Kesunnahan Bagi yang Mendengarkan Adzan dan Iqomah

Kesunnahan Bagi yang Mendengarkan Adzan dan Iqomah

Disunnahkan bagi orang yang mendengar adzan dan iqomah dengan pendengaran yang dapat membedakan huruf-hurufnya. Untuk mengucapkan atau ketika menjawab adzan adzan maupun iqomah dalam keadaan tidak memiliki wudlu atau junub, haid, hal tersebut tidak apa-apa atau boleh-boleh saja.

Orang yang mendengarkan adzan disunnahkan untuk mengucapkan setiap kalimat setelah selesainya kalimat tersebut sampai disunnahkan pula mengucapkan pada tarji’ walaupun tidak mendengarnya.

Jikalau seseorang hanya mendengar sebagian dari adzan, maka disunnahkan menjawab lafadz yang di dengar dan lafadz yang tidak didengar. Apabila terdapat adzan beruntut, maka jawablah semuanya walaupun setelah shalat.

Dimakruhkan menjawab adzan bagi seorang yang sedang bersetubuh dan orang yang sedang membuang hajat, akan tetapi keduanya menjawab setelah selesai melakukannya seperti seseorang yang shalat jika waktu pemisahnya masih sebentar.

Baca Juga:

Tidak makruh menjawab bagi seorang yang berada di kamar mandi dan orang yang tubuhnya (selain mulut) terkena najis walaupun menemukan alat yang dapat mensucikannya. (kecuali) pada lafadz hay’alaatin maka orang yang menjawab adzan membaca laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adhiim.

Artinya: Tidak ada daya untuk meninggalkan maksiat kepada Allah dan tiada kekuatan melakukan ketaatan kepadaNya kecuali dengan pertolonganNya. Dan membaca Shodaqta wabararta dua kali, artinya: Jadilah engkau seorang yang adzan membaca tatswib dalam sholat shubuh.

Dalam kalimatnya iqomah: aqoomahaallahu sampai selesai, artinya semoga Allah mendirikan shalat, melestarikannya dan menjadikan diriku sebagian orang-orang yang shalih ahli shalat.

Disunnahkan bagi setiap dari orang yang adzan, iqomah dan yang mendengarkan keduanya (untuk membaca sholawat) dan salam kepada nabi saw setelah selesai keduanya maksudnya satu dari keduannya jika waktu pemisah diantara keduannya lama, dan bila tidak lama, maka cukup bagi keduannya membaca satu do’a (lantas) setiap satu dari mereka dengan mengangkat kedua tangannya membaca do’a:

Allahumma rabba haadhihi dda’wati artinya Ya Allah Tuhan dari penyeru ini maksudnya adalah adzan dan iqomah sampai selesai do’a kesempurnaannya adalah Dan sholat yang akan didirikan, semoga Engkau memberikan kepada nabi Muhammad wasilah dan keutamaan, Tempatkanlah nabi Muhammad ke tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan.

Wasilah adalah tempat tertinggi di surge, sedangkan tempat yang terpuji adalah tempat syafa’at dalam memutuskan hokum di hari kiamat.

Disunnahkan untuk mengucapkan setelah adzan maghrib do’a: ya allah, kini malam-Mu telah tiba, siang-Mu telah berlalu dan suara-suara penyeru-Mu telah diperdengarkan, maka ampunilah dosaku.

Disunnahkan membaca sholawat sebelum iqomah atas pendapat yang telah diungkapkan oleh Imam Nawawi dalah syarah wasith, dan guru Ibnu Ziyad memakai pendapat tersebut sebagai pedoman.

Imam Ibnu Ziyad berkata: sedangkan membaca sholawat sebelum adzan, maka aku tidaklah tahu satu pendapat pun. Syaikh al Kabir al Bakri mengatakan: disunnahkan membaca sholawat  sebelum adzan dan iqomah dan tidak disunnahkan lafadz Allahumma hadhaa iqbaalu lailika setelah keduanya.

Imam Rauyani dalam kitab al Bahr mengatakan disunnahkan membaca Yasin diantara adzan dan iqomah karena terdapat hadits nabi yang berbunyi: sesungguhnya orang yang membaca surat yasin di antara adzan dan iqomah, maka tidak akan ditulis baginya dosa yang terjadi di antara dua shalat.

Imam Bulqini berfatwa di dalam masalah seseorang yang selesai wudlunya bertepatan dengan selesainya adzan bahwa orang tersebut membaca dzikir wudlu sebab dzikir wudhu adalah untuk ibadah yang telah ia selesaikan lantas membaca dzikir adzan.

Beliau berkata kembali: baik jika ia membaca dua syahadat wudlu lantas do’a adzan sebab berhubungan dengan nabi, kemudian berdo’a untuk dirinya sendiri. (novia/kuliahislam).

Baca Juga:

Sumber:

Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari. Fathul Mu’in. diterjemahkan oleh Hakim, Fikril & Abu Sholahuddin. 2014. Jawa Timur: Lirboyo Press.