Inilah Teori Berbisnis Sambil Beramal

Inilah Teori Berbisnis Sambil Beramal

Etika Bisnis Ala Sufi (2)

Suatu ketika, ada seseorang melihat Abdullah bin Ja’far menawar barang yang hendak ia beli. Abdullah bin Ja’far menawarnya dengan sangat gigih, untuk menurunkan harga satu dirham.

Orang-orang terheran-heran, pasalnya Abdullah bin Ja’far dikenal sebagai orang yang sangat dermawan. Dia sering bersedekah ratusan atau bahkan ribuan dirham, dengan tanpa rasa berat sedikitpun.

“Maaf Tuan, kenapa anda menawar barang itu dengan sangat gigih hanya gara-gara selisih satu dirham. Padahal anda sudah terbiasa memberikan ratusan atau bahkan ribuan dirham kepada orang lain?”

Apa kata Abdullah bin Ja’far? “Kalau sedekah itu urusan harta, aku tidak pernah berat hati kehilangan harta. Akan tetapi, jual beli ini adalah urusan akal pikiran, aku tidak rela kehilangan pikiranku…”

Urusan bisnis dan urusan sosial memang memiliki akar psikologi yang berbeda. Dalam bisnis, orang cenderung melakukan kalkulasi yang matang mengenai untung-rugi dan angka-angka. Pihak pembeli dan penjual akan mempertahankan nominal seribu rupiah sekalipun dengan gigih.

Baca Juga:

Sebab, kerugian seribu rupiah akan membebani pikiran, bukan semata-mata karena nominal uangnya, tapi karena hal itu menunjukkan ketidak-cerdasan dia dalam berbisnis. Boleh jadi, dia merasa gagal, dibodohi dan lemah, karena tidak memiliki daya tawar yang kuat di hadapan pihak lain.

Perasaan gagal semacam ini tidak akan hinggap dalam hati dan pikiran seseorang, jika misalnya dia kehilangan uang tersebut, bukan dalam posisinya sebagai pembisnis, melainkan dalam posisi lain semisal posisi bersedekah dan semacamnya.

Itulah psikologi bisnis masyarakat secara umum. Beda halnya dalam etika bisnis kaum sufi. Perbedaan psikologi antara konteks bisnis dan kepedulian sosial ini sedikit bergeser. Artinya, mereka berupaya agar rasa sosial tersebut tetap bisa mewarnai transaksi bisnis.

Dalam anjuran Imam Ghazali, jika kita bertransaksi dengan orang miskin, maka sudah sewajarnya memasukkan nilai-nilai sosial dalam transaksi tersebut. Maksudnya, rela membeli dengan mahal atau menjual dengan murah. Sebab, laba yang dia dapatkan akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Menurut Imam Ghazali, dalam konteks ini, berlaku hadis Rasulullah Saw: “Allah merahmati seseorang yang murah hati ketika menjual, ketika membeli, dan ketika menagih”. (HR. Bukhari).

Namun, jika kita bertransaksi dengan orang yang kaya, maka sudah sewajarnya untuk bertransaksi dengan ketat. Sebab, laba yang didapatkan oleh orang-orang kaya dalam bisnis mereka, bukan untuk kebutuhan sehari-hari, akan tetapi untuk memperbanyak harta di luar kebutuhan pokoknya.

Baca Juga:

Oleh karena itu, mengorbankan harat untuk mereka tidak termasuk perbuatan terpuji, bahkan boleh jadi, hal tersebut termasuk menyia-nyiakan harta untuk sesuatu yang tidak penting dan tidak mendatangkan pahala.

Dalam hal ini, berlaku hadis: “Orang yang berani rugi (saat menjual atau membeli) tidaklah terpuji dan tidaklah mendapat pahala”. (HR. Thabrani dari Sayyidina Hasan bin Ali ra).

Kesimpulannya, semangat sosial dalam transaksi bisnis sufi, tidaklah bersifat mutlak, namun mempertimbangkan kondisi penjual, pembeli dan kondisi-kondisi yang lain.

Beberapa ulama memasukkan tradisi “menjual murah” dan “membeli mahal” sebagai salah satu bentuk sedekah tersembunyi yang berpahala besar, karena lebih aman dari perasaan riya’, sombong, dan sebagainya. Sedekah semacam ini tidak tampak kepada orang lain, sehingga lebih mudah untuk ikhlas, murni karena Allah Swt, bukan karena yang lain.

Selain itu, unsur sosial dalam bisnis sufi, juga bisa menjadi strategi dakwah yang efektif untuk mempengaruhi masyarakat. Barangkali cara inilah yang dipakai oleh para juru dakwah yang datang ke Nusantara, sehingga dapat mengislamkan Sumatera, Jawa, dan daerah-daerah yang lain. Sudah menjadi kesepakatan sejarah, bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan di pelabuhan.

Sebagai contoh perbandingan, Habib Umar bin Hafidz, tokoh sufi terkemuka asal Yaman saat ini, pernah bercerita mengenai penyebaran Islam di beberapa wilayah Kenya. Tokohnya adalah Haji Khamis, seorang pemuda kaya raya yang memiliki kepedulian tinggi terhadap dakwah. Waktu memasuki sebuah desa di Kenya, tak ada seorang Muslim pun di sana. Maka, dia membuka toko di sana.

Kalau ada orang membeli teh, misalnya, maka setelah menimbangnya beliau menyertakan sedikit gula.

“Maaf, saya tidak membeli gula ini, Tuan.!” Kata si pembeli.

“Tidak apa-apa, uang yang saya ambil dari anda hanya untuk tehnya saja”.

“Lalu, kenapa anda memberikan gula ini?”

“Untuk membantu anda agar bisa minum teh”.

“Bukankah dalam berdagang anda ingin mendapat keuntungan? Kenapa anda memberikan gula ini?”

“Agamaku menyuruhku demikian dan menganjurkan hal itu”.

Baca Juga:

Pembeli itu heran, ia mulai bertanya tentang agama Haji Khamis. Dan ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk membuat mereka tertarik kepada agama Islam.

Cara berbisnis ala Haji Khamis inilah yang pada akhirnya menyebabkan masyarakat di sana tertarik kepada agama Islam, lalu berduyun-duyun memeluknya. Lalu setelah dakwahnya di sana berhasil, Haji Khamis berpindah membuka toko di tempat-tempat lain.

Apa yang dilakukan oleh Haji Khamis ini merupakan bentuk perdagangan yang sangat utama, karena selain memuat unsur sosial juga memuat unsur dakwah. Dakwah melalui ekonomi sudah lumrah dilakukan oleh Rasulullah Saw terhadap al-mu’allafah qulubuhum atau tokoh-tokoh kafir yang ingin diluluhkan hatinya. Sebagaimana yang Beliau lakukan di Ji’ranah setelah Perang Hunain. Ketika itu, Beliau membagikan beratus-ratus ekor unta kepada tokoh-tokoh Quraisy. (ir/kuliahislam)

Baca selanjutnya ke bagian 3 –> –> –>

Sumber : Menjadi Sufi Berduit, Pon-Pes Sidogiri Jawa Timur