Inilah Misteri Pesugihan Babi Ngepet

Inilah Misteri Pesugihan Babi Ngepet

Fakta Dibalik Pesugihan Babi Ngepet

Dikalangan masyarakat banyak yang berpikir mencari kekayaan dengan jalan hitam seperti menggunakan pesugihan tidak begitu sulit dilakukan asal punya keberanian, dalam arti berani menanggung resiko. Resiko paling besar bagi umat beragama yaitu dilaknati Tuhan, akibat persekutuan manusia dengan setan demi mengejar nafsu.

Salah satu pesugihan yang termasuk tua dan cukup tenar yakni adalah babi ngepet. Kebalikan dengan pesugihan Nyi Blorong yang identik dengan ular dan mencari jimat atau ajian di pantai, pesugihan babi ngepet biasanya mencari di daerah pegunungan. Di daerah Jawa, kami mengidentifikasi dahulu ada pesugihan babi ngepet di sekitar daerah Jawa Tengah seputar Banjarnegara dan Jawa Barat seputar Gunung Salak.

Sebenarnya kami pikir hampir semua pegunungan sama saja, selama gunung tersebut terdapat siluman babi dan terdapat dukun yang mampu menjadi mediator antara siluman babi dan pelaku ritual, maka ritual pesugihan babi ngepet dapat di proses.

Baca Juga :

Hal yang pertama yang diwajibkan untuk ritual babi ngepet adalah pelaku harus sepasang suami istri. Jarang sekali ritual babi ngepet dilakukan oleh dua orang yang tidak memiliki ikatan, dan juga tidak mungkin dilakukan sendiri. Karena satu orang (biasanya suami) berubah wujud menjadi babi dan mulai berkeliling menuju target, sementara satu orang lainnya (biasanya istri) akan menjaga lilin yang berfungsi sebagai indikator dan alarm emergency.

Ritual dimulai dengan ritual puasa, dan hanya makan umbi-umbian untuk berbuka dan sahur (puasa ngrowot) selama kurang lebih 40-100 hari tergantung petunjuk dari dukun. Karena dalam dunia spiritual setiap orang memiliki kemampuan berbeda-beda agar ilmu bisa manjing atau merasuk sempurna. Puasa ini dilakukan oleh pelaku yang menjadi eksekutor atau menjadi babi jadi-jadian, sedangkan yang menjaga lilin atau api tidak diwajibkan berpuasa.

Usai menjalankan puasa tersebut selama 40-100 hari dilanjutkan dengan laku puasa pati geni, tepat pukul 00.00 malam sambil membaca mantra atau rapalan, ritual babi ngepet siap dilakukan.

Baca Juga :

Mantra atau rapalan babi ngepet berbeda satu dukun dengan dukun lainnya. Namun, intinya sama, meminta bantuan siluman babi agar keinginan tercapai. Sementara, puasa pati geni sendiri adalah puasa selama 24 jam, tidak boleh terkena cahaya apapun, biasanya dilakukan didalam ruangan gelap yang tidak tembus cahaya. Semua ubo rampe sudah harus disiapkan malam itu, diantaranya daun pandan yang dironce, telur ayam kampung, benga kenanga, daun sirih dan tembakau, kopi tanpa gula, kembang setaman, ketela bakar setengah matang, dupa yang dibakar, serta lilin atau lampu minyak.

Asap dupa yang dibakar merupakan indikator arah tujuan target yang aman dan dupa panjang itu hanya berlaku untuk sekali perjalanan. Sedangkan lilin atau lampu minyak yang dinyalakan merupakan indikator keamanan. Jika api yang menyala terlihat bergoyang-goyang, tandanya si babi dalam keadaan bahaya atau ketahuan orang dan dikejar-kejar. Jika goyangan pada api semakin tak terkendali, sang penjaga api harus segera meniup. Seiring dengan padamnya api, si babi bisa menghilang tiba-tiba sehingga lolos dari bahaya dan kembali kerumah dengan selamat.

Pesugihan babi ngepet tenar digunakan sejak masa kolonial dengan hanya menggesek-gesekkan kaki dan pantat, hewan jelmaan sanggup menjarah apa yang dikehendakinya. Siluman babi akan membantu manusia yang memujanya untuk mengambil dan membawakan harta yang dicuri dari rumah target kepada orang yang menjaga lilin.

Pada masa kolonial, babi ngepet digunakan untuk mengambil bahan makanan seperti beras dan perhiasan emas. Sasarannya adalah tuan-tuan Belanda dan masyarakat golongan menengah ke atas.

Baca Juga :

Penggunaan ilmu pesugihan babi ngepet pada masa sekarang ini sudah mulai ditinggalkan karena dinilai beresiko tinggi. Selain resiko malu jika ketahuan, lelaku yang dijalankan juga cukup berat. Jika ritual ini gagal di tengah jalan, pelaku pesugihan bisa kehilangan akal sehat. Dan, tentu saja dosa besar sudah menanti. Wallahu A’lam. 

 

Sumber : Kisah Tanah Jawa Penerbit Gagas Media Ciganjur-Jagakarsa