Inilah Representasi Amar Ma’ruf Nahi Munkar Dari Dakwah

Inilah Representasi Amar Ma’ruf Nahi Munkar Dari Dakwah

Amar Ma’ruf Nahi Munkar Representasi Dakwah

beberapa kalangan menyatakan bahwa amar ma’ruf nahi munkar berbeda dari dakwah. Sehingga, menurut mereka, dalil-dalil dakwah yang menuntut untuk berlaku lembut dalam bersikap seperti ayat berikut :

اُدْعُ اِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَ الْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِى هِيَ اَحْسَنُ

“Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan nasihat yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (QS. An-Nahl : 125)

Baca Juga :

Dianggap tidak bisa diterapkan dalam amar ma’ruf nahi munkar yang menuntut sikap keras. Mereka mengakui, dakwah memang harus dilakukan dengan sikap yang lembut, ramah, dan simpatik dengan dalil ayat diatas. Namun berbeda dengan amar ma’ruf nahi munkar yang menuntut sikap keras. Sebab makna dari amar ma’ruf nahi munkar sendiri adalah memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran. Mereka berpendapat bahwa perintah atau larangan harus tegas dan keras jika ingin diikuti. Mereka mengeluarkan dalil hadits Nabi dalam riwayat Imam Muslim :

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم اذا خطب احمرت عيناه وعلا صوته واشتدّ غضبه حتى كأنه منذر جيش

“Ketika Nabi berkhotbah, mata beliau memerah, suara beliau meninggi, amarah beliau meluap, sampai seolah-olah beliau adalah komandan angkatan perang”. (HR. Imam Muslim)

Dari dalil tersebut mereka berpendapat amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan secara keras dan tegas. Karena karakternya yang keras, maka amar ma’ruf nahi munkar tidak bisa di kritik dengan ayat-ayat dakwah yang mengharuskan sikap lembut.

Baca Juga :

Ada beberapa kesalahan dari pendapat diatas. Jika kita cermati, ternyata dalil yang mereka kemukakan di atas tentang khotbah Nabi Muhammad SAW yang bertensi tinggi tidaklah terjadi pada setiap khotbah. Bahkan, dalil itu sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan amar ma’ruf nahi munkar. Hadis diatas jika dibaca secara terpotong sangat memungkinkan untuk menimbulkan salah persepsi. Jika hadis di atas diteruskan maka berbunyi :

ويقول {بُعِثْتُ اَنَا و السّاعةُ كهاتَيْنِ} و يقرن بين إصْبَعَيْهِ السّبأبة , والوسطى

“Dan Nabi berkata : Jarak diutusnya diriku dan hari kiamat itu seperti ini. Nabi berisyarat dengan menggabungkan jari telunjuk dan jari tengahnya”.

Konteks dari hadis diatas adalah ketika Nabi Muhammad SAW menerangkan tentang keadaan hari kiamat. Jadi penyebab tingginya tensi khotbah Nabi Muhammad SAW seperti dalam hadis adalah begitu gentingnya perkara hari kiamat. Itu terbukti dengan hadis yang sama dari riwayat lain :

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم اذا ذَكَرَ السّاعةَ احمرت وجنتاه واشتدّ غضبه وعلا صوته كأنه منذر جيش

“Ketika Nabi menjelaskan hari kiamat, wajah beliau memerah, amarah beliau meluap, suara beliau meninggi, seolah-olah beliau adalah komandan angkatan perang”. (HR. Ibn Hibban)

Jadi penggunaan dalil Hadis khotbah Nabi SAW sebagai pembenar amar ma’ruf nahi munkar harus dengan keras terkesan kurang ilmiah.

Baca Juga :

Kemudian, mengenai relasi antara amar ma’ruf nahi munkar dan dakwah, Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ al-Fatawa mengungkapkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar merupakan esensi dari dakwah. Berikut kutipannya :

وَقَدْ تَبَيَّنَ بِذَلِكَ أَنَّ الدَّعْوَةَ نَفْسَهَا اَمرٌ بالمعروفِ و نهيٌ عن المنكر فإنّ الدَّاعِيَ طالبٌ مُستدعٍ مقتضٍ لِما دُعِيَ اليه و ذلك هو الأمر به

“Dengan itu maka jelas, bahwa esensi dar dakwah adalah memerintah kebaikan (amar ma’ruf) dan mencegah kemungkaran (nahi munkar). Sebab orang yang berdakwah pesti meminta, menyeru, dan menuntut pada apa yang ia ajak. Dan hal tersebut dinamakan amar (perintah)”.

Dari beberapa komentar ulama di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar adalah sama. Ayat-ayat dakwah yang terdapat pada banyak tempat di dalam Alqur’an juga dapat diterapkan pada amar ma’ruf nahi munkar. Dengan demikian, gugurlah statement yang mengatakan ada jarak antara dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Kritik Ideologi Radikal, Deradikalisasi doktrin keagamaan ekstrem dalam upaya meneguhkan Islam berwawasan kebangsaan. Lirboyo Press 2019