Inilah Ketawadhu’an Umar Bin Abdul Aziz

Inilah Ketawadhu’an Umar Bin Abdul Aziz

Dari Raja’ bin Haiwah, dia mengatkan, “Aku pernah ngobrol pada suatu malam bersama Umar bin Abdul Aziz, lalu lampu rusak, maka aku bergegas untuk memperbaikinya, namun Umar memerintahkan agar duduk, kemudian dia bangkit untuk memperbaikinya. Setelah itu, dia kembali lalu duduk, seraya mengatakan, ‘Aku berdiri sementara aku adalah Umar bin Abdul Aziz. Aku duduk sementara aku adalah Umar bin Abdul Aziz. Seseorang dicela jika menjadikan tamunya sebagai pelayan”.

Dari Ayyub, dia mengatakan, “Dikatakan kepada Umar bin Abdul Aziz, ‘Wahai Amirul Mukminin, sekiranya engkau datang ke Madinah. Jika Allah menakdirkan kematian (bagi Anda), maka anda akan dikubur di tempat penguburan keempat bersama Rasulullah Saw, Abu Bakar dan Umar’. Umar mengatakan, ‘Demi Allah, sungguh Allah mengazabku dengan segala azab –kecuali neraka, karena aku tidak tahan terhadapnya- lebi aku sukai daripada Allah mengetahui dalam hatiku bahwa aku memandang bahwa aku layak mendapatkan hal itu”.

Dari Basyir bin Harits, dia mengatakan, “Ada seorang laki-laki mamuji Umar bin Abdul Aziz secara berlebih-lebihan di hadapannya, maka Umar berkata, ‘Wahai laki-laki, seandainya engkau mengetahui diriku sebagaimana aku mengetahuinya, niscaya engkau tidak memandang wajahku”.

Baca Juga:

Dari Abu Sa’id al-Mu’addib, dari Abdul Karim, dia mengatakan, “Dikatakan kepada Umar, ‘Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas jasamu terhadap Islam’. Umar menimpali, ‘Tidak, bahkan semoga Allah membalas Islam dengan kebaikan atas jasanya terhadapku”.

Kegigihan Umar Bin Abdul Aziz Dalam Menjalankan Sunnah Nabi SAW

Dari Ziyad bin Mikhraq, dia mengatakan, Aku mendengar Umar bin Abdul Aziz saat berkhutbah kepada manusia berkata, “Seandainya bukan karena sunnah yang aku hidupkan atau bid’ah yang aku matikan, niscaya aku tidak peduli bila aku tidak hidup walaupun sesaat”.

Adz-Dhahabi, mengatakan, “Ghailan menampakkan al-Qadar (paham Qadariyah) pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Saat Umar memintanya supaya bertaubat, maka dia mengatakan, ‘Sungguh aku dulu sesat lalu engkau beri aku petunjuk’. Umar berucap, ‘Ya Allah, jika dia jujur (maka segala puji bagi-Mu). Jika tidak, maka saliblah dia dan potonglah kedua tangan dan kedua kakinya’.

Baca Juga:

Doa beliau pun terlaksana. Ghailan di tangkap pada masa kekhalifahan Hisyam bin Andul Malik, lalu kedua kaki dan tangannya di potong, lalu di salib di Damaskus karena menyebarkan paham Qadariyah”.

Yang lain mengatakan, “Bani Umayyah biasa mencaci maki Ali bin Abi Thalib dalam khutbah. Saat Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, maka beliau membatalkan hal itu, dan menulis surat kepada semua wakilnya agar membatalkannya. Sebagai gantinya, beliau membaca;

۞إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan”. (QS. An- Nahl: 90)

Dan pembacaan ayat ini berlangsung hingga sekarang”.

Dari Hazm bin Abu Hazm, dia mengatakan, “Umar bin Abdul Aziz pernah mengatakan dalam ucapannya, ‘Seandainya setiap bid’ah yang dimatikan oleh Allah lewat tanganku, dan setiap sunnah yang dihidupkan Allah lewat tanganku itu dibalas dengan imbalan sepotong dari dagingku hingga tiba yang terakhirnya adalah jiwaku, maka itu adalah sedikit dalam berjuang di jalan Allah”.

Baca Juga:

Dan telah disebutkan sebelumnya perkataan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah,

“Sesungguhnya Allah mendatangkan kepada manusia pada setiap penghujung seratus tahun (satu abad) orang yang mengajarkan sunnah-sunnah kepada mereka, dan menghilangkan kedustaan dari Nabi Muhammad Saw. kami memperhatikan, ternyata di penghujung seratus tahun (pertama) adalah Umar bin Abdul Aziz, sedangkan di penghujung dua ratus tahun (seratus tahun kedua) adalah Imam Syafi’i”. (ir/kuliahislam)

 

Sumber: Biografi 60 Ulama Ahlus Sunnah, Darul Haq