Zakat Emas dan Perak

Zakat Emas dan Perak

Zakat emas dan perak pernah dijelaskan sekilas dalam kuliah islam sebelumnya yang berjudul hukum-hukum zakat. Untuk lebih jelasnya simak penjelasan lebih lanjut tentang zakat emas, perak.

Menurut bahasa zakat adalah “membersihkan” dan “berkembang”, sedangkan menurut istilah atau syara’ merupakan nama sesuatu yang dikeluarkan dari harta atau badan dengan ketentuan tertentu.

Zakat harta mulai di fardhukan pada tahun ke dua Hijriah, yaitu sesudah kefardhuan shadaqah fitrah. Zakat wajib ditunaikan pada delapan macam harta: emas, perak, binatag ternak, makanan yang menguatkan, buah kurma dan anggur, yang diberikan kepada delapan golongan manusia atau mustahiq.

Baca Juga:

Orang yang menentang kewajiban zakat dihukumi kafir, yang enggan menunaikannya diperangi dan dipungut zakat dari padanya secara paksa, sekalipun ia tidak memerangi.

Wajib zakat atas setiap muslim, sekalipun belum mukallaf. Maka bagi sang wali wajib mengeluarkan zakat dari hartanya sendiri.

Penjelasan diatas bahwa zakat yang wajib ditunaikan diantaranya ada emas. Di dalam emas yang jumlah murninya mencapai 20 Mitsqal, menurut timbangan Makkah dalam batas pastinya tidak kurang tidak lebih, sekalipun emas tersebut belum dicetak.

Baca juga:

Dalam hal ini berselisih dengan pendapat yang mengkhususkannya emas yang telah dicetak. Apabila dalam suatu timbangan tidak mencapai jumlah tersebut, sedangkan menurut timbangan yang lain telah mencapai, maka tidak terkena zakat, karena adanya keraguan.

Satu Mitsqal adalah 72 biji gandum yang sedang. Syekh Zakaria berkata: Timbangan Nishab (ukuran minimal mulai terkena zakat) emas menurut timbangan al-Asyrafi adalah 25 Asyrafi +2/7 + 1/9 = 25 25/63 (dua puluh lima, dua puluh lima per enam puluh tiga).

Kemudian murid asy-Syeikh Zakaria yaitu Ibnu Hajar al-Haitami berkata: yang dimaksud dengan al-Asyrafi adalah al-Qaitabai.

Selain zakat emas, zakat yang wajib ditunaikan selanjutnya yaitu zakat perak. Wajib zakat perak ketika telah mencapai jumlah 20 Dirham menurut timbangan Makkah, yaitu 550 biji gandum. Jadi 10 Dirham adalah sama dengan 7 Mitsqal.

Baca Juga:

Dalam masalah emas dan perak tidak waqash (tidak ada ampunan dalam emas dan perak, maka kadar yang lebih dari nishabnya walaupun sedikit wajib untuk dikeluarkan zakatnya. I’anah Thalibin Juz 2 Hal. 177 Drul Fikr).

Sebagaimana dalam mengeluarkan zakat mu’asyarat (makanan yang menguatkan dan buah-buahan yang diwajibkan zakat 1/10 nya). Maka zakat wajib dikeluarkan dari emas yang mencapai 25 Mitsqal, perak yang mencapai 200 Dirham, dan juga selebihnya sekalipun hanya sebagian biji gandum.

Zakat emas dan perak sebesar 1/40 = 2,5%. Logam satu (emas atau perak), tidak bisa disempurnakan nishabnya dengan dijumlahkan dengan logam lainnya, akan tetapi bisa disempurnakan nishabnya dengan menjumlahkan dari berbagai macam kualitas dalam satu jenis logam.

Logam yang berkualitas buruk dan pecah-pecah bisa disempurnakan nishabnya dengan logam yang bagus, bahkan seperti ini yang lebih utama, bukan sebaliknya.

Tidak termasuk emas murni, yaitu emas yang dicampur dengan logam lain. Emas ini tidak terkena zakat, kecuali setelah jumlah murninya mencapai nishab.

(Info terkait emas dan perak). Boleh bagi kaum laki-laki memakai cincin perak. Bahkan sunah memakainya pada jari kelingking tangan atau kiri (jika dijari lainnya maka hukumnya makruh atau sebagian pendapat hukumnya haram. I’anah Thalibin Juz 2 Hal. 177 Drul Fikr) sebab mengikuti Rosulullah saw.

Memakainya ditangan kanan lebih utama. Al-Adzra’I membenarkan isi pembicaraan Ibnu Rif’ah bahwa cincin perak tersebut wajib kurang dari satu Mitsqal, karena pembuatannya seberat satu Mitsqal :

Sanadnya Hasan, tetapi didla’ifkan oleh an-Nawawi, maka pendapat yang Aujah, cincin perak itu tidak dibatasi satu mitsqal, tetapi sampai dengan batas tidak dianggapnya berlebihan menurut urf. (novia_khil/kuliahislam).

 

SUMBER:

Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari. Fathul Mu’in. diterjemahkan oleh Hakim, Fikril & Abu Sholahuddin. 2014. Jawa Timur: Lirboyo Press.