Inilah Puasa-Puasa Yang Diharamkan

Inilah Puasa-Puasa Yang Diharamkan

Hari-Hari Yang Dilakukan Melakukan Puasa

‏( ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺻﻴﺎﻡ ﺧﻤﺲ ﺃﻳﺎﻡ ﺍﻟﻌﻴﺪﺍﻥ ‏) ﺃﻱ ﺻﻮﻡ ﻳﻮﻡ ﻋﻴﺪ ﺍﻟﻔﻄﺮ ﻭﻋﻴﺪ ﺍﻟﺄﺿﺤﻰ‏( ﻭﺃﻳﺎﻡ ﺍﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ‏) ﻭﻫﻲ ‏( ﺍﻟﺜﻠﺎﺛﺔ ‏) ﺍﻟﺘﻲ ﺑﻌﺪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻨﺤﺮ

Haram melakukan puasa di dalam lima hari. Yaitu dua hari raya, maksudnya puasa di hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Dan di hari-hari Tasyrik, yaitu tiga hari setelah hari raya kurban yaitu tanggal 11,12,13 Dzulhijjah.

Puasa Yang Makruh Tahrim

‏( ﻭﻳﻜﺮﻩ ‏) ﺗﺤﺮﻳﻤﺎ ‏( ﺻﻮﻡ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺸﻚ ‏) ﺑﻠﺎ ﺳﺒﺐ ﻳﻘﺘﻀﻲ ﺻﻮﻣﻪ ﻭﺃﺷﺎﺭ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻟﺒﻌﺾ ﺻﻮﺭ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺴﺒﺐ ﺑﻘﻮﻟﻪ ‏( ﺇﻟﺎ ﺃﻥ ﻳﻮﺍﻓﻖ ﻋﺎﺩﺓ ﻟﻪ ‏) ﻓﻲ ﺗﻄﻮﻋﻪ ﻛﻤﻦ ﻋﺎﺩﺗﻪ ﺻﻴﺎﻡ ﻳﻮﻡ ﻭﺇﻓﻄﺎﺭ ﻳﻮﻡ ﻓﻮﺍﻓﻖ ﺻﻮﻣﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺸﻚ ﻭﻟﻪ ﺻﻴﺎﻡ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺸﻚ ﺃﻳﻀﺎ ﻋﻦ ﻗﻀﺎﺀ ﻭﻧﺬﺭ

Hukumnya adalah makruh tahrim melakukan puasa di hari Syak tanpa ada sebab yang menuntut untuk melakukan puasa pada hari itu.

Baca Juga :

Mushannif memberi isyarat pada sebagian contoh-contoh sebab ini dengan perkataan beliau, “kecuali jika kebiasannya melakukan puasa bertepatan dengan hari tersebut”. Seperti orang yang memiliki kebiasaan puasa satu hari dan tidak puasa satu hari (puasa dawud), kemudian giliran puasanya bertepatan dengan hari Syak . Seseorang juga diperkenankan melakukan puasa di hari Syak sebagai pelunasan puasa qadha’ dan puasa nadzar.

ﻭﻳﻮﻡ ﺍﻟﺸﻚ ﻫﻮ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺜﻠﺎﺛﻴﻦ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺮﻯ ﺍﻟﻬﻠﺎﻝ ﻟﻴﻠﺘﻬﺎ ﻣﻊ ﺍﻟﺼﺤﻮ ﻭ ﺗﺤﺪﺙ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﺮﺅﻳﺘﻪ ﻭﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﻋﺪﻝ ﺭﺁﻩ ﺃﻭ ﺷﻬﺪ ﺑﺮﺅﻳﺘﻪ ﺻﺒﻴﺎﻥ ﺃﻭ ﻋﺒﻴﺪ ﺃﻭ ﻓﺴﻘﺔ

Hari Syak adalah hari tanggal tiga puluh Sya’ban ketika hilal tidak terlihat di malam hari sebelumnya padahal langit dalam keadaan terang, sedangkan orang-orang membicarakan bahwa hilal telah terlihat namun tidak ada orang adil yang diketahui telah melihatnyanya, atau yang bersaksi telah melihatnya adalah anak-anak kecil, budak atau orang-orang fasiq.

Orang Yang Melakukan Jima’ di Siang Hari Bulan Ramadhan

‏( ﻭﻣﻦ ﻭﻃﺊ ﻓﻲ ﻧﻬﺎﺭ ﺭﻣﻀﺎﻥ ‏) ﺣﺎﻝ ﻛﻮﻧﻪ ‏( ﻋﺎﻣﺪﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﺝ ‏) ﻭﻫﻮ ﻣﻜﻠﻒ ﺑﺎﻟﺼﻮﻡ ﻭﻧﻮﻯ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻭﻫﻮ ﺁﺛﻢ ﺑﻬﺬﺍ ﺍﻟﻮﻁﺀ ﻟﺄﺟﻞ ﺍﻟﺼﻮﻡ ‏( ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﻭﺍﻟﻜﻔﺎﺭﺓ ﻭﻫﻲ ﻋﺘﻖ ﺭﻗﺒﺔ ﻣﺆﻣﻨﺔ ‏) ﻭﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺴﺢ ﺳﻠﻴﻤﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻴﻮﺏ ﺍﻟﻤﻀﺮﺓ ﺑﺎﻟﻌﻤﻞ ﻭﺍﻟﻜﺴﺐ‏( ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺠﺪ ‏) ﻫﺎ ‏( ﻓﺼﻴﺎﻡ ﺷﻬﺮﻳﻦ ﻣﺘﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﻄﻊ ‏) ﺻﻮﻣﻬﻤﺎ ‏( ﻓﺈﻃﻌﺎﻡ ﺳﺘﻴﻦ ﻣﺴﻜﻴﻨﺎ ‏) ﺃﻭﻓﻘﻴﺮﺍ‏( ﻟﻜﻞ ﻣﺴﻜﻴﻦ ﻣﺪ ‏) ﺃﻱ ﻣﻤﺎ ﻳﺠﺰﺉ ﻓﻲ ﺻﺪﻗﺔ ﺍﻟﻔﻄﺮ ﻓﺈﻥ ﻋﺠﺰ ﻋﻦ ﺍﻟﺠﻤﻴﻊ ﺍﺳﺘﻘﺮﺕ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭﺓ ﻓﻲ ﺫﻣﺘﻪ ﻓﺈﺫﺍ ﻗﺪﺭ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﻋﻠﻰ ﺧﺼﻠﺔ ﻣﻦ ﺧﺼﺎﻝ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭﺓ ﻓﻌﻠﻬﺎ

Barang siapa melakukan jima’ di siang hari bulan Ramadhan dalam keadaan sengaja melakukannya di bagian farji, dan dia adalah orang yang diwajibkan untuk berpuasa dan telah niat melakukan puasa di malam harinya serta dia dianggap berdosa melakukan jima’ tersebut karena berpuasa, maka wajib baginya untuk mengqadha’ puasanya dan membayar kafarat.

Kafarat tersebut adalah memerdekakan budak mukmin. Dalam sebagian redaksi ada penjelasan “budak yang selamat dari cacat yang bisa mengganggu di dalam bekerja dan beraktifitas”.

Jika ia tidak menemukan budak, maka wajib melakukan puasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu melakukan puasa dua bulan, maka wajib memberi makan enam puluh orang miskin atau faqir. Dan masing-masing mendapatkan satu mud, maksudnya dari jenis bahan makanan yang bisa mencukupi di dalam zakat fitrah.

Jika ia tidak mampu melakukan semuanya, maka kafarat tersebut tetap menjadi tanggungannya. Ketika setelah itu ia mampu melakukan salah satunya, maka wajib baginya untuk melakukannya.

Hutang Puasa Hingga Meninggal Dunia

‏( ﻭﻣﻦ ﻣﺎﺕ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﺻﻴﺎﻡ ‏) ﻓﺎﺋﺖ ‏( ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ ‏) ﺑﻌﺬﺭ ﻛﻤﻦ ﺃﻓﻄﺮ ﻓﻴﻪ ﻟﻤﺮﺽ ﻭﻟﻢ ﻳﺘﻤﻜﻦ ﻣﻦ ﻗﻀﺎﺋﻪ ﻛﺄﻥ ﺍﺳﺘﻤﺮ ﻣﺮﺿﻪ ﺣﺘﻰ ﻣﺎﺕ ﻓﻠﺎ ﺇﺛﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻔﺎﺋﺖ ﻭﻟﺎ ﺗﺪﺍﺭﻙ ﻟﻪ ﺑﺎﻟﻔﺪﻳﺔ ﻭﺇﻥ ﻓﺎﺕ ﺑﻐﻴﺮ ﻋﺬﺭ ﻭﻣﺎﺕ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺘﻤﻜﻦ ﻣﻦ ﻗﻀﺎﺋﻪ ‏( ﺃﻃﻌﻢ ﻋﻨﻪ ‏) ﺃﻱ ﺃﺧﺮﺝ ﺍﻟﻮﻟﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻣﻦ ﺗﺮﻛﺘﻪ ‏( ﻟﻜﻞ ﻳﻮﻡ ‏) ﻓﺎﺕ ‏( ﻣﺪ ‏) ﻃﻌﺎﻡ

Barang siapa meninggal dunia dan masih memiliki hutang puasa Ramadhan yang ia tinggalkan sebab udzur seperti orang yang membatalkan puasa sebab sakit dan belum sempat mengqadha’inya semisal sakitnya terus berlanjut hingga ia meninggal dunia, maka tidak ada tanggungan dosa baginya di dalam puasa yang ia tinggalkan ini, dan tidak perlu ditebus dengan fidyah.

Jika hutang puasa tersebut bukan karena udzur dan ia meninggal dunia sebelum sempat mengqadha’inya, maka wajib memberikan makanan sebagai ganti dari hutang puasanya. Maksudnya bagi seorang wali wajib mengeluarkan untuk mayat dari harta peninggalannya. Setiap hari yang telah ditinggalkan diganti dengan satu mud bahan makanan.

ﻭﻫﻮ ﺭﻃﻞ ﻭﺛﻠﺚ ﺑﺎﻟﺒﻐﺪﺍﺩﻱ ﻭﻫﻮ ﺑﺎﻟﻜﻴﻞ ﻧﺼﻒ ﻗﺪﺡ ﻣﺼﺮﻱ ﻭﻣﺎ ﺫﻛﺮﻩ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻫﻮ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﺠﺪﻳﺪ ﻭﺍﻟﻘﺪﻳﻢ ﻟﺎﻳﺘﻌﻴﻦ ﺍﻟﺈﻃﻌﺎﻡ ﺑﻞ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻠﻮﻟﻲ ﺃﻳﻀﺎ ﺃﻥ ﻳﺼﻮﻡ ﻋﻨﻪ ﺑﻞ ﻳﺴﻦ ﻟﻪ ﺫﻟﻚ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻬﺬﺏ ﻭﺻﻮﺏ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻭﺿﺔ ﺍﻟﺠﺰﻡ ﺑﺎﻟﻘﺪﻳﻢ

Satu mud adalah satu rithl lebih sepertiga rithl negara Bagdad. Dan dengan takaran adalah separuh wadah takaran negara Mesir.

Apa yang telah disebutkan oleh mushannif adalah qaul Jadid. Sedangkan menurut qaul Qadim, tidak harus memberi bahan makanan, bahkan bagi wali juga diperkenankan untuk melakukan puasa sebagai pengganti dari orang yang meninggal, bahkan hal itu disunnahkan bagi seorang wali sebagaimana keterangan di dalam kitah Syarh al Muhadzdzab. Dan di dalam kitab ar Raudhah, imam an Nawawi membenarkan kemantapan dengan pendapat qaul Qadim.

Baca Juga :

Lansia dan Orang Sakit Yang Tidak Ada Harapan Sembuh

‏( ﻭﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻬﺮﻡ ‏) ﻭﺍﻟﻌﺠﻮﺯ ﻭﺍﻟﻤﺮﻳﺾ ﺍﻟﺬﻱ ﻟﺎ ﻳﺮﺟﻰ ﺑﺮﺅﻩ ‏( ﺇﺫﺍ ﻋﺠﺰ ‏) ﻛﻞ ﻣﻨﻬﻢ ‏( ﻋﻦ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻳﻔﻄﺮ ﻭﻳﻄﻌﻢ ﻋﻦ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﻣﺪﺍ) ﻭﻟﺎﻳﺠﻮﺯ ﺗﻌﺠﻴﻞ ﺍﻟﻤﺪ ﻗﺒﻞ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺑﻌﺪ ﻓﺠﺮ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ

Orang laki-laki tua, wanita lansia, dan orang sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh, ketika masing-masing dari ketiganya tidak mampu untuk berpuasa, maka diperkenankan untuk tidak berpuasa dan memberi bahan makanan sebanyak satu mud sebagai ganti dari setiap harinya.

Tidak diperkenankan menta’jil pembayaran mud sebelum masuk bulan Ramadhan, dan baru boleh dibayarkan setelah terbit fajar setiap harinya.

Ibu Hamil dan Menyusui

‏( ﻭﺍﻟﺤﺎﻣﻞ ﻭﺍﻟﻤﺮﺿﻊ ﺇﻥ ﺧﺎﻓﺘﺎ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻔﺴﻬﻤﺎ ‏) ﺿﺮﺭﺍ ﻳﻠﺤﻘﻬﻤﺎ ﺑﺎﻟﺼﻮﻡ ﻛﻀﺮﺭ ﺍﻟﻤﺮﻳﺾ ‏( ﺃﻓﻄﺮﺗَﺎ ﻭ ‏) ﻭﺟﺐ ‏( ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﻭﺇﻥ ﺧﺎﻓﺘﺎ ﻋﻠﻰ ﺃﻭﻟﺎﺩﻫﻤﺎ ‏) ﺃﻱ ﺇﺳﻘﺎﻁ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺎﻣﻞ ﻭﻗﻠﺔ ﺍﻟﻠﺒﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺮﺿﻊ ‏( ﺃﻓﻄﺮﺗﺎ ﻭ ‏) ﻭﺟﺐ ‏( ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ‏) ﻟﻠﺈﻓﻄﺎﺭ ‏( ﻭﺍﻟﻜﻔﺎﺭﺓ ‏) ﺃﻳﻀﺎ ﻭﺍﻟﻜﻔﺎﺭﺓ ﺃﻥ ﻳﺨﺮﺝ ‏( ﻋﻦ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﻣﺪ ﻭﻫﻮ ‏) ﻛﻤﺎ ﺳﺒﻖ ‏( ﺭﻃﻞ ﻭﺛﻠﺚ ﺑﺎﻟﻌﺮﺍﻗﻲ ‏) ﻭﻳﻌﺒﺮ ﻋﻨﻪ ﺑﺎﻟﺒﻐﺪﺍﺩﻱ

Bagi wanita hamil dan menyusui, jika keduanya khawatir terjadi sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri sebab berpuasa seperti bahaya yang dialami oleh orang sakit, maka diperkenankan untuk tidak berpuasa dan wajib bagi mereka berdua untuk mengqadha’nya.

Jika keduanya khawatir pada anaknya, maksudnya khawatir keguguran bagi wanita hamil dan sedikitnya air susu bagi ibu menyusui, maka keduanya diperkenankan tidak berpuasa dan wajib bagi keduanya untuk mengqadla’ sebab membatalkan puasa dan juga membayar kafarat.

Kafaratnya adalah setiap harinya wajib mengeluarkan satu mud. Satu mud, seperti yang telah dijelaskan, adalah satu rithl lebih sepertiga rithl negara Iraq. Dan diungkapkan dengan negara Baghdad.

Orang Sakit dan Musafir

‏( ﻭﺍﻟﻤﺮﻳﺾ ﻭﺍﻟﻤﺴﺎﻓﺮ ﺳﻔﺮﺍ ﻃﻮﻳﻠﺎ ‏) ﻣﺒﺎﺣﺎ ﺇﻥ ﺗﻀﺮﺭﺍ ﺑﺎﻟﺼﻮﻡ ‏( ﻳﻔﻄﺮﺍﻥ ﻭﻳﻘﻀﻴﺎﻥ ‏) ﻭﻟﻠﻤﺮﻳﺾ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﺮﺿﻪ ﻣﻄﺒﻘﺎ ﺗﺮﻙ ﺍﻟﻨﻴﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﻄﺒﻘﺎ ﻛﻤﺎ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻳﺤﻢ ﻭﻗﺘﺎ ﺩﻭﻥ ﻭﻗﺖ ﻭﻛﺎﻥ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﺸﺮﻭﻉ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻣﺤﻤﻮﻣﺎ ﻓﻠﻪ ﺗﺮﻙ ﺍﻟﻨﻴﺔ ﻭﺇﻟﺎ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺍﻟﻨﻴﺔ ﻟﻴﻠﺎ ﻓﺈﻥ ﻋﺎﺩﺕ ﺍﻟﺤﻤﻰ ﻭﺍﺣﺘﺎﺝ ﻟﻠﻔﻄﺮ ﺃﻓﻄﺮ

Orang yang sakit dan bepergian jauh yang hukumnya mubah, jika ia merasa berat untuk berpuasa, maka bagi keduanya diperkenankan untuk tidak berpuasa dan wajib mengqadla’inya.

Bagi orang sakit, jika sakitnya terus menerus, maka baginya diperkenankan untuk tidak niat berpuasa di malam hari. Dan jika sakitnya tidak terus menerus, seperti demam dalam satu waktu dan tidak di waktu yang lain, namun di waktu memasuki pelaksanaan puasa (menginjak pagi hari) demamnya kambuh, maka baginya diperkenankan untuk tidak niat berpuasa (di malam hari).

Jika tidak demikian, maka wajib baginya untuk niat di malam hari. Kemudian jika demamnya kambuh dan ia butuh untuk membatalkan puasa, maka diperkenankan untuk membatalkan puasanya.

Baca Juga :

Puasa Sunnah

ﻭﺳﻜﺖ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻋﻦ ﺻﻮﻡ ﺍﻟﺘﻄﻮﻉ ﻭﻫﻮ ﻣﺬﻛﻮﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻄﻮﻟﺎﺕ ﻭﻣﻨﻪ ﺻﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﻭﻋﺎﺷﻮﺭﺍﺀ ﻭﺗﺎﺳﻮﻋﺎﺀ ﻭﺃﻳﺎﻡ ﺍﻟﺒﻴﺾ ﻭﺳﺘﺔ ﻣﻦ ﺷﻮﺍﻝ

Mushannif tidak menjelaskan tentang puasa sunnah. Dan puasa sunnah disebutkan di dalam kitab-kitab yang diperluas pembahasannya.

Di antaranya adalah puasa Arafah, Asyura’, Tasu’a’, Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15), dan puasa enam hari di bulan Syawal. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Fathul Qorib