Inilah Kata-Kata Mutiara Sa’id Bin Jubair

Inilah Kata-Kata Mutiara Sa’id Bin Jubair

Dari Atha’ bin Dinar, dari Sa’id bin Jubair, dia mengatakan, “Sesungguhnya rasa takut adalah bila engkau takut kepada Allah hingga rasa takutmu menghalangimu dari kemakisatanmu. Itulah rasa takut.

Dzikir itu adalah ketaatan kepada Allah. Barangsiapa menaati Allah Swt, berarti dia telah berdzikir kepada-Nya. Barangsiapa tidak menaati-Nya, maka dia bukanlah orang yang berdzikir, meskipun dia banyak bertasbih dan membaca al-Qur’an”.

Dari Habib bin Abu Tsabit, dia mengatakan, “Sa’id bin Jubair mengatakan kepadaku, ‘Sungguh aku menyebarkan ilmuku itu lebih aku sukai daripada aku membawanya masuk ke dalam kuburku”.

Dari Hilal bin Khabbab, dia mengatakan, “Aku bertanya kepada Sa’id bin Jubair, ‘Apa tanda kebinasaan manusia?’. Beliau menjawab, ‘Jika para ulama mereka telah pergi (wafat)”.

Dari umar bin Habib, dia mengatakan, “Sa’id bin Jubair pernah tinggal di Ashbahan dan tidak menuturkan (hadis dan ilmu). Kemudian beliau kembali ke Kuffah, lalu menuturkan (hadis dan ilmu), maka kami bertanya kepada beliau mengenai hal itu, maka beliau menjawab, ‘Sebarkanlah ilmumu di mana saja engkau di kenal”.

Baca Juga:

Dari Abdul Malik bin Sa’id bin Jubair, dia mengatakan, “Ayahku berkata, ‘Tampakkan putus harapan terhadap sesuatu (harta) yang ada di tangan manusia, karena itu adalah sikap cukup (dengan apa yang ada), dan jauhilah apa-apa yang dapat menyebabkan rasa bersalah dan mencari alasan, karena tidaklah dicarikan alasan dari kebaikan’”.

Dari Abdul Karim, dari Sa’id bin Jubair, dia mengatakan, “Sungguh kepalaku dicambuk beberapa kali lebih aku sukai daripada berbicara saat imam berkhutbah pada hari Jum’at”.

Dari Ayyub, dia mengatakan, Sa’id bin Jubair menceritakan suatu hadis,. Aku pun mengukutinya untuk meminta tambahan hadis kepada beliau, maka beliau mengatakan, “Tidak setiap saat aku memerah susu lalu meminumnya”.

Dari Ja’far, dari Sa’id bin Jubair, beliau mengatakan, “Barangsiapa saudaranya seislam bersin di dekatnya lalu dia tidak mendoakannya, maka itu menjadi hutang yang harus dilunasinya pada Hari Kiamat”.

Baca Juga:

Tawakkal Dan Rasa Takut Sa’id Bin Jubair

Dari Dhirar bin Murrah asy-Syaibani, dari Sa’id bin Jubair, beliau mengatakan, “Tawakal kepada Allah adalah inti keimanan”.

Dari Abu Sinan, dari Sa’id bin Jubair, bahwa beliau berdoa, “Ya Allah, aku memohon kepadamu sikap jujur dalam tawakal kepada-Mu dan berbaik sangka kepada-Mu”.

Dari Musa bin Rafi’, dia mengatakan, “Aku menemui Sa’id bin Jubair di Mekkah, dan beliau sedang mengalami sakit kepala yang parah, maka seseorang yang ada di sisinya mengatakan kepada beliau, ‘Sudikah bila kami datangkan kepadamu seseorang yang akan menruqyahmu dari penderitaan ini?’. Dia menjawab, ‘Aku tidak membutuhkan ruqyah’”.

Dari Abu Sinan, dari Sa’id bin Jubair, beliau mengatakan, “Aku pernah disengat kalajengking, maka ibuku bersumpah padaku agar aku minta diruqyah. Aku pun memberikan tanganku yang tidak disengat kalajengking kepada peruqyah, karena aku tidak suka melanggar sumpah ibuku”.

Baca Juga:

Dari al-Qasim al-A’raj, dia mengatakan, “Sa’id bin Jubair sering menangis pada malam hari hingga penglihatannya kabur”.

Diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, beliau berkata, “Seandainya mengingat kematian itu berpisah dari hatiku, niscaya aku khawatir itu akan merusak hatiku”.

Wafatnya Sa’id Bin Jubair

Adz-Dzahabi mengatakan, “Beliau terbunuh di bulan Sya’ban 95 H. Barangsiapa menyangka bahwa dia hidup 49 tahun, maka dia tidak melakukan sesuatupun (yaitu perlawanan terhadap al-Hallaj). Karena telah disebutkan sebelumnya perkataan Sa’id bin Jubair kepada putranya, ‘Ayahmu tidak hidup lagi setelah 57 tahun”. (ir/kuliahislam)

 

Sumber: Biografi 60 Ulama Ahlus Sunnah, Darul Haq