Inilah 7 Manfaat Kondisi Lapar Dalam Tirakat Para Sufi

Inilah 7 Manfaat Kondisi Lapar Dalam Tirakat Para Sufi

Lapar Adalah Makanan Lezat

Di antara 7 manfaat tersebut adalah:

  1. Membeningkan mata hati.

Sebab, selalu kenyang membuat hati seseorang menjadi buta akan kelemahan dirinya. Dia lupa bahwa dirinya adalah makhluk yang sangat lemah. Abu Sulaiman ad-Darani menyatakan, “Lapar membuat nafsumu menjadi lemah dan hatimu menjadi lembut”.

  1. Membangkitkan kesadaran hati tentang bala’ dan azab Allah Swt.

Orang yang kenyang sulit untuk mengingat orang yang sedang kelaparan. Apalagi mengingat nasib orang-orang yang sedang kelaparan dan kehausan di Mahsyar. Atau para penghuni neraka yang lapar dan haus, lalu diberi makanan pohon Zaqqum yang amat busuk dan pahit, serta minuman nanah dan air yang mendidih.

Baca Juga:

  1. Melemahkan nafsu untuk berbuat maksiat.

Ini adalah tujuan paling utama para sufi rela berlapar-lapar secara kontinyu dalam waktu yang lama.

  1. Mengurangi rasa ngantuk dan keinginan untuk tidur.

Jelas sekali bahwa orang yang kenyang sangat mudah mengantuk dan orang yang lapar sulit untuk bisa tidur. Dalam pandangan para sufi, banyak tidur sama halnya dengan menyia-nyiakan waktu untuk sesuatu yang tidak berguna.

  1. Hemat waktu.

Orang yang memenuhi nafsu makan, dia akan menghabiskan banyak waktu, pikiran dan energi untuk urusan perut. Waktu tersebut terbuang percuma untuk sesuatu yang tidak melahirkan manfaat apa-apa. Apalagi, orang yang selalu kenyang akan sulit untuk terus punya wudhu (suci), sehingga keterikatan hatinya dengan ibadah sangatlah lemah.

  1. Biaya hidup orang yang terbiasa lapar jauh lebih ringan.

Urusan perut telah membuat banyak orang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak halal. Atau meskipun halal dia harus bekerja keras dan banyak menghabiskan waktu untuk mendapatkannya. “Orang yang terbiasa kenyang, maka perutnya akan menjadi beban hutang yang terus mencekik lehernya dalam setiap hari”, demikian menurut Imam Ghazali.

Baca Juga:

  1. Orang yang biasa lapar lebih mudah untuk dermawan.

Sebab, selain dia merasakan sendiri penderitaan orang-orang miskin, dia tidak terlalu terbebani dengan kebutuhan makannya sendiri. Faktor utama yang membuat seseorang merasa berat hati untuk bersedekah adalah karena dia menyimpan kelebihan harta untuk kebutuhan hidup diri dan keluarganya di kemudian hari. Pola pikir semacam ini tentu tidak banyak terjadi pada orang-orang yang sudah terbiasa dan siap untuk lapar.

Tentunya masih banyak lagi manfaat-manfaat yang lain dalam kacamata para sufi. Maka tidaklah mengherankan jika lapar benar-benar menjadi makanan yang paling lezat untuk kehidupan spiritual mereka (para sufi). (ir/kuliahislam)

Baca Juga:

Sumber : Menjadi Sufi Berduit, Pon-Pes Sidogiri Jawa Timur