Inilah Sikap Wara’ Umar Bin Abdul Aziz

Inilah Sikap Wara’ Umar Bin Abdul Aziz

Dari Abu Usman ats-Tsaqafi, dia mengatakan, “Umar bin Abdul Aziz memiliki sahaya yang bekerja menggunakan baghalnya. Setiap hari dia datang dengan membawa satu dirham. Suatu hari dia datang dengan membawa satu setengah dirham, maka dia bertanya, ‘Apa yang tampak oleh (analisa)mu?’. Dia menjawab, ‘Pasar telah memberikan keuntungan’. Umar mengatakan, “Tidak, tetapi engkau telah membuat lelah baghal itu. Istirahatkanlah dia selama tiga hari”.

Ja’unah mengatakan, “Saat Abdul Malik bin Umar bin Abdul Aziz meninggal, Umar menyanjungnya, maka seseorang bertanya, ‘Wahai Amirul Mukminin, seandainya dia masih hidup, apakah engkau akan mengangkatnya sebagai putra mahkota?’ Umar menjawab, ‘Tidak’. Dia bertanya lagi, ‘Mengapa, sedangkan engkau memujinya?’ Umar mengatakan, ‘Aku takut bila kebaikannya di tampakkan di mataku sebagaimana di tampakkannya kebaikan seorang anak di mata seorang ayah”.

Dari Wuhaib bin al-Ward, dia mengatakan, “Anak cucu Marwan berkumpul di depan pintu Umar bin Abdul Aziz, dan datanglah Abdul Malik putra Umar bin Abdul Aziz untuk menemui ayahnya, maka mereka berkata kepadanya, ‘Silahkan pilih, engkau memintakan izin untuk kami, atau engkau menyampaikan pesan surat kami kepada Amirul Mukminin’.

Baca Juga:

Abdul Malik mengatakan, ‘Katakanlah’. Mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya para khalifah sebelumnya memberi banyak hal kepada kami, dan mengetahui kedudukan kami. Sementara ayahmu menghalangi kami dari apa-apa yang ada di kedua tangannya’. Abdul Malik pun menemui ayahnya lalu mengabarkan kepada beliau tentang mereka, maka Umar berkata kepadanya, ‘Katakanlah kepada mereka, sesungguhnya ayahku mengatakan kepada kalian, ‘Aku takut azab pada hari yang besar, jika aku durhaka kepada Rabbku”.

Dari Amr bin Muhajir, bahwa Umar bin Abdul Aziz memiliki lampu lilin yang dipergunakan untuk keperluan kaum muslimin. Jika dia telah selesai dari keperluan mereka, maka dia memadamkannya, lalu dia menyalakan lampunya sendiri.

Dari Umar bin Muhajir, dia mengatakan, “Umar bin Abdul Aziz pernah menginginkan apel, maka beliau mengatakan, ‘Seandainya kami punya buah apel, karena ia harum aromanya, enak rasanya’. Maka berdirilah salah seorang dari keluarganya lalu menghadiahkan apel kepadanya. Saat utusan datang dengan membawa buah itu, maka Umar berkata, ‘Betapa harum aromanya dan betapa bagusnya! Angkatlah wahai pemuda, lalu sampaikan salam kepada Fulan.

Baca Juga:

Katakan kepadanya bahwa hadiahmu telah sampai di tempat sebagaimana yang engkau inginkan’. Aku katakan, ‘Wahai Amirul Mukminin, dia adalah anak pamanmu dan salah seorang dari keluargamu. Engkau telah mendapatkan berita bahwa Nabi makan hadiah dan tidak makan sedekah’. Umar menimpali, ‘Kasihan engkau! Sesungguhnya hadiah tersebut untuk Nabi Muhammad Saw, sementara bagi kita saat sekarang ini adalah suap”.

Dari Rabi’ bin Atha’, dia mengatakan, “Suatu hari dibawakan kepada Umar bin Abdul Aziz sebuah Anbar (sejenis parfum) dari Yaman, maka beliau meletakkan tangan beliau pada hidung beliau dengan pakaian beliau. Melihat hal itu, Muhazim mengatakan, ‘Ini hanyalah baunya, wahai Amirul Mukminin’. Umar mengatakan, ‘Kasihan engkau, wahai Muhazim, bukankah parfum itu tidak di ambil manfaatnya kecuali aromanya?” Rabi’ bin Atha’ mengatakan, “Tangannya tetap di hidung beliau hingga parfum itu duangkat”.

Baca Juga:

Dari Yahya bin Said, dia mengatakan, Abdul Hamid bin Abdurrahman menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz,

“Dilaporkan kepadaku bahwa seseorang telah mencelamu dan mungkin Hammad mengatakan, mencaci makimu, lalu aku bermaksud untuk memenggal lehernya. Akhirnya aku menahannya, dan aku menulis surat ini kepadamu untuk mengetahui pendapatmu mengenai hal itu”.

Umar membalas suratnya,

“Seandainya engkau membunuhnya, niscaya aku akan mengqisasmu. Karena seseorang tidak boleh dibunuh karena mencaci maki seseorang, kecuali orang yang mencaci maki Nabi Muhammad Saw. maka caci makilah ia jika engkau mau, lalu bebaskanlah”. (ir/kuliahislam)

 

Sumber: Biografi 60 Ulama Ahlus Sunnah, Darul Haq