Inilah Tafsir Ayat “MIN HAITSU LA YAHTASIB” Ala Sufi

Inilah Tafsir Ayat “MIN HAITSU LA YAHTASIB” Ala Sufi

Telah menjadi kisah yang sangat masyhur bahwa Sayyidina Umar bin Khattab pernah mendamprat seseorang yang ingin mendapatkan rizki dengan mengandalkan doa. Beliau berkata, “Janganlah sekali-kali salah satu dari kalian berpangku tangan tidak mencari rizki, seraya berkata, ‘Ya Allah berilah aku rizki’. Kalian tahu, langit tidak pernah menurunkan hujan emas juga perak”.

Kemungkinan besar, sasaran utama dari pernyataan tersebut adalah masyarakat awam yang pikirannya masih terbelenggu dengan urusan rizki, akan tetapi mereka memilih jalan doa tanpa berusaha karena perasaan malas, bukan karena landasan tawakkal.

Ini adalah bentuk kebodohan, karena Allah Swt biasanya memberi rizki melalui perantara yang lumrah, bukan melalui jalan ajaib yang anaeh. Meskipun keajaiban rizki itu jelas ada, namun tidak berlaku untuk semua waktu dan bukan untuk dijadikan pedoman pencarian rizki. Pedoman dalam mencari rizki tetaplah bekerja.

Itulah konteks pas untuk perkataan Sayyidina Umar di atas. Oleh karena itu, ucapan beliau ini tidak bisa dihadapkan pada beberapa dalil yang menyatakan bahwa rizki itu pada umumnya datang melalui jalan yang tidak disangka-sangka.

Baca Juga:

Imam Ghazali menyatakan, “Sudah seharusnya manusia tahu bahwa Allah Swt lebih sering memberikan rizki melalui jalan yang tidak disangka-sangka”. Oleh karena itu, dalam konsep suluk para sufi, dia harus berlatih untuk tidak memikirkan urusan rizki, karena rizki pasti mendatanginya.

Pada dasarnya, rizki sama dengan kematian, sama-sama tidak bisa dihindari. Bedanya, untuk urusan rizki hati kita dikuasai oleh perasaan takut hilang, sedangkan untuk mati, hati kita dikuasai perasaan takut datang.

Sebagian ulama ada yang menyatakan, “Jika ada orang lari menghindari rizki, maka rizki itu pasti mengejarnya, sebagaimana bila dia lari menghindari mati, maka mati itu pasti merenggutnya”.

Terkait dengan jalan rizki di atas, dalil yang paling penting untuk kita pahami dengan seksama adalah firman Allah Swt;

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Baca Juga:

Menurut beberapa mufassir, ayat tersebut turun terkait dengan peristiwa yang terjadi kepada Malik bin Auf al-Asyja’i. Dia datang kepada Rasulullah Saw, sambil berkata, “Ya Rasulullah, anakku ditawan oleh musuh. Ibunya terus meratapi dia. Lalu, apa yang engkau perintahkan kepadaku?”.

Rasulullah Saw bersabda, “Aku perintahkan engkau dan istrimu untuk memperbanyak membaca: La haula wa la quwwata illa billah”. Maka mereka pun melaksanakan perintah itu. Alhasil, tidak berselang lama, anaknya datang seraya menggiring sekelompok biri-biri.

Dia berhasil meloloskan diri, karena musuh yang menjaganya sedang lalai. Bahkan, dia berhasil menggiring biri-biri milik musuh tanpa sepengetahuan mereka. Ini benar-benar jalan keluar dan rizki yang datangnya tak disangka-sangka.

Memang, tidak sedikit orang yang menceritakan pengalamannya terkait dengan min haitsu la yahtasib; bahwa dirinya terhindar dari masalah atau mendapatkan rizki melalui jalan yang tidak disangka-sangka setelah dia berdoa atau melaksanakan amalan tertentu. Hal ini nyata dan cukup sering diceritakan oleh beberapa orang dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu, apakah orang yang bertakwa pasti dimudahkan rizkinya dan mendapatkan jalan keluar yang mudah dari setiap masalah? Bukankah kenyataannya, cukup banyak orang yang taat beragama justru mengalami masalah pelik, atau rizkinya sulit?

Baca Juga:

Syekh Ismail Haqqi, mufassir sufi dari Asia kecil, menyatakan bahwa rizki dan jalan keluar dalam ayat ini jangan hanya diartikan dalam bentuk sempit, hanya berupa materi atau jalan keluar dari masalah-masalah duniawi. Rizki dan problem kehidupan itu ada dua macam: ada yang bersifat ukhrawi dan ada pula yang bersifat jasmani. Hal-hal yang bersifat rohani-ukhrawi jelas lebih penting dan lebih besar daripada hal-hal yang bersifat materi-duniawi belaka.

Orang-orang yang bertakwa pasti mendapatkan rizki yang bersifat rohani-ukhrawi, dan selamat dari masalah yang bersifat rohani-ukhrawi. Sedangkan untuk keberuntungan yang bersifat duniawi-jasmani, boleh jadi orang yang bertakwa justru mengalami kesengsaraan melebihi orang lain. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Menjadi Sufi Berduit, Pon-Pes Sidogiri Jawa Timur