Inilah Hakikat Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Inilah Hakikat Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Memahami Hakikat Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Salah satu prinsip terpenting dalam amar ma’ruf nahi munkar adalah memiliki pengetahuan memadai tentang amar ma’ruf nahi munkar bagi pelakunya. Karena amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukan tanpa adanya pengetahuan yang memadai akan menimbulkan mafsadat yang lebih besar alih-alih maslahat. Seperti pernyataan Imam Nawawi Banten dalam Syarh Sulam Taufiq :

أن كل من كان قليل العقل لا يصلح ان يكون داعيا الي الله لأن الذي يفسده اكثر من الذي يصلحه

“Orang yang berpengetahuan minim tidak layak melakukan dakwah. Karena mafsadat yang ditimbulkan akan lebih besar daripada manfaatnya”.

Ibnu Taimiyyah juga menegaskan hal tersebut :

والفريق الثانى : من يريد ان يأمر و ينهى إما بلسانه و إما بيده مطلقا من غير فقه و حلم و صبر و نظر فيما يصلح من ذلك وما لا يصلح وما يقدر عليه وما لا يقدر

“Kelompok kedua (yang keliru dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar) adalah mereka yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan lisan ataupun tangan secara mutlak. Tanpa dasar pengetahuan yang cukup, tanpa kebijaksanaan dan kesabaran dalam bertindak. Tidak mempertimbangkan mana yang maslahat dan mana yang mudarat dan mana yang sanggup ia lakukan dan mana yang tidak”.

Baca Juga :

Mengapa demikian ? Karena, jika orang berpengetahuan dangkal melakukan amar ma’ruf nahi munkar dikhawatirkan ia akan memerintah atau melarang sesuatu tidak sesuai dengan syariat. Telah diterangkan didepan bahwa amar ma’ruf nahi munkar  harus berdasar dan berpijak pada syariat. Maka dengan begitu, orang awam tidak boleh melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Bagi orang awam, lebih prioritas belajar ilmu agama bukan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Allah berfirman dalam QS. Muhammad : 19 yang artinya sebagai berikut :

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bagi orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan”. (QS. Muhammad : 19)

Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa sebelum memohon ampunan harus terlebih dahulu mengetahui (memiliki ilmu) bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT. Hal tersebut memberi isyarat bahwa sebuah amal tidak diakui jika tidak didahului dengan ilmu. Bahkan, Imam Bukhari sampai membuat bab khusus di dalam kitab shahih-nya mengenai kewajiban memiliki ilmu sebelum melakukan amal.

Baca Juga :

Kemudian, ada tiga hal yang harus benar-benar diketahui dan dipahami sebelum melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

  1. Harus mengetahui apa yang ia perintahkan dan apa yang ia larang. Dalam arti ia harus mengetahui hukum-hukum syariat dan ilmu fikih. Merupakan kesalahan yang fatal jika melakukan amar ma’ruf nahi munkar tetapi ia tidak menguasai ilmu fikih. Karena ia akan mengatakan suatu hal wajib, padahal tidak. Atau mengatakan suatu hal haram, padahal tidak demikian. Maka ia akan mengharamkan hal yang halal dan menghalalkan hal yang haram.
  2. Mengetahui kondisi orang yang menjadi objek amar ma’ruf nahi munkar. Hal ini sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW ketika mengutus Mu’adz bin Jabal ra. untuk memberi ajakan kepada penduduk Yaman agar mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebelum mengutus Mu’adz bin Jabal, Nabi terlebih dahulu mendeskripsikan siapa yang akan dihadapi olehnya. Selain mengetahui kondisi masyarakat, juga harus mengetahui cara menghadapi mereka untuk bisa mendapatkan hati mereka.
  3. Mengetahui tata cara melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah hal yang terpenting untuk diketahui.

Selain itu, yang harus dipahami adalah perintah Allah untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar hanyalah sebatas usaha untuk menghilangkan kemungkaran. Sebab, hilangnya kemungkaran itu bukan kawasan manusia tetapi merupakan hak preogratif Allah. Karena, hidayah diberikan oleh Allah hanya pada orang yang Dia kehendaki. Bahkan Allah pernah menghibur Rasulullah SAW tatkala beliau merasa resah dalam upaya beliau untuk menghilangkan kemungkaran. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah : 272 yang artinya sebagai berikut :

“Bukan kewajibanmu memberi petunjuk kepada mereka, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. Al-Baqarah : 272)

Baca Juga : 

Di sisi lain, saat ajakan Nabi Muhammad SAW mengalami kegagalan demi kegagalan, Allah pun memberi wahyu pada Nabi agar beliau tidak terlalu risau akan hal itu.

Jika hal ini tidak dipahami, maka yang akan terjadi adalah tindakan anarkis. Ketika orang yang diperintahkan tidak patuh atau yang dilarang tidak berhenti maka yang terjadi adalah kemarahan dan pemaksaan. Amar ma’ruf nahi munkar yang semula bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan hanya akan menjadi sebuah luapan emosi kepada orang yang tidak menuruti kemauan pelakunya. Dan amar ma’ruf nahi munkar semacam ini tidak akan pernah menemui batas akhir dan tidak pernah ada habis-habisnya. Hal ini dikarenakan perbuata dosa adalah keniscayaan dan sunnatullah yang tidak akan hilang di muka bumi sampai hari kiamat. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Kritik Ideologi Radikal, Deradikalisasi doktrin keagamaan ekstrem dalam upaya meneguhkan Islam berwawasan kebangsaan. Lirboyo Press 2019