuf

Inilah 6 Perbedaan Dalam Persamaan Fikih Dan Tasawuf

Satu Perbedaan Dalam Sejuta Persamaan

Beberapa perbedaan kerap kali memunculkan friksi yang tajam antara kedua kubu. Bahkan, ulama sufi semisal Imam Ghazali pun tidak secara mutlak diamini oleh ulama-ulama fikih, padahal tidak satu orangpun didunia ini yang meragukan kepakaran beliau dalam bidang fikih dan usul fikih.

Tidak sedikit ditemukan catatan, kritik, bahkan juga kecaman yang datang dari ulama fikih dan hadis terhadap karya monumental beliau, Ihya’ Ulumuddin, terutama menyangkut kesahihan dalil-dalil yang beliau ambil dari hadis Rasulullah. Misalnya, kritik dari Imam Nawawi mengenai dalil beberapa shalat sunnah yang disebutkan dalam ihya’.

Juga kritik keras Abu Bakar Ibnul Arabi, pentolan fikih madzhab Maliki, dan al-Hafidz al-Iraqi (pakar hadis) terhadap dalil-dalil hadis dalam ihya’ yang dinilai lemah dari segi sanad, atau bahkan dinilai maudhu’.

Baca Juga :

Oleh karena itu, terdapat beberapa prinsip yang mesti dipegang agar perbedaan tersebut bisa disikapi dengan wajar dan tidak melahirkan fanatisme yang merugikan.

Pertama, Tasawuf dan fikih harus dipahami sebagai hasil ijtihad para ulama yang kompeten di bidangnya, dan hasil ijtihad tersebut sama-sama tidak maksum. Pandangan yang masih diperdebatkan diantara kedua pihak, sama-sama memiliki kemungkinan untuk benar atau salah. Boleh jadi, salah satu pihak, dalilnya lebih kuat, tapi bukan berarti pihak yang lain mengada-ada, tanpa memiliki pijakan apapun.

Kedua, memiliki semangat untuk mendahulukan sisi persamaannya, dan jika memungkinkan, perbedaan-perbedaan yang terjadi diupayakan untuk dikompromikan, misalnya dengan cara mengarahkan masing-masing pendapat pada kondisi, arah atau penekanan tertentu.

Jika tidak mungkin, maka perlu selalu ditanamkan dalam hati bahwa perbedaan tersebut sangatlah kecil dan tidak seberapa dibanding berjuta-juta persamaan yang disepakati oleh kedua belah pihak.

Ketiga, pemetaan yang obyektif antara perbedaan furu’iyyah dan ushuliyyah. Umumnya, khilafah yang terjadi antara tasawuf dan fikih, bisa dibaca sebagai perbedaan furu’ yang masih bisa ditoleransi, atau perbedaan pendapat yang sudah lumrah terjadi dalam semua bidang keilmuan.

Jangankan antara tasawuf dan fikih, antara madzhab-madzhab fikihpun terjadi banyak sekali perbedaan pendapat yang kadang diurai dan ungkapkan dengan komentar-komentar pedas diantara mereka.

Jangankan antara satu madzhab dengan madzhab lain, antara sesama ulama satu madzhab pun, masih banyak terjadi perdebatan-perdebatan.

Keempat, tidak terpaku pada perorangan, apalagi kalau dia hanyalah oknum. Perbedaan antara tasawuf dan fikih lebih sering terjadi karena kecenderungan pribadi yang tidak mewakili pandangan tasawuf atau fikih secara menyeluruh.

Baca Juga :

Perbedaan antara Imam Ghazali dengan Imam Nawawi misalnya, tidak serta merta bisa dipandang sebagai perbedaan antara fikih dan tasawuf. Akan tetapi, akan lebih bijak jika dianggap sebagai perbedaan pendapat antara dua ulama yang memiliki pijakan dalil yang berbeda.

Oleh karena itu, kalau terjadi perbedaan non furu’iyyah yang tidak mungkin dikompromikan dan tidak bisa ditoleransi, maka hal pertama yang harus dijauhi adalah generalisasi yang terburu-buru dan serba hitam putih. Jangan sampai menuduh seribu orang hanya berdasarkan pernyataan satu orang.

Kelima, niat yang tulus dan pandangan yang obyektif. Niat tulus dangat penting dalam menyikapi perbedaan yang terjadi. Kadangkala, ada saja orang yang terlampau “genit” dalam membela satu pihak dan menyudutkan pihak lain.

Ia mengurangi bermacam-macam kritik hanya untuk menarik perhatian, atau sekadar menunjukkan kehebatan “silatnya” dengan cara mencari-cari kesalahan pihak tertentu. Orang jenis ini biasanya suka menyalahkan, atau mendobrak sesuatu yang sudah mapan.

Keenam, menghargai tujuan masing-masing. Tanpa diperlukan pemikiran yang panjang, sudah sangat jelas bahwa tujuan tasawuf dan fikih sama-sama baik dan mulia. Keduanya berangkat dari satu sumber, dan berjalan menuju pada titik yang sama. Namun, masih terdapat beberapa perbedaan cara pendekatan, sarana, proses, dan jalan yang dilalui oleh masing-masing.

Mengenai perbedaan pendekatan dan proses yang tidak menyentuh nilai substantif, maka bisa diterapkan prinsip, “Yughtafaru fil-wasa’il ma la yughtafaru fil-maqashid” (kesalahan cara/sarana masih bisa ditoleransi, sedangkan kesalahan tujuan tidak bisa ditoleransi).

Prinsip tersebut bisa digabung dengan prinsip lain, bahwa sesuatu yang baik harus dilalui dengan cara yang juga baik.

Apabila berbagai prinsip diatas dipegang dengan baik, maka ketidaksetujuan terhadap pandangan pihak tertentu akan tumbuh sebagai benih tawashau bil-haq (memberi saran yang baik), bukan menjadi bara kebencian yang mengobarkan permusuhan.

Baca Juga :

Prinsip-prinsip itulah yang dipegang oleh para ulama kita, sehingga mereka pada umumnya merupakan figur faqih yang sufi atau figur sufi yang faqih. Meskipun ada yang tidak seperti itu, hanyalah satu titik kecil dalam belanga yang besar. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Menjadi Sufi Berduit, Pon-Pes Sidogiri Jawa Timur