Inilah Syarat-Syarat Bermakmum – Bagian 3

Inilah Syarat-Syarat Bermakmum – Bagian 3

Di artikel Sebelumnya sudah dijelaskan syarat-syarat bermakmum bagian satu dan bagian dua yaitu niat, tidak lebih maju dari tumit imam, mengetahui perpindahan gerak imam, berkumpulnya imam dan makmum.

Dan masih ada lagi penjelasan syarat-syarata bermakmum, antara lain:

  1. Mencocoki imam dalam mengerjakan atau meninggalkan kesunnahan-kesunnahan yang tampak jelas ketidak setaraannya.

Maka batal sholat makmum yang terjadi diantara dirinya dan imam, yang mengalami perbedaan di dalam kesunahn seperti sujud tilawah yang dilakukan imam dan didtinggalkan oleh makmum dengan sengaja dan mengetahui keharamannya.

Tasyahud awal yang dilakukan oleh imam dan ditinggalkan makmum atau imam meninggalkan dan makmum melakukan dengan sengaja dan mengetahui keharamannya, walaupun makmum dapat menyusul imam dalam waktu dekat, sekira imam tidak melakukan duduk istirahat, sebab telah berpindahnya makmum dari kewajiban mengikuti imam dengan melakukan kesunahan.

Sedangkan kesunahan yang tidak tampak ketidak setaraannya ketika membedai atau berbeda, maka tidaklah masalah mengerjakan hal tersebut seperti mengerjakan do’a qunut yang makmum masih menemukan sujud awal dari imam bila makmum mengerjakan do’a qunut tersebut.

Do’a qunut berbeda dengan tasyahud awal sebab makmum dalam tasyahud awal ini melakukan duduk yang tidak dilakukan oleh sang imam sedangkan makmum dalam membaca do’a qunut hanya memperpanjang bacaan ditempat imam berada.

Baca Juga:

Maka tidaklah terjadi perbedaan yang mencolok. Begitu pula tidak masalah mengerjakan tasyahud awal jika kalau seorang imam duduk istirahat, karena yang bermasalah itu adalah melakukan duduk yang tidak dilakukan oleh imam.

Jika imam tidak melakukan duduk istirahat, maka tidak diperbolehkan untuk melakukan tasyahud dan itu akan membatalkan sholatnya orang yang mengetahui keharamannya dan dilakukan dengan kesengajaan selama tidak berniat memisahkan diri dengan imam.

Memisahkan diri dari imam dalam permasalahan ini termasuk kategori udzur, maka hukumnya lebih utama. Jikalau seorang makmum belum selesai membaca tasyahud serta telah selesainya imam, maka diperbolehkan bagi makmum untuk mengakhirkan diri guna menyelesaikannya.

Bahkan hal tersebut disunnahkan bila makmum tahu bahwa dirinya dapat menemukan fatihah imam dengan sempurna sebelum rukuknya imam, tidak mengakhirkan diri dari imam untuk menyempurnakan bacaan surat (hal sunnah dalam sholat), bahkan hukumnya makruh ketika makmum tidak dapat menyusul imam dalam posisi rukuk.

  1. Tidak tertinggal dari imam dua rukun fi’li yang terus menerus dan sempurna tanpa ada udzur.

Diantara syarat qudwah selanjutnya adalah tidak tertinggal dari imam dua rukun fi’li yang terus menerus dan sempurna tanpa ada udzur, serta dengan kesengajaan dan mengetahui keharaman nya walaupun dua rukun tersebut tidaklah panjang.

Baca Juga:

Jika makmum tertinggal dengan dua rukun, maka sholatnya batal sebab terlihat jelasnya ketidak setaraan, seperti imam rukuk lantas i’tidal dan turun melakukan sujud. Maksudnya telah melewati batasan berdiri, sedangkan makmum masih berdiri.

Dikecualikan dari dua rukun fi’li adalah dua rukun qouli dan satu rukun qouli besertaan satu rukun fi’li.

  1. Tidak tertinggal dari imam dengan sengaja

Tidak tertinggal dari imam dengan sengaja dan mengetahui keharamannya lebih dari tiga rukun panjang sebab udzur yang mewajibkan untuk mengakhirkan diri dari imam.

Maka tidaklah dihitung sebagai rukun yang panjang i’tidal dan duduk diantara dua sujud. Contohdari udzur adalah seperti cepatnya imam dalam membaca, sedangkan makmum lambat bacaannya sebab pembawaannya.

Bukanlah udzur was-was atau lambatnya gerakan. Dan seperti menunggunya seorang makmum berhentinya bacaan imam agar ia dapat membaca fatihah di waktu berhentinya imam tersebut, lantas imam langsung rukuk setelah berhenti dari bacaannya.

Dan seperti lupanya makmum dari membaca fatihah sampai imam rukuk. Begitupula keraguan makmum terhadap bacaan fatihahnya sebelum rukunnya imam. Untuk masalah tertinggal dari imam sebab was-was dengan mengulang-ngulang kalimat fatihah tanpa ada hal yang mewajibkan, maka hal tersebut bukanlah udzur. (novia/kuliahislam)

Baca Juga:

Sumber:

Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari. Fathul Mu’in. diterjemahkan oleh Hakim, Fikril & Abu Sholahuddin. 2014. Jawa Timur: Lirboyo Press.