Larangan Melakukan Itlaf (Perusakan) Dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Larangan Melakukan Itlaf (Perusakan) Dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Larangan Berbuat Itlaf (Perusakan)

Dalam melakukan amar ma’ruf, ada beberapa pihak yang menggunakan cara-cara destruktif seperti perusakan dan pembakaran. Dalam melakukan hal tersebut mereka berdasar pada ayat Alqur’an yang menerangkan tentang Masjid Dhirar :

وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مَسۡجِدٗا ضِرَارٗا وَكُفۡرٗا وَتَفۡرِيقَۢا بَيۡنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَإِرۡصَادٗا لِّمَنۡ حَارَبَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ مِن قَبۡلُۚ

Artinya : “Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu”. (QS. At-Taubah: 107)

Baca Juga :

Dalam Tafsir Munir dijelaskan, ketika orang-orang munafik membangun masjid dengan tujuan buruk, mereka meminta Nabi Muhammad SAW untuk berkenan sholat didalamnya. Mereka mengatakan bahwa masjid tersebut dibangun bagi orang-orang yang lemah pada saat hujan turun atau malam gelap gulita. Akan tetapi, waktu itu Nabi Muhammad SAW baru akan berangkat untuk melaksanakan Perang Tabuk, maka Nabi Muhammad SAW mennjanjikannya setelah beliau pulang. Sekembalinya Nabi SAW dari perang Tabuk mereka meminta kembali Nabi Muhammad SAW untuk berkenan sholat di sana. Nabi pun mengiyakannya. Sesaat sebelum berangkat, turunlah wahyu di atas. Setelah mendapatkan wahyu tersebut, Nabi memerintahkan para Sahabat untuk meruntuhkan masjid tersebut :

“Kemudian Rasulullah SAW memanggil beberapa Sahabat dan berkata : Datangilah masjid itu, yang para penghuninya telah berbuat dzalim ! Rubuh dan ratakan masjid tersebut ! Para Sahabat pun melaksanakan perintah tersebut”.

Dalil di atas, mereka membuat sebuah analogi, apabila masjid saja jika digunakan untuk berbuat kemungkaran boleh untuk dihancurkan, apalagi tempat-tempat yang dibangun untuk kemaksiatan. Akhirnya mereka kerap kali melakukan perusakan-perusakan pada semua yang mereka sebut melanggar syariat.

Baca Juga :

Ada beberapa kesalahan dari argumen mereka.

Pertama, penghancuran yang terjadi pada zaman Nabi Muhammad SAW tersebut dilakukan atas rekomendasi atau perintah dari pemerintah, yang dalam hal ini adalah Nabi sendiri. Penghancuran tersebut tidak dilakukan oleh para Sahabat secara independen. Berbeda halnya jika dilakukan secara independen, tentu akan menimbulkan mafsadat yakni timbulnya perpecahan. Selain itu hampir dipastikan akan terjadi gejolak dan fitnah di tengah masyarakat. Sebab, akan timbul sikap tidak terima dari pihak yang dirugikan jika perusakan dilakukan bukan oleh pihak yang berwenang.

Kedua, pada kasus masjid Dhirar alasan perintah Nabi untuk menghancurkannya bukan semata karena merupakan tempat kemaksiatan. Akan tetap ada empat alasan :

  • Ada maksud untuk mencelakai
  • Untuk kekufuran
  • Memecah belah umat Islam
  • Menyambut orang yang memerangi Allah SWT.

Yang apabila kita ringkas akan mengerucut pada dua alasan yakni merugikan serta mengancam umat dan agama Islam dan memecah belah persatuan masyarakat.

Jadi, kurang tepat apabila kasus masjid Dhirar secara mutlak dijadikan dasar penghancuran tempat kemaksiatan. Selama tidak memiliki empat alasan seperti yang terdapat pada ayat di atas. Bahkan, jika konsisten terhadap ayat di atas, justru penghancuran serta perusakan dilakukan pada masa sekarang dengan melihat kondisi masyarakat yang ada, akan menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat. Tentu hal tersebut menyalahi maqasid diturunkannya ayat di atas.

Baca Juga :

Lantas, apakah berarti pemerintah boleh melakukan perusakan-perusakan terhadap tempat-tempat kemaksiatan ?

Dalam Ihya’-nya Imam Ghazali berpendapat bahwa perusakan dan penghancuran yang bertujuan menjerakan pelaku kemaksiatan haram dilakukan kecuali memenuhi tiga kriteria :

Pertama, ada sebuah desakan dan tuntunan kuat yang mengharuskan untuk menjerakannya.

Kedua, harus berhubungan langsung dengan kemaksiatan. Seperti contoh, dalam melenyapkan miniman keras diperbolehkan juga menghancurkan botol yang jadi wadahnya. Andai botol tersebut kosong, diharamkan untuk memecahkannya. Maka, perusakan hanya boleh dilakukan jika suatu hal sedang digunakan untuk melakukan kemaksiatan. Jika sesudah atau sebelumnya, maka perusakan mutlak dilarang.

Ketiga, hal ini harus berasal dari keputusan pemerintah. Sebab pemerintahlah yang mampu untuk mengetahui seberapa mendesak penjeraan terhadap mereka diperlukan.

Kemudian Imam Ghazali menambahkan, bahwa hal ini merupakan hal yang sangat rumit dan kompleks, akan tetapi wajib dimengerti oleh pelaku amar ma’ruf nahi mungkar. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : Kritik Ideologi Radikal, Deradikalisasi doktrin keagamaan ekstrem dalam upaya meneguhkan Islam berwawasan kebangsaan. Lirboyo Press 2019