Inilah Kisah Hajar, Ibunda Ismail As

Inilah Kisah Hajar, Ibunda Ismail As

Perjuangan Ibunda Ismail As

“Kalau begitu, Allah Tidak akan Menelantarkan kami”

Dalam riwayat tentangnya disebutkan bahwa ketika Sarah istri sayyidina Ibrahim a.s belum juga dikaruniai anak oleh Allah swt, maka dia menghibahkan Hajar kepada suaminya dengan harapan Allah akan memberikan keturunan darinya. Dan ternyata benar, Hajar pun melahirkan sayyidina Ismail a.s. Ketika itulah Sarah merasa cemburu terhadap Hajar, lalu dia memerintahkan suaminya untuk membawa Hajar pergi jauh darinya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, “Wanita pertama yang menggunakan ikat pinggang adalah ibu Nabi Ismail as. Dia menggunakannya untuk menghilangkan jejak dari Sarah. Kemudian Ibrahim as membawanya beserta anaknya, Ismail, yang saat itu ibunya masih menyusuinya, hingga Ibrahim as menempatkan keduanya dekat dengan Baitullah (Ka’bah) pada sebuah tenda di atas zam zam di sebelah atas Masjidil Haram. Waktu itu, di Mekah tidak ada seorang pun yang tinggal di sana, juga tidak ada air. Ibrahim menempatkan keduanya di sana dan meninggalkan sebuah kantong berisi kurma dan geriba berisi air.

Kemudian Ibrahim pergi meninggalkan keduanya. Maka Hajar mengikutinya seraya berkata, ‘Wahai Ibrahim, kemana engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia pun dan tidak ada sesuatu pun ini?’ Hajar terus saja mengulang-ulang pertanyaannya berkali-kali hingga akhirnya Ibrahim tidak menoleh lagi kepadanya. Akhirnya Hajar bertanya, ‘Apakah Allah yang memerintahkanmu atas semuanya ini?’ Ibrahim menjawab, ‘Ya.’ Hajar pun berkata, ‘Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami.’

Baca Juga :

Kemudian ibu Ismail kembali, dan Ibrahim pun melanjutkan perjalanannya. Hingga ketika dia sampai pada sebuah jalan setapak di gunung di mana orang-orang tidak dapat melihatnya lagi, Ibrahim menghadap ke arah Baitullah, kemudian dia berdoa untuk mereka dengan beberapa kalimat doa sambil mengangkat kedua tangannya, dia berkata, ‘Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagaian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabbku, (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.’

Kemudian ibu Ismail mulai menyusui anaknya dan meminum air persediaan. Hingga ketika air yang ada di dalam geriba habis, dia menjadi kehausan, begitu juga anaknya. Lalu dia memandang kepada Ismail sang bayi yang sedang meronta-ronta -atau rawi berkata dengan redaksi: berguling-guling di atas tanah-.

Maka Hajar pun pergi meninggalkan Ismail karena tidak kuat melihat keadaannya. Dia mendatangi bukit Shafa sebagai gunung yang paling dekat dengannya, dia berdiri di sana lalu menghadap ke arah lembah dengan harapan dapat melihat orang di sana, namun dia tidak melihat seorang pun. Maka dia turun dari bukit Shafa.

Ketika sampai di lembah, dia menyingsingkan ujung pakaiannya, kemudian berlari-lari kecil sepeeti jalannya orang yang sedang kesusahan, hingga dia melewati lembah. Kemudian dia sampai di bukit Marwah, lalu berdiri di sana sambil melihat-lihat apakah ada orang di sana, namun dia tidak melihat seorang pun di sana. Dia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali (antara bukit Shafa dan Marwah). Ibnu Abbas ra berkata, “Nabi SAW bersabda, ‘Itulah sa’i yang mesti dilakukan oleh orang (yang berhaji) antara kedua bukit itu’.”

Baca Juga :

Lalu ketika dia berada di puncak Marwah, dia mendengar ada suara. Dia pun berkata dalam hatinya, “Diamlah.” Maksudnya adalah kepada dirinya sendiri. Kemudian dia mendengarnya lagi, maka dia pun berkata, ‘Engkau telah memperdengarka suaramu, jika engkau bermaksud memberi pertolongan maka tolonglah aku.’ Ternyata suara itu suara malaikat (Jibril a.s) yang berada di dekat zam-zam. Lalu Jibril menggali tanah dengan tumitnya –atau rawi mengatakan: dengan sayapnya- hingga air keluar memancar. Ibu Ismail pun langsung membuat kolam air dengan tangannya seperti ini, lalu dia menciduk air dan memasukkannya ke dalam geriba, dan air itu terus saja memancar dengan deras setelah  diciduk.

Ibnu Abbas r.a mengatakan, “Nabi SAW bersabda, ‘Semoga Allah merahmati Ummu Ismail (Hajar). Seandainya dia membiarkan zamzam –atau beliau bersabda- Seandainya dia tidak segera menampung air, tentulah air zamzam itu akan menjadi mata air yang mengalir’.”

Akhirnya dia dapat minum air dan menyusui anaknya kembali. Kemudian malaikat berkata kepadanya, “Jangan kalian takut ditelantarkan, karena di sini adalah Baitullah yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya. Dan sesungguhnya Allah tidak akan menelantarkan hamba-Nya.”

Allah telah meninggikan derajatnya, dan Dia menjadikan umat muslim sebagai sebaik-baik umat yang melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah sebagaimana sa’i yang pernah dia lakukan, hali itu dimaksudkan untuk mempererat hubungan antara kaum muslimin di setiap tempat dan setiap zaman.

Ketika kaum muslimin dan muslimah pada zaman sekarang melaksanakan sa’i antara Shafa dan Marwah, mereka akan mengingat Hajar serta bagaimana Allah telah menganugerahkan air dan keutamaan kepadanya, juga bagaimana hal ini terjadi karena karunia Allah terlebih dahulukemudian karena ketawakalan yang baik dari dirinya terhadap Allah swt.

Baca Juga :

Allah swt berfirman:

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ

 “kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali ‘Imran: 110). (ir/kuliahislam)

 

Sumber : AQWAM Solo, Ummu Isra’ Binti ‘Arafah Bayyumi, 66 Muslimah Pengukir Sejarah