Mengenal Lebih Dekat Sosok Hasan Hasly

Mengenal Lebih Dekat Sosok Hasan Hasly

Kakek yang “Mewariskan” Sebuah Pusdiklat

Dia bernama Hasan Hasly. Dia bukan selebriti sehingga yang mengenalnya tidak terlalu banyak. Tapi, lelaki yang meninggal pada usia 3 tahun itu adalah sosok yang tergolong patut untuk kita teladani. Mengapa?

Hasan muda adalah pengusaha sukses. Dia pernah menjadi Ketua Distributor obat-obatan se-Jawa Timur. Omsetnya miliaran rupiah. Kesuksesan itu dimulai dari bawah. Dari Ambon dia pindah ke Makassar. Lalu, ke Jakarta berbekal hanya sekoper pakaian. Dari Jakarta lantas ke Surabaya dan lalu menuai sukses. Hasan sangat yakin bahwa bekal untuk sukses hidup di akhirat harus dipersiapkan. “Hidup itu hanya sebentar. Sejauh kita pergi, pati akan kembali ke pangkuan Ilahi,” tutur lelaki kelahiran 19 ini,

Kata dia, “Kesuksesan ukhrawi adalah ketika mengorbankan harta dan jiwa untuk Islam”. Dan, dia konsisten. Maka, bisnis dan rumahnya di Surabaya dia tinggalkan. Sebagaian uangnya dia gunakan untuk membeli tanah di sebuah kawasan strategis dan indah di Batu, Malang.

Baca Juga : 

Setelah melakukan survei, dia jatuhkan pilihan ke lokasi yang kemudian di atasnya dibangun berbagai fasilitas layaknya sebuah Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) yang lengkap. Semua fasilitas itu lalu diwakafkannya kepada Hidayatullah, sehingga bernama Pusdiklat Hidayatullah Batu, Malang. “tempat ini saya beri nama Pusdiklat Hidayatullah. Saya akafkan untuk lembaga ini.

Di tanah dengan luas hampir dua hektar itu telah terbangun sejumlah fasilitas. Di tengah-tengahnya berdiri masjid, yang menjadi semacam simbol bahwa “ruh” masjid haruslah menginspirasi semua aktivitas kehidupan kita.

Tepat di barat masjid ada joglo yang multifungsi, misal untuk pertemuan atau ruang makan prasmanan bagi wanita. Lebih ke barat lagi, ada gedung besar yang berisi dua aula yang masing-masing bisa menampung 75 orang. Ada kamar-kamar yang bisa memuat 100 tamu. Di belakangnya, ada dapur dan ruang prasmanan untuk laki-laki.

Sementara, di timur Masjid, ada rumah besar . di rumah ini Hasan dan istrinya tinggal. Sementara, sisa kamar-kamar (yang terpisah dari yang ditinggali Hasan) dipakai untuk tamu-tamu wanita. Di sini bisa untuk 20 tamu. Jadi, Pusdiklat ini dapat menampung  120 tamu, 100 laki-laki dan 0 wanita. Komposisi itu bisa disesuaikan (dibalik), yaitu 20 laki-laki dan 100 wanita.

Pusdiklat itu cukup ideal. Di utara rumah besar tadi ada kolam ikan hias penambah keindahan. Lalu, di belakang rumah besar masih terhampar tanah cukup luas. Di tempat ini -jika dikehendaki- bia didirikan tenda sebagai tempat penampungan saat jumlah tamu-tamu melebihi kapasitas normal. Situasi seperti ini biasa terjadi di saat liburan sekolah. Misal, di ketika banyak sekolah mengadakan Pondok Ramadhan.

Di selatan Masjid, ada areal yang lebih ke bawah, berupa lahan parkir yang memadai. Di areal ini bisa juga dimanfaatkan untuk main bola atau bulu tangkis. Tak jauh dari areal ini berdiri dua bungalo, yang bisa digunakan tamu yang datang sekeluarga (suami, istri, dan tiga anak).

Di utara masjid, agak naik sedikit, ada hutan pinusyang rimbun. Di bawah rerimbunan itu kita bisa menggelar tikar untuk sebuah pengajian atau diskusi. Outbound-pun ideal dilakukan di sini.

Baca Juga : 

Secara keseluruhan, kontur tanah di Pusdiklat yang naik-turun -khas daerah pegunungan- semakin menyempurnakan estetika lokasi ini. Kelebihan lain, lokasi itu tak jauh dari pusat Kota Batu, hanya sekitar 2 km. Karena terletak di ketinggian, jika malam kita bisa memandang jelas kerlap-kerlip lampu di tengah kota. Jika siang, kita bisa melihat Bukit Panderman yang elok tanpa penghalang. Masya Allah!

Dengan fasilitas yang cukup lengkap dan nyaman, tempat ini dikelola secara Islami: shalat tepat waktu, menjaga hijab, dan dilarang merokok. Pusdiklat bisa dipakai untuk berbagai keperluan dalam konteks semacam Wisata Ruhani.

Hasan berpulang pada Kamis 9 Juni 2011, pukul 01.30. istiqamah, disiplin dan tegas adalah semacam tiga “kata kunci” yang bisa dinishbahkan kepada almarhum. Setidaknya, itulah semacam kesimpilan jika kaitkan dengan beberapa kesaksian berikut ini.

Sesaat setelah mengimami shalat jenazah, Ustadz Abdur-rahman –Ketua DPP Hidayatullah 2000-2005 mengatakan bahwa, “almarhum adalah orangtua yang bisa menjadi teladan. Dia tegas dalam bersikap. Di antara pelajaran penting dari almarhum adalah pentingnya bersikap istiqamah. Istri beliau juga sangat mendukung dengan semua kiprah dakwahnya, termasuk ketika mewakafkan Pusdiklat ini kepada Hidayatullah untuk dikembangkan bagi kejayaan umat Islam. di hadapan Allah, perjuagan beliau telah selesai. Tugas kita adalah melanjutkannya. Semoga kepergiannya diganti Allah dengan generasi yang sama baiknya, bahkan lebih baik.”

Memang, seperti kata Ustadz Abdurrahman, almarhum adalah orang tua yang bisa menjadi teladan. Lihatlah, bahkan di saat-saat terakhir, almarhum masih sempat membaca al-Qur’an dengan fasih. Kata Sofyan, salah seorang putra almarhum, sesaat sebelum meninggal, ayahnya dengan suara lantang membaca surat Al-Mulk [67], lengkap 30 ayat.

Lalu, ada “catatan kecil” dari A. Hamid yang telah bertahun-tahun mendampingi Hasan di Pusdiklat Hidayatullah Batu, Malang. Lulusan STAIL Pesantren Hidayatullah Surabaya dan berasal dari Jawa Barat itu pun berkisah:

“Kakek Hasan –demikian salah satu panggilan almarhum- tegas kepad setiap orang yang dianggap tidak disiplin. Kakek Hasan tidak segan-segan untuk menegur seseorang jika dianggap perlu. Dia tidak peduli dengan kapasitas orang yang diingatkannya, apakah orang itu anak-anak, remaja, atau orang tua. Kendati demikian, orang yang dinasehatinya tidak pernah, marah. Bahkan, justru banyak yang berterima kasih karena telah diingatkan. Terbukti di kemudian hari orang tersebut datang lagi untuk memanfaatkan Pusdiklat kembali.”

Baca Juga : 

Hamid menilai bahwa Ustadz Hasan Hasly adalah sosok yang semangat dakwahnya tinggi. Ketika masih sehat, tiap subuh almarhum istiqamah menyampaikan ceramah. Materi yang sering disampaikannya adalah akidah dan akhlak. Dari kumpulan ceramahnya itu, telah dibukukan menjadi dua judul, yaitu Profesional Muslim dan Menu Ruhani.

Masya Allah! Semoga, semangat Ustadz Hasan Hasly dapat kita warisi. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : 50 Pendakwah Pengubah Sejarah, M. Anwar Djaelani. Pro-U Media Jl. Jogokarian 41 Yogyakarta.