Inilah Kisah Awal Mula Umar Bin Abdul Aziz Menjadi Khalifah

Inilah Kisah Awal Mula Umar Bin Abdul Aziz Menjadi Khalifah

Diriwayatkan dari Zubair bin Bakar, dari al-Utbi, dia mengatakan, “Sesungguhnya proses pertama kali (dalam pencarian ilmu) yang tampak jelas dari Umar bin Abdul Aziz bahwa ayahnya menjadi gubernur Mesir, sementara dia masih belia. Diragukan, apakah sudah baligh atau belum.

Saat ayahnya ingin membawanya keluar, Umar berkata, ‘Wahai ayah, mungkin lebih bermanfaat bagiku dan bagimu bila engkau mengirimku ke Madinah, sehingga aku bisa duduk di majlis para ahli fikih penduduknya, dan beradab dengan adab-adab mereka’. Ayahnya pun mengirimkannya ke Madinah.

Di sana dia menjadi masyhur dengan ilmu dan akalnya, meskipun usianya masih belia. Lalu Abdul Malik bin Marwan mengirim utusan kepadanya agar pulang pada saat ayahnya meninggal, lalu membaurkannya dengan anak-anaknya, dan mengutamakannya dibandingkan kebanyakan dari mereka, serta menikahkannya dengan putrinya, Fatimah yang dikatakan mengenainya,

Putri khalifah dan khalifah adalah kakeknya

Saudari perempuan khalifah dan khalifah adalah suaminya

Abu Mushir mengatakan, “Umar menjadi gubernur Madinah pada masa pemerintahan Walid, dari tahun 86 hingga 93 H”.

Baca Juga:

As-Suyuti mengatakan, “Ia sudah hafal al-Qur’an sejak masih kecil. Ayahnya mengirimkannya ke Madinah agar belajar di sana. Dia pergi bolak-balik ke rumah Ubaidillah bin Abdullah untuk mendengar ilmu darinya. Saat ayahnya meninggal, Abdul Malik memintanya pergi ke Damaskus, dan menikahkannya dengan putrinya, Fatimah.

Sebelum menjadi khalifah, Abdul Malik juga unggul dalam keshalihan, hanya saja dia berlebihan dalam bergelimang kenikmatan dan congkak dalam berjalan. Saat Walid memegang tampuk kekhalifahan, dia mengangkat Umar bin Abdul Aziz sebagai gubernur Madinah. Dia pun menjadi gubernur di sana sejak tahun 86 hingga 93 H. setelah Walid memecatnya, dia pergi ke Syam.

Lalu Walid bertekad untuk mencopot saudaranya, Sulaiman, dari statusnya sebagai putra mahkota (yang akan menggantikannya sebagai khalifah), dan bermaksud mengangkat putranya sebagai putra mahkota.

Banyak dari pemuka menaatinya, baik suka rela maupun terpaksa, tapi Umar bin Abdul Aziz menolaknya seraya mengatakan, ‘Ada bai’at di leher kami untuk Sulaiman’. Walid pun murka dan mengurung Umar dalam kamar tertutup.

Baca Juga:

Lalu dia diberi syafaat setelah tiga hari, ternyata mereka mendapatinya dalam keadaan lehernya telah lemas lunglai. Ketika hal itu diberitahukan kepada Sulaiman, maka dia memutuskan untuk menjadikannya sebagai calon pengganti setelahnya”.

Dari Sahl bin Yahya bin Muhammad al-Marwazi, dia mengatakan, ayahku mengabarkan kepadaku dari Abdul Aziz bin Umar bin Abdul Aziz, dia mengatakan, “Saat Umar bin Abdul Aziz mengubur Sulaiman bin Abdul Malik dan naik dari tempat kuburnya, dia mendengar tanah bergemuruh, maka dia bertanya, ‘Suara apakah ini?’. Dia menjawab, ‘Ini suara kendaraan kekhalifahan, wahai Amirul Mukminin. Kendaraan ini didekatkan kepada anda agar anda menungganginya’. Dia menjawab, ‘Aku tidak punya urusan dengan kendaraan itu, jauhkanlah dariku. Bawalah keledaiku kepadaku’. Keledai beliaupun dibawakan kepada beliau lalu beliau menungganginya.

Saat pengawal datang berjalan di depannya dengan membawa tombak, maka dia mengatakan, ‘Menjauhlah dariku, aku tidak punya urusan denganmu. Aku hanyalah seorang Muslim’. Lalu dia berjalan, sedangkan orang-orang berjalan bersamanya hingga masuk masjid. Kemudian dia naik ke atas mimbar, dan orang-orang berkumpul kepadanya, seraya mengatakan, ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku telah diuji dengan urusan ini tanpa terpikir olehku, tanpa memintanya, dan tanpa pula musyawarah dari kaum Muslimin. Sesungguhnya aku telah melepas bai’atku dari leher kalian, maka silahkan kalian pilih untuk diri kalian sendiri’.

Baca Juga:

Orang-orang pun berteriak dengan teriakan yang sama, ‘Kami telah memilihmu, wahai Amirul Mukminin, dan kami ridha kepadamu, maka pimpinlah urusan kami dengan penuh keberkahan’. Saat dia melihat suara telah tenang, dan manusia telah ridha kepadanya, maka dia memuji Allah dan menyanjungnya serta bershalawat kepada Nabi Saw seraya mengatakan,

Aku berpesan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, karena takwa kepada Allah adalah pengganti dari segala sesuatu, sedangkan ketakwaan kepada Allah itu tidak memiliki pengganti. Beramalllah untuk akhirat kalian, karena barangsiapa beramal untuk akhiratnya, maka Allah Saw mencukupi urusan dunianya.

Perbaikilah batin kalian, niscaya Allah Yang Maha Pemurah akan memperbaiki dhahir kalian. Perbanyaklah mengingat kematian, dan persiapkanlah dengan baik sebelum kematian datang kepada kalian, karena kematian adalah penghancur kenikmatan dunia.

Dan sesungguhnya barangsiapa yang tidak mengenang bapak yang masih hidup dari kalangan bapak-bapaknya antara dia dengan Nabi Adam, niscaya itu menyebabkannya berkeringat dalam kematian. Sesungguhnya umat ini tidak berselisih tentang Rabb mereka, tidak tentang Nabi mereka, serta tidak pula tentang Kitab suci mereka, tetapi mereka berselisih tentang dinar dan dirham. Sesungguhnya aku, demi Allah, tidak akan memberi satu dirham pun yang batil kepada seseorang, dan tidak pula menghalangi seseorang dari haknya”.

Lalu dia mengeraskan suaranya hingga dia bisa memperdengarkan kepada banyak orang dengan pernyataannya, “Wahai manusia, barangsiapa taat kepada Allah, maka dia wajib di taati, dan barangsiapa bermaksiat kepada Allah, maka tidak ada ketaatan kepadanya. Taatilah aku selama aku menaati Allah. Jika aku durhaka kepada Allah, maka kalian tidak wajib menaatiku”. (ir/kuliahislam)

 

Sumber: Biografi 60 Ulama Ahlus Sunnah, Darul Haq