Inilah Tahap-Tahap Pengingkaran Dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Inilah Tahap-Tahap Pengingkaran Dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Maratib al-Inkar

Seperti telah dikatakan diatas bahwa sesuai dengan Hadis Nabi Muhammas saw setidaknya ada tiga fase dalam proses ingkar terhadap kemungkaran, yakni inkar bi al-yad, bi al-lisan, dan bi al-qalb. Lantas bagaimanakah urutan dalam melakukannya ?

Untuk pengingkaran dengan hati, hal ini diwajibkan bagi semua orang Islam terhadap sebuah kemungkaran. Karena –seperti sabda Nabi- ini adalah batal minimal keimanan dan tidak akan ada efek atau akibat buruk apapun yang timbul darinya. Setelah itu, baru masuk ke fase pengingkaran dengan lisan. Hal ini tentu harus dilakukan dengan syarat-syarat yang telah disebutkan. Jika pengingkaran dengan lisan belum bisa membuat pelaku kemungkaran berhenti, maka bisa dilakukan pengingkaran dengan tindakan. Namun yang perlu diingat, fase ini harus dilakukan oleh orang yang benar-benar memenuhi syarat. Karenan jika tidak, mafsadat yang ditimbulkan akan lebih besar dari maslahatnya.

Lebih jelas, dalam kitab Ihya’ Imam Ghazali menyebutkan setidaknya ada lima tahapan atau urutan dalam merealisasikan pengingkaran terhadap kemungkaran :

  1. Memberi pengertian
  2. Memberi nasihat dengan kata-kata yang sopan
  3. Memberi teguran keras
  4. Mencegah dengan tindakan langsung. Seperti dicontohkan membuang khamr yang sedang dikonsumsi, merebut barang ghasab-an dan mengembalikan pada pemiliknya, menghancurkan alat al-malahi, menyita pakaian sutera yang dikenakan laki-laki, dan lain sebagainya.
  5. Memberi ancaman kekerasan dan merealisasikannya kepada pelaku kemungkaran. Hal ini dilakukan jika kemungkaran bersifat perbuatan. Seperti orang yang memiliki kebiasaan menggunjing atau suka menuduh zina pada orang lain. Sebab untuk menghentikannya tidak mungkin dilakukan dengan mengamankan lidah atau mulut pelakunya. Berbeda dengan tahapan yang keempat.

Baca Juga :

Menghilangkan sebuah kemungkaran harus dilakukan dengan tahapan diatas. Tidak boleh menghilangkan kemungkaran dengan melompat ketahapan kedua -semisal- sebelum melalui tahapan pertama dan seterusnya.

Kemudian, upaya menghilangkan kemungkaran harus dilakukan dengan bertahap (tadrij). Seperti yang dinukil dari Sayyid ‘Abdullah bin Husain bi Thahir di dalam kitab Al-Manhaj Al-Sawi bahwa seseorang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar haruslah menggunakan cara yang halus, ramah, dan bertahap supaya berhasil. Jika ia melihat seseorang meninggalkan kewajiban-kewajiban agama, maka perintahlah dia dengan halus pada kewajiban yang paling penting terlebih dahulu. Ketika hal itu telah berhasil, maka barulah ia beralih kepada kewajiban yang sebawahnya dan seterusnya. Begitu pula jika ia melihat seseorang melakukan kemungkaran-kemungkaran, dan hal itu tidak bisa dihentikan sekaligus, maka mulailah satu persatu. Jika satu telah ditinggalkan baru beralih pada kemungkaran yang kedua dan seterusnya sampai kemungkaran benar-benar hilang.

Baca Juga :

Oleh karena itu, amar ma’ruf nahi mungkar menuntut kesabaran yang tinggi atas pelakunya. Bukan luapan emosi, kebrutalan, atau sikap gegabah.

Selain fase-fase di atas, satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh pelaku amar ma’ruf nahi mungkar adalah ikhtiar batin. Karena untuk mencapai tujuan hakiki dari amar ma’ruf nahi mungkar tidak akan cukup dengan usaha fisik atau lahiriah saja. Ketulusan seseorang dalam melakukan amar ma’ruf nahi mungkar bisa dilihat dari hal itu. Ikhtiar batin memiliki beberapa bentuk. Seperti mendoakan mereka agar bertaubat, diampuni dosa-dosanya, atau mereka diberi hidayah.

Oleh karenanya, seseorang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar tanpa memiliki pandangan kasih sayang pada para pelaku kemungkaran dan enggan mendoakan mereka mendapat hidayah, maka ia melakukan amar ma’ruf nahi mungkar bukan didasari kepatuhan menjalankan perintah Allah swt melainkan didasari oleh rasa kebencian, emosi, dan fanatisme. Hal ini didukung oleh statement Ibn Taimiyyah yang mengungkapkan bahwa seseorang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dengan didasari oleh rasa kebencian yang bukan karena Allah swt maka ia termasuk orang yang mengikuti hawa nafsunya.

وَ اتِّبَاعُ الأَهْوَاءِ فِي الدِّيَانَاتِ أّعْظَمُ مِنِ اتِّبَاعِ الأهْوَاءِ في الشَّهَوَاتِ

Mengikuti  hawa nafsu yang berkedok agama lebih berbahaya dari menuruti kesenangan syahwat”.

Baca Juga :

Dalam sebuah peperangan Sahabat Ali membatalkan niatnya untuk membunuh seorang kafir dikarenakan kafir itu meludahi beliau. Ketika ditanya akan hal tersebut, beliau (Sahabat Ali) menjawab, “Semula akau akan membunuhnya karena Allah, tetapi setelah dia meludahiku aku menjadi marah dan aku takut jikalau aku membunuhnya, maka itu karena emosiku dan bukan karena Allah”. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Kritik Ideologi Radikal, Deradikalisasi doktrin keagamaan ekstrem dalam upaya meneguhkan Islam berwawasan kebangsaan. Lirboyo Press 2019