Kisah Pernikahan Putri Sa’id Bin Al-Musayyab

Kisah Pernikahan Putri Sa’id Bin Al-Musayyab

Biografi Lengkap Sa’id Bin Musayyab

Dari Abu Bakar bin Abu Dawud, dia mengatakan, “Putri Sa’id bin al-Musayyab telah dipinang oleh Khalifah Abdul Malik untuk putranya, al-Walid, tapi Sa’id bin al-Musayyab menolaknya. Dia terus membuat dalih kepada Abdul Malik hingga Abdul Malik mencambuknya seratus kali pada hari yang dingin, menuangkan air guci padanya, dan memaikan jubah wol padanya”.

Lalu Abu Bakar bin Abu Dawud mengatakan, Ahmad putra saudaraku, Abdurrahman bin Wahb menuturkan kepadaku, bahwa Umar bin Wahb menceritakan kepada kami, dari Atthaf bin Khalid, dari Ibnu Harmalah, dari Ibnu Abi Wada’ah, yakni Katsir. Dia mengatakan, “Aku biasa duduk di majlis Sa’id bin al-Musayyab, lalu dia kehilanganku (karena tidak hadir) selama beberpa hari.

Saat aku datang kepada beliau, beliau bertanya, ‘Di mana kamu?’ Aku menjawab, ‘Istriku meninggal sehingga aku sibuk mengurusinya’. Dia mengatakan, ‘Mengapa engkau tidak memberitahu kami sehingga kami bisa ikut melayatnya’. Kemudian beliau bertanya, ‘Apakah engkau sudah mendapatkan istri lagi?’ Aku menjawab, ‘Semoga Allah merahmatimu. Siapakah yang akan menikahkan putrinya denganku, sedangkan aku tidak memiliki kecuali dua atau tiga dirham?’. Dia menjawab, ‘Aku yang akan menikahkanmu’. Aku bertanya, ‘Engkau akan melakukannya?’. Dia menjawab, ‘Ya’.

Baca Juga:

Lalu setelah dia memuji Allah dan bershalwat kepada Nabi, dia menikahkan aku dengan mahar dua atau tiga dirham. Aku pun berdiri dan aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat karena sedemikian gembiranya.

Aku pulang ke rumahku, dan mulai berpikir kepada siapa aku akan berhutang. Aku sholat magrib, dan setelah itu kembali ke rumahku, sedangkan aku sendirian dalam keadaan berpuasa.

Aku pun mengambil makan malamku untuk berbuka, yang hanya berupa roti dan minyak.  Tiba-tiba pintu rumahku ada yang mengetuk, maka aku bertanya, ‘Siapa ini?’. Dia menjawab, ‘Sa’id’.

Aku berpikir tentang setiap orang yang bernama Sa’id selain Sa’id bin al-Musayyab, karena dia tidak pernah terlihat selama 40 tahun kecuali pasti berada antara rumahnya dan masjid. Aku pun keluar, ternyata dia adalah Sa’id bin al-Musayyab. Aku telah menyangka bahwa dia telah berubah pikiran.

Aku katakan, ‘Wahai Abu Muhammad, mengapa engkau tidak mengutus seseorang kepadaku sehingga akulah yang datang kepadamu’. Dia mengatalan, ‘Tidak, engkau lebih berhak untuk di datangi. Engkau adalah laki-laki yang membujang lalu engkau menikah, maka aku tidak suka bila engkau melewati malam sendirian. Inilah istrimu’. Ternyata putrinya berdiri di belakang tubuhnya yang tinggi. Kemudian dia memegang tangan putrinya lalu mendorongnya ke pintu dan menutup pintu. Wanita itu pun jatuh karena malu, lalu aku mengunci pintu.

Baca Juga:

Aku meletakkan piring di bawah bayangan lampu agar dia tidak melihatnya. Kemudian aku naik loteng lalu aku berteriak kepada orang-orang (tetanggaku), maka mereka datang kepadaku seraya bertanya, ‘Ada apa denganmu?’ Aku pun memberitahu mereka, dan mereka datang kepadanya. Ketika hal itu sampai pada ibuku, maka dia datang seraya mengatakan, ‘Wajahku haram terhadap wajahmu, jika engkau menyentuhnya sebelum aku mendandaninya hingga tiga hari’.

Dia pun tinggal selama tiga hari, kemudian aku menemuinya, ternyata dia adalah di antara wanita yang paling cantik, paling hafal Al-Qur’an, paling mengerti Sunnah Rasulullah, dan paling tahu tentang hak suami. Aku pun berdiam selama sebulan tanpa pernah mendatangi Sa’id bin al-Musayyab. Kemudian aku mendatanginya saat berada dalam halaqah, lalu aku mengucapkan salam dan beliau menjawab salamku.

Dia tidak mengajakku bercakap-cakap hingga menjelis selesai. Ketika tidak tersisa lagi kecuali aku, maka beliau mengatakan, ‘Bagaimana keadaan orang itu?’ Aku menjawab, ‘Baik, wahai Abu Muhammad, (keadaannya baik) sesuai dengan yang disukai oleh teman dan tidak disukai oleh musuh’. Dia mengatakan, ‘Jika ada sesuatu  yang mencurigakanmu, maka selesaikan dengan tongkat’. Aku pun pulang ke rumahku, lalu dia memberikan kepadaku 20.000 dirham”.

Baca Juga:

Abu Bakar bin Abi Dawud mengatakan, “Ibnu Abi Wada’ah adalah Katsir bin Abdul Muthalib bin Abu Wada’ah”.

Adz-Dzahabi mengatakan, “Ia adalah Sahmi, Makki, meriwayatkan dari ayahnya, al-Muthalib, salah seorang yang masuk Islam dalam penaklukan Makkah, sedangkan yang meriwayatkan darinya adalah putranya, Ja’far bin Katsir dan Ibnu Harmalah”. (ir/kuliahislam)

 

Sumber: Biografi 60 Ulama Ahlus Sunnah, Darul Haq.