Mengenal Lebih Dekat Sosok Hasbi ash-Shiddieqy

Mengenal Lebih Dekat Sosok Hasbi ash-Shiddieqy

Pemikir Besar dari Kota Kecil

Hasbi ash-Shiddieqy ulama terkemuka. Sekalipun berasal dari Lhokseumawe, sebuah kota kecil di Aceh, kontribusinya sangat besar di bidang dakwah dan pendidikan Islam. Berbagai aktivitasnya, baik melalui dunia pergerakan maupun tulisan, adalah teladan yang patutuntuk terus kita hidup-hidupkan.

Nama lengkapnya Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy. Dia lahir pada 10 Maret 1904 dan berasal dari keluarga ulama-pejabat. Nama belakangnya, memang dinishbahkan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. dan  -menurut silsilahnya- Hasbi ash-Shiddieqy adalah keturunan ke-37.

Mulai usia delapan tahun dia sudah nyantri di berbagai pesantren di Aceh. Hasbi ash-Shiddieqy pernah menjadi murid Syaikh al-Kalali, tokoh pembaharu asal Singapura. Lewat Syaikh al-Kalali, Hasbi ash-Shiddieqy mendapat kesempatan “berkenalan” dengan kitab-kitab para ulama seperti Fatawa karya Ibnu Taimiyah dan Zadul Ma’ad karya Ibnu Qayyim.

Baca Juga : 

Hasbi ash-Shiddieqy lalu ke Surabaya belajar kepada Syaikh Ahmad Surkati, di Al-Irsyad. Dia di kelas takhasus selama satu setengah tahun. Di periode ini dia berkesempatan melihat kiprah kaum pembaharu di Jawa yang bergerak secara terorganisasi.

Hasbi ash-Shiddieqy tumbuh menjadi seorang pemikir yang berkelas. Pada 1957, Hasbi ash-Shiddieqy ke Pakistan menghadiri International Islamic Colloquium yang diselenggarakan University of Punjab. Dia menyampaikan makalah: “Sikap Islam terhadap Ilmu Pengetahuan”.

Bisa dibilang Hasbi ash-Shiddieqy berbeda dengan rata-rata intelektual Muslim Indonesia. Kecemerlangan intelektualitas mereka –antara lain bisa ditandai dengan penyampaian ide-ide pembaharuan- baru terlihat setelah mereka pulang dari berhaji atau belajar di Timur Tengah. Tapi, sampai wafat pada Desember 1975, Hasbi ash-Shiddieqy belum berkesempatan berhaji dan menuntut ilmu di Timur Tengah. (Dia meninggal di Asrama Haji Jakarta, sesaat sebelum berangkat berhaji).

Dalam mengusung ide-ide pembaharuan, Hasbi ash-Shiddieqy tampak berani menantang arus. Sikapnya yang tegas, menyebabkan dia dimusuhi, diasingkan, bahkan pernah ditahan oleh pihak yang tidak sepaham.

Ada contoh pengalaman pahit. Di awal kemerdekaan, Hasbi ash-Shiddieqy ditahan oleh Gerakan Revolusi Sosial di Lembah Burnitelong dan Takengon selama satu tahun lebih, tanpa alasan jelas. Hasbi ash-Shiddieqy tidak pernah diintrogasi maupun diadili. Tapi, “Ada kemungkinan karena sikap pembaharuannya”. Ditahanan, Hasbi ash-Shiddieqy berhasil menyelesaikan buku Al-Islam setebal 1.404 halaman dalam dua jilid. Buku ini diterbitkan pada 1951 dan terus dicetak ulang.

Dalam meyakini kebenaran, Hasbi ash-Shiddieqy bisa tampil seperti ‘manusia bebas’. Dalam arti, jika sedang membahas sebuah masalah, bisa aja dia berdialog, berdebat, atau berpolemik dengan kawan-kawan seorganisasinya (dalam hal ini Muhammadiyah dan PERSIS). Dia merasa tidak terbebani oleh pendapat organisasi tempat dia bergabung. Bahkan, berani pula dia berbeda pendapat dengan jumhur ulama, satu sikap langka di saat itu.

Baca Juga : 

Hasbi ash-Shiddieqy produktif menulis. Lebih dari 70 judul buku di berbagai bidang (seperti tafsir, hadis, fikih, dan pedoman ibadah) telah ditulisnya. Sebagian buku-buku itu masih terus dicetak ulang hingga kini.

Berikut ini sebagian karya Hasbi ash-Shiddieqy:

  1. Koleksi Hadis-hadis Hukum, 9 jilid,
  2. Mutiara Hadis 1 (Keimanan),
  3. Mutiara Hadis 2 (Thaharah dan Shalat),
  4. Mutiara Hadis 3 (shalat),
  5. Mutiara Hadis 4 (Jenazah, Zakat, Puasa, Iktikaf, dan Haji),
  6. Mutiara Hadis 5 (Nikah dan Hukum Keluarga, Perbudakan, Jual Beli, Nazar dan Sumpah, Pidana dan Peradilan, Jihad),
  7. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an,
  8. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis,
  9. Sejarah dan Pengantar Ilmu Tafsir,
  10. Islam dan HAM (Hak Asasi Manusia): Dokumenter Politik Pokok-pokok Pikiran Partai Islam dalam sidang Konstituante 4 Februari 1958,
  11. Kriteria antara Sunnah dan Bid’ah,
  12. Pedoman Shalat,
  13. Pedoman Puasa,
  14. Pedoman Zakat,
  15. Pedoman Haji,
  16. Tafsir al-Majid An-Nur.

Di antara karya-karya Hasbi ash-Shiddieqy, Tafsir Al-Qur’an al-Majid An-Nur adalah karyanya yang paling fenomenal. Disebut demikian karena tidak banyak ulama Indonesia yang mampu menghasilkan karya tafsir semacam itu.

Karena kepakarannya dalam ilmu hadis, pada tahun 1960 dia diangkat menjadi Guru Besar di bidang Ilmu Hadis. Sejak itu dia juga menjadi dekan di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta hingga tahun 1972.

Atas prestasi dan jasa-jasanya terhadap perkembangan Perguruan Tinggi Islam dan perkembangan ilmu pengetahuan keislaman di Indonesia, dia dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa oleh Universitas Islam Bandung (UNISBA) dan IAIN Sunan Kalijaga pada tahun yang sama, 1975.

Hasbi ash-Shiddieqy adalah tokoh yang sangat gigih dalam memperjuangkan pendidikan Islam. melihat tanah kelahiran dan sejarah hidupnya, lalu dari sana bisa muncul seorang ulama yang memiliki karya tulis sedemikian banyak, sungguh itu merupakan prestasi yang sangat luar biasa.

Perjalanan intelektualitas Hasbi ash-Shiddieqy cukup mengesankan. Misal, dia bisa menulis banyak buku. Atau, dia bisa menduduki jabatan sebagai Guru Besar dan membimbing banyak sarjana. Bersama prestasinya yang lain, Hasbi ash-Shiddieqy layak untuk disebut sebagai pemikir besar. Hal itu menjadi mungkin terjadi karena kepakarannya. Padahal, kita tahu, dia tak tamat SD dan berasal dari kota yang sangat kecil. Tapi, semangat belajar yang dipunyainyalah yang membedakannya dengan rata-rata orang.

Hasbi ash-Shiddieqy telah membuat sejarah. Buku-buku yang diwariskannya, akan membuatnya “kekal” lantaran buku-buku itu insya Allah masih akan terus dicari dan dibaca sampai ke berbagai generasi sesudahnya.

Baca Juga : 

Pikiran-pikiran Hasbi ash-Shiddieqy masih akan terus dikaji oleh berbagai kalangan. Hasbi ash-Shiddieqy serasa masih “hidup” bersama kita dan terus memberi banyak inspirasi. Misal, “Sekalipun berasal dari kota kecil dan dengan sarana terbatas serta lingkungan yang kerap tak bersahabat, kita tetap berpeluang menjadi “orang besar” yaitu berkontribusi untuk sebesar-besar kemaslahatan umat manusia”. (ir/kuliahislam)

 

Sumber : 50 Pendakwah Pengubah Sejarah, M. Anwar Djaelani. Pro-U Media Jl. Jogokarian 41 Yogyakarta.