Puasa Rajab

Puasa Rajab

Sudah kita ketahui bahwa puasa dalam agama islam tidak hanya puasa wajib saja atau puasa Ramadhan, akan tetapi juga terdapat puasa Sunnah, puasa yang dimakruhkan, bahkan sampai ada puasa yang diharamkan.

Berbeda dengan agama lain seperti kegiatan puasa yang dilakukan oleh agama budha mulai dari puasa sepanjang hayat ataupun puasa 4 hari setiap bulannya. selanjutnya puasa yang dikerjakan oleh agama nasrani protestan mereka berpuasa ketika ada keinginan untuk berpuasa.

Baca lebih lanjut : 4 Agama yang mempunyai syari’at puasa

Dalam agama islam terdapat beberapa bulan yang istemewa yaitu salah satunya bulan rajab, karena pada bulan ini umat muslim diperintahkan rosulullah saw untuk berpuasa sunnah Rajab.

Adapun dalil atau hadis amaliyah puasa bulan rajab sebagai berikut:

hadis puasa rajab 1

Artinya:

Wahai Rasulullah, saya tidak menjumpai Engkau berpuasa di bulan-bulan yang lain sebagaimana Engkau berpuasa di bulan Sya’ban. Rasulullah menjawab: “Sya’ban adalah bulan yang dilupakan oleh orang-orang antara bulan Rajab dan Ramadlan. Bulan  Sya’ban adalah bulan laporan amal kepada Allah. Maka saya senang amal saya dilaporkan sementara saya dalam kondisi berpuasa” (HR Nasai, Abu Dawud dan disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).

Selanjutnya ada pula hadis seorang sahabat yang meminta kepada nabi agar diperintah melakukan puasa, yang artunya sebagai berikut:

hadis puasa rajab 2

Artinya:

Maka Nabi bersabda: “Puasalah di bulan Sabar (Ramadlan) dan dua hari setiap bulan”. Sahabat berkata: ”Tambahkanlah Nabi, saya masih mampu”. Nabi bersabda: “Puasalah tiga hari”. Sahabat berkata: “Tambahkanlah Nabi”. Maka Nabi bersabda: “Puasalah di bulan-bulan mulia dan tinggalkan. Puasalah di bulan-bulan mulia dan tinggalkan. Puasalah di bulan-bulan mulia dan tinggalkan (diulang tiga kali. Rasulullah menggenggam tangannya lalu melepaskannya)” (HR Ahmad No 20338, Abu Dawud No 2428, Ibnu Majah No 1741, Nasai dalam Sunan al-Kubra No 2743, Thabrani No 18336 dan al Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 3738).

Dalam I‘anatut Tholibin, Sayid Bakri bin M Sayid Syatho Dimyathi mengemukakan sejumlah catatan soal Rajab sebagai salah satu bulan mulia di sisi Allah dan Rasulnya.

Rajab merupakan derivasi dari kata “tarjib” yang berarti memuliakan. Masyarakat Arab zaman dahulu memuliakan Rajab melebihi bulan lainnya. Rajab biasa juga disebut “Al-Ashobb” karena derasnya tetesan kebaikan pada bulan ini. Ia bisa juga dipanggil “Al-Ashomm” karena tidak terdengar gemerincing senjata untuk berkelahi pada bulan ini. Boleh jadi juga disebut “Rajam” karena musuh dan setan-setan itu dilempari sehingga mereka tidak jadi menyakiti para wali dan orang-orang saleh.

Adapun pelaksanaan puasa bulan rajab tidak ada batasan berapa hari yang baik untuk dipuasai. Namun menyesuaikan dengan batas kemampuan setiap orang. Bisa satu hari, tiga hari, satu minggu, dua minggu, atau bahkan satu bulan penuh.

Mengingat besarnya keutamaan puasa Sunnah bulan rajab, alangkah baiknya sebagai umat muslim melaksanakan puasa Sunnah rajab. Berikut lafal niat puasa rajab:

niat puasa rajab malam hari

 

Artinya:

“ aku berniat puasa Sunnah rajab esok hari karena allah swt”.

Patut diingat kembali bahwa puasa rajab merupakan puasa yang hukumnya Sunnah, dengan hal tersebut apabila seorang lupa melakukan niat dimalam hari, maka niat boleh dilakukan disiang hari sejauh yang bersangkutan belum makan, minum, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa sejak subuh.

Karena kewajiban niat di malam hari hanya berlaku untuk puasa wajib.

Berikut lafal niat puasa rajab di siang hari:

niat puasa rajab siang hari

 

Artinya:

“ aku berniat puasa Sunnah rajab hari ini karena allah swt”.

Selain melaksanakan Sunnah puasa rajab, umat muslim juga dianjurkan untuk puasa dibulan-bulan lain seperti bulan Sya’ban, Muharram, Dzulqo’dah dan Dzulhijjah.

Anjuran puasa Sunnah pada bulan-bulan tersebut, diterangkan oleh Syekh Nawawi Banten, yang artinya sebagai berikut:

“Kesepuluh puasa pada bulan-bulan terhormat, yaitu empat bulan: Muharram, Rajab, Dzulqa‘dah, dan Dzulhijjah. Bulan paling utama adalah Ramadhan, kemudian Muharram, lalu Rajab, selanjutnya Dzulhijjah, kemudian Dzulqa‘dah, lalu Sya‘ban. Ucapan mereka dilihat secara zahir mengatakan bahwa pada bulan selain yang disebutkan kesunahannya sama, ” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 2002 M/1422 H], cetakan pertama, halaman 192). (novia_khil/kuliahislam)

SUMBER:

NUONLINE

ASWAJANUJATIM

banjarmasintribunnews (image).

Baca Juga: