Kontroversi Hukum Takbiratul Ihram Dalam Shalat

Kontroversi Hukum Takbiratul Ihram Dalam Shalat

Pembahasan Tentang Doa-Doa Yang Ada Dalam Shalat

باب ما يقول اذا دخل فى الصلاة

Bab tentang bacaan doa ketika masuk dalam shalat

اعلم ان هذا الباب واسع جدا وجاءت فيه احاديث صحيحة كثيرة من انواع عديدة وفيه فروع كثيرة فى كتب الفقه ننبه هنا منها على اصولها ومقاصدها دونا دقائقها ونوادرها واحذف ادلة معظمها ايثارا للاختصار اذ ليس هذا الكتاب موضوعا لبيان الأدلة انما هو لبيان ما يعمل به والله اعلم

Ketahuilah bahwa pada bab ini (doa dalam sholat) sangatlah luas sekali. Hadis shahih yang membahas masalah ini juga sangat banyak. Dalam kitab-kitab fikih pun banyak dibahas dalam bab-bab yang bermacam-macam. Pada bagian ini akan dibahas pokok-pokoknya, tanpa pendalaman yang lebih jauh, dan untuk meringkasnya kami sengaja tidak meyertakan dalil-dalilnya karena pembahasan ini bukan ditujukan untuk membahas dalil-dalil itu, tetapi untuk menjelaskan amalan-amalan yang bisa dikerjakan. Wallahu A’lam.

باب تكبيرة الإحرام

Baca Juga:

Bab Takbiratul Ihram

اعلم ان الصلاة لا تصح الا بتكبيرة الإحرام فريضة كانت او نافلة والتكبير عند الشافعى والإكثرين جزء من الصلاة وركن من اركانها وعند ابى حنيفة هى شرط ليست من نفس الصلاة

Ketahuilah, bahwasanya shalat tidak akan sah apabila tidak ada takbiratul ihram, baik dalam shalat fardhu maupun shalat sunnah. Menurut Imam Syafi’i dan mayoritas ulama, takbiratul ihram adalah bagian dari shalat atau sering disebut dengan istilah rukun. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, takbiratul ihram bukan rukun shalat tetapi termasuk syarat shalat, bukan bagian dari shalat.

واعلم ان لفظ التكبير ان بقول الله اكبر او يقول الله الأكبر فذان جائزان عند الشافعى وابى حنيفة وآخرين ومنع مالك الثانى والإحتياط ان يأتي الإنسان بالأول ليخرج من الخلاف ولا يجوز التكبير بغير هذين اللفظين فلو قال: الله العظيم او الله المتعالى او الله اعظم او اعز او اجل وما اشبه هذا لم تصح صلاته عند الشافعى والأكثرين وقال ابو حنيفة تصح. ولو قال الله اكبر لم تصح على الصحيح عندنا وقال بعض اصحابنا تصح كما لو قال فى آخر الصلاة عليكم السلام فانه يصح على الصحيح

Ketahuilah, bahwasanya lafadz takbiratul ihram itu ialah dengan mengucapkan, Allahu Akbar atau Allahul Akbar, dua kalimat ini boleh menurut Imam Syafi’i, Abu Hanifah dan sebagian yang lainnya. Sedangkan Imam Malik melarang menggunakan kalimat yang kedua, yakni Allahul Akbar.

Baca Juga:

Dari perbedaan pendapat ini kita perlu hati-hati, maka lebih baik menggunakan lafadz yang pertama saja. Tidak boleh menggunakan lafadz selain yang dua tersebut untuk takbiratul ihram, seperti mengucapkan, Allahul ‘Adhim (Allah Maha Agung) atau Allah Al-Muta’al (Allah Maha Tinggi) atau Allahu A’dham (Allah Yang Paling Agung) atau A’azzu (Paling Mulia) atau Ajallu (Paling Besar) dan lain sebagainya, maka shalatnya tidak sah, demikian pendapat Imam Syafi’i dan mayoritas ulama. Namun, Imam Abu Hanifah menyatakan sah-sah saja.

Sedangkan menurut kami, mengucapkannya dengan terbalik (Akbaru Allah) tidak sah. Tetapi, menurut sebagian sahabat kami mengatakannya sah-sah saja. Sebagaimana sahnya mengucapkan salam di akhir shalat secara terbalik (‘Alaikumus Salam).

واعلم انه لا يصح التكبير ولا غيره من الإذكار حتى يتلفظ بلسانه بحيث يسمع نفسه اذا لم يكن له عارض وقد قدمنا بيان هذا فى الفصول التى فى اول الكتاب فان كان بلسانه حرس او عيب حركه بقدرما يقدر عليه وتصح صلاته

Dan ketahuilah, bahwasanya tidak sah jika takbiratul ihram itu tidak dilafadzkan dalam lisan hingga terdengar oleh dirinya sendiri. Jika memang ada gangguan pada lisannya sehingga menghalangi dia untuk berucap maka hendaklah dilafadzkan sejauh yang dia mampu.

Baca Juga:

واعلم انه لا يصح التكبير بالعجمية لمن قدر عليه بالعربية واما من لا يقدر فيصح , ويجب عليه تعلم العربية فان قصر فى التعلم لم تصح صلاته وتجب اعادة ما صلاه فى المدة التى قصر فيها عن التعلم

Ketahuilah, sesungguhnya tidak sah jika takbiratul ihram diucapkan dengan bahasa Ajam atau selain bahasa Arab. Bila ada orang yang tidak bisa berbicara bahasa Arab, maka dia wajib mempelajarinya hingga dia bisa mengucapkan takbiratul ihram dengan bahasa Arab. Jika ia enggan untuk belajar, sehingga dia tetap tidak bisa mengucapkannya, maka selama itu pula shalatnya tidak sah, bahkan jika suatu hari dia bisa melafadzkannya, wajib baginya mengganti shalat-shalat yang telah dilakukannya secara tidak sah karena tidak bisa dan tidak mau belajar. (ir/kuliahislam)

Baca selanjutnya –> –> –>

Sumber: Kitab al-Adzkar an-Nawawiyyah hal. 34, Daru Ihya’