Inilah Kata-Kata Mutiara Sa’id Bin Al-Musayyab

Inilah Kata-Kata Mutiara Sa’id Bin Al-Musayyab

Biografi Lengkap Sa’id Bin Musayyab

Dari Abdullah bin Muhammad, dia mengatakan, Sa’id bin al-Musayyab menceritakan kepada kami, dia mengatakan, “Tidaklah para hamba dimuliakan oleh dirinya sendiri sebagaimana menaati Allah dan tidaklah dirinya menghinakannya sebagaimana kemaksiatan kepada Allah. Dan cukplah seorang mukmin mendapatkan  pertolongan dari Allah bila dia melihat musuhnya melakukan kemaksiatan kepada Allah”.

Dari Abdullah bin Harmalah, dia mengatakan, Sa’id bin al-Musayyab mengatakan, “Janganlah mengatakan Mushaihif (untuk mushaf) Musaijid (untuk masjid). Segala yang diperuntukkan bagi Allah haruslah suatu yang agung, baik, lagi indah”.

Dari Ali bin Zaid, dari Sa’id bin al-Musayyab, dia mengatakan, “Tidaklah setan putus asa dari sesuatu melainkan dia mendatanginya dari arah wanita”. Kemudian Sa’id mengatakan, padahal saat itu dia telah berusia 84 tahun, dan salah satu matanya telah buta, dan mata lainnya dia rasakan kabur, “Tidak ada sesuatu apapun fitnah /godaan yang lebih aku takutkan daripada wanita”.

Dari Abdurrahman bin Harmalah bahwa dia pernah bertanya kepada Sa’id bin al-Musayyab, “Aku melihat seseorang sedang mabuk, bagaimana menurutmu bila aku tidak melaporkannya kepada penguasa?” Sa’id mengatakan kepadanya, “Jika engkau sanggup menutupinya dengan pakaianmu, maka tutupilah dia”.

Baca Juga:

Dari Abu Isa al-Khurasani, dari Sa’id bin al-Musayyab, dia mengatakan, “Janganlah kalian memenuhi mata kalian dengan (memandang) para penolong kedhaliman kecuali dengan pengingkaran dari hati kalian, agar amal-amal shalih kalian tidak menjadi terhapus”.

Dari Sufyan bin Uyainah, dia mengatakan, Sa’id bin al-Musayyab mengatakan, “Sesungguhnya dunia adalah hina, dan cenderung kepada segala kehinaan. Dan lebih hina daripadanya ialah mengambilnya dengan tanpa hak, mencarinya dengan tanpa hak, dan membelanjakannya pada jalan yang tidak seharusnya”.

Wafatnya Sa’id Bin Al-Musayyab

Dari Abdurrahman bin Harmalah, dia mengatakan, “Aku menemui Sa’id bin al-Musayyab saat beliau sakit keras, dan saat itu beliau sedang shalat Dhuhur dalam keadaan berbaring memberi isyarat. Lalu aku mendengar beliau membaca surat ash-Syams وَٱلشَّمۡسِ وَضُحَىٰهَا

Baca Juga:

Dari Abdurrahman bin al-Harits al-Mahzumi, dia mengatakan, “Sakit Sa’id bin al-Musayyab sudah parah, lalu Nafi’ bin Jubair menjenguknya, ternyata Sa’id pingsan. Maka Nafi’ mengatakan, ‘Hadapkanlah dia ke arah kiblat’. Mereka pun melakukannya. Maka Said siuman, lalu beliau mengatakan, ‘Siapakah yang menyuruh kalian merubah tempat tidurku ke arah kiblat, apakah Nafi’?’ Nafi’ menjawab, ‘Ya’. Sa’id bin al-Musayyab mengatakan kepadanya, ‘Jika aku tidak dalam keadaan berpegang teguh pada kiblat dan agama ini, demi Allah, tindakan kalian menghadapkan tempat tidurku ini ke arah kiblat tidak akan bermanfaat apa-apa bagiku”.

Dari Yahya bin Sa’id, dia mengatakan, “Ketika Sa’id bin al-Musayyab menghadapi sakaratul maut, dia meninggalkan sejumlah dinar, maka dia berucap, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa aku tidak meninggalkannya melainkan untuk memelihara nama baik keluargaku dan agamaku”.

Dari Abdul Hakim bin Abdullah bin Abu Farwah, dia mengatakan, “Sa’id bin al-Musayyab wafat di Madinah pada 94 H, pada masa kekhalifahan al-Walid bin Abdul Malik, dalam usia 75 tahun. Tahun wafat Sa’id ini disebut sebagai Tahun Fuqaha’, karena banyak dari kalangan para ahli fikih yang wafat pada tahun tersebut”.

Baca Juga:

Pada tahun tersebut ada tujuh ahli fikih Madinah (yang dikenal dengan al-Fuqaha’ as-Sab’ah) yang meninggal dunia, yaitu Abu Muhammad Urwah bin az-Zubair, Abu Bakar bin Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam bin al-Mughirah al-Makhzumi, Zainal Abidin Ali bin al-Husain al-Hasyimi salah seorang pemuka ulama dan kaum zuhud, dan Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf az-Zuhri, salah seorang imam terkemuka. Semoga Allah merahmati mereka semua. Amiin. (ir/kuliahislam)

 

Sumber: Biografi 60 Ulama Ahlus Sunnah, Darul Haq.