Syarat Wajib Zakat Emas dan Perak

Syarat Wajib Zakat Emas dan Perak

Kuliah islam sebelumnya sudah menjelaskan tentang zakat, terutama zakat harta yang mulai di fardhukan pada tahun ke dua Hijriah, yaitu sesudah kefardhuan shadaqah fitrah.

Zakat wajib ditunaikan pada delapan macam harta, diantaranya ada emas dan perak yang diberikan kepada delapan golongan manusia atau mustahiq.

Dalam pelaksanaan zakat tersebut tentunya terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi, sehingga zakat yang dilaksanakan menjadi sah.

Adapun syarat-syarat diwajibkan zakat emas dan perak, antara lain:

  1. Islam
  2. Merdeka
  3. Milik yang sempurna
  4. Sampai satu nishab
  5. Sampai satu tahun di simpan

Firman Allah Swt tentang emas dan perak dal Al Qur’an surat At Taubah ayat 34:

surat at taubah ayat 34

 

 

 

 

 

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya banyak dari orang-orang alim dan rahib-rahib mereka benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil, dan (mereka) menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang menyimpan emas dan perak, dan tidak menafkahkan nya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksaan yang pedih”. (Q.S. At Taubah:34).

Penjelasan syarat wajib zakat emas perak yang diatas yaitu, tidak termasuk syarat wajib harta dagangan adalah sempurnanya jumlah satu nishab emas dan perak selama satu tahun.

Tidak pernah berkurang dari jumlah nishab (yang sudah diterangkan dalam artikel zakat emas dan perak) dalam masa-masa selama satu tahun.

Mengenai zakat harta dagangan, maka hal ini tidak menjadi syaratnya, hanya pada akhir tahunlah hal itu dipersyaratkan, karena disinilah masa kewajiban itu terjadi.

Haul terputus sebab terjadi hilangnya status kepemilikan (atas emas dan perak) ditengah-tengah masa satu tahun, baik lantaran penukaran atau lainnya.

Akan tetapi apabila seseorang memiliki satu nishab emas perak, dan setelah 6 bulan dimilikinya ia hutangkan kepada orang lain, maka haul tidak terputus, kemudian jika penghutang itu kaya atau satu nishab tadi telah kembali kepadanya.

Ia pun wajib mengeluarkan zakatnya pada akhir tahun, karena hak milik tidak pernah hilang secara keseluruhan, sebab masih adanya pengganti pada tanggungan sang penghutang.

Hukumnya makruh apabila menghilangkan status kepemilikannya dengan cara menjual atas harta yang terkena zakat, dengan tujuan Khilah, yaitu bermaksud menghindari kewajiban zakat, karena perebuatan tersebut menghindari ibadah.

Dalam al Wajiz disebutkan bahwa hal tersebut hukumnya adalah haram. Al Ghazali dalam al Ihya’ menambahkan : secara batin, tanggungan zakatnya belum bebas. Dan itu termasuk fiqh yang berbahaya. Ibnu ash Sholah berkata: dosanya terletak pada maksudnya, bukan semata-mata bukan pada perbuatannya.

Jika ia bermaksud untuk khilah tetapi karena ada kebutuhan, atau karena ada kebutuhan dan karena menghindari ibadah maka tidak dihukumi makruh.

Tidak wajib zakat terhadap Syairafi (pedagang uang) yang menukarkan uang yang ada di tangannya dengan uang lain dalam jenis sama ataupun jenis lain ditengah tahun perdagangan sekalipun hal itu untuk berdagang.

Demikian pula dengan ahli waris juga tidak terkena kewajiban zakat dagangan dari muwarrits (orang yang diwarisi harta) yang mati sampai ahli waris sendiri mentasarrufkan harta dagangan warisan itu dengan niat berdagang, maka dalam hal ini ia memulai kembali hitungan haul perdagangannya.

Kewajiban zakat juga tidak terjadi pada perhiasan yang diperbolehkan, sekalipun barang tersebut dibuat oleh lelaki tidak dengan maksud untuk dipakai atau yang lan, atau dibuat untuk disewakan atau dipinjamkan kepada seorang wanita atau permpuan. Kecuali bila dibuat untuk maksud disimpan, maka dikenakan kewajiban zakat.

(info terkait emas dan perak) boleh bagi seorang laki-laki menghiasi alat perang dengan perak tanpa berlebih-lebihan. Misalnya pedang, tombak, perisai, sarung pedang, pisau perang bukan pisau dapur, bukan pemotong kuku, karena hal tersebut bisa membuat gentar orang kafir.

Tidak boleh menghiasi dengan emas, sebab terlalu berlebih-lebihan dan angkuh. Sedangkan hadits yang menyatakan boleh adalah dinilai Dla’if oleh Ibnu Qathathan, sekalipun at Turmudzi menganggapnya Hasan.

Bagi laki-laki boleh menghiasi mushafnya dengan menggunakan perak. Maksudnya yaitu segala sesuatu yang ada tulisan al Qur’annya, sekalipun hanya untuk tabarruk, seperti sampul mushaf.

Bagi kaum perempuan boleh menghiasi mushaf dengan emas. Keduanya (laki-laki menghiasi dengan perak dan wanita dengan emas) diperbolehkan karena untuk memuliakannya.

Menulis mushaf dengan tinta emas adalah bagus, sekalipun dilakukan oleh orang laki-laki. Tidak boleh menghias kitab orang lain, sekalipun memakai perak.

Menyepuh hukumnya harap secara pasti, dan mutlak. Kemudian jika sepuhan tersebut dibakar dengan api dapat mengeluarkan sesuatu dari emas tersebut maka haram membiarkannya.

Kalua tidak, maka tidaklah haram sekalipun mengenai bada, berbeda dengan pendapat segolongan ulama’.

Halal emas, perak tanpa berlebih-lebihan bagi orang perempuan, anak kecil, Ijma’, dipakai untuk semacam gelang, keroncong, sandal, dan kalung.

Menurut pendapat yang lebih shahih, halal pun bagi mereka kain benang berbendang emas dan perak. Halal bagi kaum perempuan memakai mahkota sekalipun tidak biasa. Dan halal secara pasti kalung yang terdapat dinar yang dilungi.

Kewajiban zakat tidak mengenai gelang, kalung dan sebagainya. Adapun yang berlebih-lebihhan maka tidaklah halal dipakai, seperti keroncong emas yang jumlah emas murni keduannya mencapai 20 Mitsqal. Maka disini dikenakan kewajiban zakat. Dan wajib atas orang-orang di atas (muslim merdeka). (novia_khil/kuliahislam).

Baca Juga:

SUMBER:

Rasjid, Sulaiman. 2018. Fiqh Islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari. Fathul Mu’in. diterjemahkan oleh Hakim, Fikril & Abu Sholahuddin. 2014. Jawa Timur: Lirboyo Press.

theonlyquran