Inilah Fakta Penglaris Kuliner Tali Pocong

Inilah Fakta Penglaris Kuliner Tali Pocong

Kain Kafan Sebagai Sumber Kenikmatan

Pernahkah anda semua mengalami ketika order makanan via ojek online atau membeli makanan di restoran terkenal yang ramai untuk dimakan dirumah, rasanya tidak seenak dan senikmat ketika makan di tempatnya langsung ?

Ada percobaan untuk menginvestigasi fenomena-fenomena mengenai aneka penglaris yang selama ini menjadi kasak-kusuk sebagian orang yang percaya akan hal-hal diluar nalar. Namun, bagi yang tidak percaya akan mengatakan rasa yang tidak seenak saat makan ditempatnya karena makanan itu sudah dingin.

Orang boleh berpendapat tapi kami juga punya pendapat berbeda tanpa bermaksud menyudutkan pihak-pihak tertentu, khususnya pengusaha yang bergerak dibidang kuliner. Kami hanya memaparkan apa yang kami lihat dan pahami tanpa mengesampingkan etika dunia manusia maupun dunia gaib.

Baca Juga :

Isu tentang penglaris air liur dan ludah pocong mungkin sudah jamak menjadi obrolan masyarakat. Penglaris pocong ini masuk ke golongan jenis penglaris menengah ke atas. Jika kita pahami lagi sebuah ilmu ataupun jimat penglaris serta pesugihan rata-rata tidak lepas dari permasalahan ekonomi yang melatarbelakanginya. Tidak jarang terjadi penggadaian iman.

“Saya sudah lelah hidup susah, banyak utang, dihina orang. Sudah berusaha tapi dagangan selalu sepi. Ada gak sih tempat yang bisa buat dagangan saya laris ?” Pertanyaan itu menjadi awal dari dosa besar yang menjerumuskan kepada jurang kesesatan jika dilontarkan kepada orang yang salah. Mereka kemudian akan diantarkan ke seorang dukun yang tahu cara mengaktifkan kekuatan gaib dengan tujuan mengumpulkan kekayaan.

Hasil investigasi retrokognisi menyebutkan, para pelaku penglaris pocong akan diminta berdiam diri disebuah kuburan dengan membaca mantra-mantra yang diberikan oleh dukun. Untuk mencapai kekuatan maksimal, biasanya si pelaku diminta menggali kuburan  untuk mencuri potongan kain kafan orang yang meninggal pada hari-hari tertentu. Kemampuan maksimal didapatkan ketika yang dimakamkan adalah orang yang meninggal pada hari Jum’at Kliwon atau Selasa Kliwon.

Kalau kita mendengar berita khususnya wilayah Jawa Tengah, biasanya warga akan menjaga kuburan baru secara bergantian selama 40 hari. Hal tersebut untuk menghindari terjadinya pencurian kain kafan ataupun jenazah untuk tujuan meng-upgrade ilmu hitam.

Baca Juga :

Usai menjalani ritual mengambil kain kafan beserta tanah kuburan, pelaku akan memberikan kepada si dukun untuk mengaktifkan kekuatan penglaris tersebut. Namun jangan dibayangkan lelaku ini mudah, selama semalam di makam, pencari penglaris ini akan melihat berbagai macam penampakan pocong.

Dukun akan melakukan ritual dengan kain kafan curian selama 24 jam. Setelahnya, tanah kuburan dan kain kafan siap digunakan. Tanah kuburan disebarkan di sekitar tempat usaha sedangkan kain kafan disimpan dan digunakan setiap hari untuk direndam pada kuah masakan serta air minum yang akan disajikan kepada para pembeli.

Kemudian, yang terjadi pocong akan meludah serta meneteskan cairan yang ada di hidung pada setiap masakan serta minuman yang disajikan. Secara tak kasat mata, cairan ludah dan lendir hidung itu berbau busuk seperti mayat. Namun, orang biasa tidak bisa menciumnya, malah makanan dan minuman akan terasa nikmat dan lezat serta membuat ketagihan. Secara kesehatan mungkin juga tidak akan berpengaruh, karena cairan mayat tersebut wujudnya gaib dan air yang terkena kain kafan bekas tersebut juga sudah direbus hingga bakterinya mati.

Namun, jika ada yang sedikit peka, dia akan merasakan mual, bahkan dengan penglihatan mata ketiga, wujud makanan tersebut kadang penuh belatung serta berbau busuk. Hal tersebut juga berpengaruh ketika makanan dibungkus atau dibawa pulang, karena pocong tidak akan bisa meludah sehingga rasanya tidak akan senikmat ketika dimakan di tempatnya. Makanan yang dibawa pulang kadang tidak bertahan lama, akan terasa berair. Ini diibaratkan tanah kuburan yang lembab.

Baca Juga :

Mungkin para pembaca akan bertanya, apakah ada ciri fisik rumah makan atau restoran yang menggunakan media pocong ?

Biasanya yang menggunakan kekuatan ludah pocong, tempat usahanya tampak kurang pencahayaan atau remang-remang, pengunjungnya berlimpah ruah bahkan sampai rela antri lama. Selain itu, di depan tempat makan itu kadang ada pohon yang biasanya digunakan untuk istirahat sosok pocong selepas tempat makan itu tutup.

Untuk menghindari ludah pocong sebenarnya mudah, berdoa dahulu sebelum makan bukan malah memfoto makanan.

Dari sisi pocong sendiri, sebenarnya mereka tidak terima dengan perlakuan manusia-manusia serakah yang menghalalkan segala cara. Energi yang digunakan adalah qorin orang yang telah meninggal, tapi mereka seperti terkunci karena kain kafan yang telah diambil dipergunakan untuk menekan qorin tersebut bekerja.

Logika mudahnya, sebenarnya qorin tersebut diibaratkan mencari kain kafan yang telah diambil, sehingga dia akan mencari atau mencium makanan dan minuman yang dihidangkan, karena air yang digunakan ialah air rendaman kain kafan. Pocong meludahi makanan adalah perintah dari si dukun. Pocong tidak bisa kabur kemana-mana karena sudah diberi pagar gaib, dengan media tanah kuburan yang di sebarkan tadi.

Baca Juga :

“Kami ditugaskan Tuan untuk meludahi setiap makanan karena dijanjikan kain kafan kami akan dikembalikan. Kami yang sudah dikubur, butuh ketenangan, bukan diperlakukan seperti ini”.

Itulah jawaban pocong penglaris ketika kami mencoba bertanya. Pada intinya mereka tersiksa dengan perlakuan ini. Wallahu A’lam. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Kisah Tanah Jawa Penerbit Gagas Media Ciganjur-Jagakarsa