Sang Pemabuk

Sang Pemabuk

Pada suatu hari Ma’ruf berjalan bersama-sama muridnya, dan bertemu dengan serombongan anak muda yang sedang menuju ke Sungai Tigris. Disepanjang perjalanan anak muda itu bernyanyi sambil mabuk.

Para murid Ma’ruf mendesak agar gurunya berdoa kepada Allah sehingga anak-anak muda mendapat balasan setimpal. Maka Ma’ruf pun menyuruh murid-muridnya menengadahkan tangan lalu ia berdoa.

 

“Ya Allah, sebagaimana engkau telah memberikan kepada mereka kebahagiaan di dunia, berikan pula kepada mereka kebahagiaan di akherat nanti.”

 

Tentu saja murid-muridnya tidak mengerti. “Tunggulah sebentar, kalian akan mengetahui rahasianya,” ujar Ma’ruf.

Beberapa saat kemudian, ketika para pemuda itu melihat ke arah Syekh Ma’ruf, mereka segera memecahkan botol-botol anggur yang sedang mereka minum. Dengan gemetar mereka menjatuhkan diri di depan Ma’ruf dan bertobat. Lalu kata Syekh Ma’ruf kepada muridnya.

 

“Kalian saksikan, betapa doa kalian dikabulkan tanpa membenamkan dan mencelakakan seorang pun juga.”

 

Ma’ruf mempunyai seorang paman yang menjadi Gubernur.

 

Suatu hari sang Gubernur melihat Ma’ruf sedang makan Roti, bergantian dengan seekor Anjing. Menyaksikan itu pamannya berseru.

 

“Tidakkah engkau malu makan roti bersama seekor Anjing?”

 

Maka sahut Ma’ruf, “Justru karena punya rasa malulah aku memberikan sepotong roti kepada yang miskin.”

 

Kemudian ia menengadahkan kepala dan memanggil seekor burung, beberapa saat kemudian, seekor burung menukik dan hinggap di tangan Ma’ruf.

Lalu katanya kepada sang paman.

 

“Jika seseorang malu kepada Allah SWT, segala sesuatu akan malu pada dirinya.”

 

Mendengar itu, pamannya terdiam, tak dapat berkata apa-apa.

 

Nama sufi ini tidak terlalu populer, meski sama-sama berasal dari Irak. Namanya tak sepopuleh Syekh Abdul Qadir Jailani, Manshur Al-Hallaj, atau Junaid Al-Baghdadi.

 

Dialah Ma’ruf Al-Kharqi, salah seorang sufi penggagas paham cinta dalam dunia Tasawuf. Jiwanya selalu diselimuti rasa rindu yang luar biasa kepada sang Khalik.

 

Tak salah jika ia menjadi panutan generasi sufi sesudahnya. Banyak sufi besar seperti Sarry Al-Saqaty, yang terpengaruh gagasan-gagasannya. Ia juga diangap sebagai salah seorang sufi penerus Rabi’ah Al-Adawiyah sang pelopor mazhab Cinta.

 

Nama lengkapnya Abu Mahfudz Ma’ruf bin Firus Al-Karkhi. Meski lama menetap di Baghdad, Irak, ia sesungguhnya berasal dari Persia, Iran. Hidup di zaman kejayaan Khalifah Harun Al-Rasyid dinasti Abbasiyah.

 

Perhatikan komentar Sarry As-Saqaty, salah seorang muridnya.

 

“Aku pernah bermimpi melihat Al-Kharqi bertamu di Arasy, waktu itu Allah bertanya kepada Malaikat,

 

Siapakah dia?

 

Malaikat menjawab, “Engkau lebih mengetahui wahai Allah,”

 

Maka Allah SWT berfirman,

Dia adalah Ma’ruf Al-Kharqi, yang sedang mabuk cinta kepadaku.” (hak/kuliahislam)

 

Sumber : Kisah Teladan Ulama