Inilah Kisah Asma’ Binti Umais

Inilah Kisah Asma’ Binti Umais

Wanita yang Mengalami Dua Hijrah dan Istri dari Dua Orang Khalifah

Asma’ binti Umais bin Ma’bad bin Al-Harits Al-Khats’amiyyah, termasuk golongan orang-orang yang terdahulu masuk Islam, dia memeluk Islam sebelum Rasulullah SAW mendatangi kediaman Al-Arqam bin Abi Al-Arqam. Dia adalah istri dari Ja’far bin Abi Thalib atau Ja’far Ath-Thayyar. Dia hijrah bersama suaminya ke Habsyah, melahirkan tiga orang anak untuknya (Abdullah, Muhammad, dan ‘Aun). Kemudian hijrah lagi bersamanya ke Madinah pada tahun ke 7 Hijriyah.

Salah satu keutamaannya yang diabadikan oleh sejarah adalah berita gembira yang pernah diberitahukan oleh Rasulullah SAW kepadanya, bahwasanya orang-orang hanya berhijrah satu kali saja sedangkan dia berhijrah dua kali (ke Habsyah kemudian ke Madinah).

Imam Al-Bukhari meriwayatkan di dalam kitab Shahihnya: Ketika Asma’ datang dari Habsyah, Umar berkata kepadanya, “Wahai wanita Habsyah, kami lebih utama daripada kalian karena kami hijrah (ke Madinah) lebih dulu daripada kalian.” Maka Asma’ pun berkata, “Demi Allah, engkau tidak benar. Kalian berada bersama-sama Rasulullah SAW, beliau memberi makan kepada orang yang kelaparan di antara kalian, serta mengajari orang yang bodoh di antara kalian. Sedangkan kami berada di negeri yang jauh dan terusir. Demi Allah, aku akan mengadukan hal ini kepada Rasulullah SAW.” Lalu dia mendatangi Rasulullah SAW, dan beliau pun bersabda, “Orang-orang hanya berhijrah satu kali, sedangkan kalian berhijrah dua kali.”

Baca Juga :

Demikianlah, sayyidah yang mulia ini telah meraih medali kemuliaan karena dia telah berhijrah dua kali dengan niat karena Allah dan Rasul-Nya. Namun keutamaannya bukan hanya dalam hal hijrah dan jihad saja, akan tetapi dia memiliki keutamaan yang luas dan kekuatan yang luar biasa yang telah mendorongnya untuk keluar bersama Rasulullah SAW demi melaksanakan ibadah haji, padahal saat itu dia sedang hamil tua dan terpaksa melahirkan di wilayah Dzulhulaifah.

Diriwayatkan dari Jabir terkait hadits tentang hajinya Rasulullah SAW: Ketika sampai di Dzulhulaifah, Asma’ binti Umais melahirkan putranya, Muhammad bin Abu Bakar. Lalu dia mengirimkan utusan untuk menanyakan kepada Rasulullah SAW tentang apa yang harus dilakukannya (karena melahirkan itu). Maka beliau pun bersabda, “Mandi dan pakailah kain pembalutmu. Kemudian pakailah pakaian ihrammu kembali.”

Begitulah kenyataannya, dia pergi untuk melaksanakan ibadah haji pada saat hamil tua, dan dia tidak merasa malu untuk bertanya tentang urusan agamanya.

Sebagaimana dia telah berhijrah dua kali, maka Allah swt pun telah memuliakannya melalui pernikahannya dengan dua orang khalifah; yaitu sayyidina Abu Bakar r.a dan sayyidina Ali r.a. dia telah menjadi seorang istri yang baik untuk keduanya.

Sebelumnya, dia ditinggalkan oleh sayyidina Ja’far yang gugur sebagai syuhada, kemudian dia dinikahi oleh sayyidina Abu Bakar r.a dan menjadi istri yang baik baginya serta melahirkan seorang anak yang bernama Muhammad bin Abu Bakar (yaitu anak yang dilahirkan di tengah perjalanan ketika hendak melaksanakan haji wada’). Abu Bakar Ash-Shiddiq sangat mencintainya, sampai-sampai dia berwasiat agar Asma’ lah yang akan memandikannya ketika dia meninggal dunia, maka Asma’ pun memandikan jenazahnya.

Baca Juga :

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abu Baka r.a, bahwasanya Asma’ memandikan jenazah Abu Bakar, lalu dia bertanya kepada para shahabat dari kaum Muhajirin yang hadir di sana, “Sesungguhnya aku sedang shaum, sedangkan cuaca hari ini sangat dingin, apakah aku harus mandi?” Mereka menjawab, “Tidak.”

Setelah itu dia menikah lagi dengan khalifah Ali bin Abi Thalib r.a, lalu melahirkan Yahya dan ‘Aun untuknya. Jadi, dia telah menjadi itri dari dua orang di antara Khulafaur Rasyidin.

Kisah lain yang menunjukkan keagungan Asma’ binti Umais dan kemuliaannya adalah apa yang diriwayatkan tentangnya dalam salah satu percakapannya dengan sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a:

Diriwayatkan dari Zakaria bin Abi Za’idah, dia berkata, “Aku pernah mendengar Amir mengatakan, ‘Ali menikahi Asma’ binti Umais, lalu kedua anaknya (Muhammad bin Abu Bakar dan Muhammad bin Ja’far) saling menyombongkan dirinya sendiri, masing-masing mengatakan, ‘Aku lebih mulia darimu, dan ayahku lebih baik daripada ayahmu’.”

Amir mengatakan, “Maka Ali berkata kepada Asma’, “Tengahilah mereka berdua.’ Asma’ pun berkata, ‘Aku tidak pernah melihat pemuda dari bangsa Arab yang lebih baik daripada Ja’far, dan aku pun tidak pernah melihat lelaki tua yang lebih baik daripada Abu Bakar’.”

Lalu Ali r.a berkata, ‘Engkau tidak menyisakan apapun untuk kami, seandainya engkau mengatakan jawaban yang lain maka pasti aku sudah marah padamu.’ Asma’ pun berkata, ‘Sesungguhnya, di antara tiga orang pilihan, kebaikanmu masih di bawah kebaikan mereka’.”

Baca Juga :

Maksudnya, kebaikanmu paling sedikit di antara ketiga orang pilihan. Tetapi kalian bertiga merupakan orang-orang pilihan, dan kalian semua adalah orang-orang yang mulia. Ali r.a pun memujinya dan lebih mengutamakannya daripada istri-istrinya yang lain.

Demikianlah, Asma’ merupakan seorang wanita yang cerdas dan memiliki pemikiran yang baik, dia mengetahui keutamaan suami-suaminya serta kemuliaan mereka, namun dia juga tidak membuat anak-anaknya marah dan tidak membeda-bedakan di antara mereka. Jadi, dia adalah sebaik-baik wanita yang berhijrah, sebaik-baik istri, dan sebaik-baik ibu. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : AQWAM Solo, Ummu Isra’ Binti ‘Arafah Bayyumi, 66 Muslimah Pengukir Sejarah